
Daniel menoleh ke arah pintu di mana suara panggilan itu bersumber. Di ambang pintu sudah ada Aris bersama Gembul. Raut wajah yang biasanya datar itu mendadak terlihat merah setelah aksinya beberapa detik lalu tertangkap basah.
“Kamu?” ucapnya heran. Padahal belum lima menit lalu ia berbicara dengan Aris di telepon. “Bagaimana kamu sampai secepat ini?”
“Aku sudah sudah di luar sejak tadi bersama Kania. Kamu saja yang terlalu serius sampai tidak sadar.” Aris melangkah masuk dan berdiri tepat di samping Daniel. “Bagaimana keadaan Rani?”
“Demamnya sudah turun.” Daniel meraih alat bantu berjalan yang diletakkan di samping lemari, lalu menyematkan di antara lengannya. “Mbul, aku harus pergi bersama Aris. Titip Rani, ya.”
“Tidak kamu titip pun aku akan selalu menjaganya seperti yang kulakukan selama ini!”
Hati Daniel mencelos mendengar intonasi Gembul yang selalu meninggi jika berbicara dengannya. Namun, ia paham kemarahan wanita itu terhadapnya masih menggunung.
“Baiklah, aku pergi dulu. Kalau ada perkembangan apapun tolong kabari aku.”
Gembul tak lagi menyahut. Ia memilih duduk sambil mengelus puncak kepala adik sepupunya itu.
Setelah memastikan semua baik-bik saja, Daniel dan Aris bergerak meninggalkan rumah sakit.
............
Perlahan kelopak mata Rani mulai terbuka. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah sepasang mata berkaca-kaca yang menatapnya penuh khawatir. Rani meneliti keadaan sekitar. Alisnya nampak berkerut setelah menyadari sedang berada di tempat asing.
“Aku di mana?” tanyanya dengan suara masih terdengar lemah.
“Kamu di rumah sakit.”
Semakin terlihat dalam saja kerutan di kening Rani. Pikirannya langsung dipenuhi pertanyaan. Apa lagi saat merasakan perih di bagian perut saat tubuhnya bergerak. “Memangnya aku kenapa, Mbul?”
“Tidak apa-apa.” Gembul berusaha menenangkan. “Cuma usus buntu, jadi semalam kamu menjalani operasi. Setelah ini, kamu akan baik-baik saja.”
__ADS_1
Rani mengangguk pasrah. Tapi tunggu! Tiba-tiba ia teringat satu hal. “Operasi? Tapi, Mbul ...,” ucapnya lirih.
“Kenapa?”
“Biaya operasinya dari mana? Kamu tahu kan, aku tidak punya uang lagi.” Rani kembali meneliti ruangan tempatnya di rawat. Dari fasilitas yang ada di ruangan itu, ia dapat menebak sedang berada di ruang VVIP. Rani tidak berani membayangkan berapa jumlah yang harus dibayar.
“Jangan khawatir, semua sudah beres.”
“Tapi kamu dapat uang dari mana?”
“Tidak usah pikirkan dari mana aku dapat uangnya. Pokoknya semua sudah beres,” ucapnya menenangkan.
Gembul memilih menyembunyikan dari Rani bahwa Aris sudah mengurus semuanya atas permintaan Daniel. Karena jika Rani tahu, ia pasti akan menolak.
Sikap Daniel dan ucapannya yang selalu kasar selama ini membuat Rani menyerah dan memilih menutup hatinya.
............
Pemberitaan di sosial media tiada hentinya, lengkap dengan hujatan-hujatan yang tidak manusiawi dari masyarakat. Rasanya Rani tak punya daya lagi untuk bertahan.
Melihat pancaran penuh luka dari wajah sepupunya itu, Gembul segera merebut ponsel. Akan lebih baik untuk saat ini jika Rani dijauhkan dari hal-hal yang akan membuatnya stres, termasuk ponsel.
“Aku kan sudah bilang jangan buka sosmed! Kamu akan stres sendiri nantinya,” gerutu Gembul sambil memasukkan ponsel milik Rani ke dalam laci.
Selama beberapa saat Rani terdiam, sebelum akhirnya terdengar isak tangis hingga meninggalkan suara sesegukan. Rani yang biasanya tidak menghiraukan hujatan semua orang kini menunjukkan sisi lemahnya.
“Aku capek, Mbul,” lirihnya sambil terisak-isak. “Kamu lihat sekarang, ke mana pun aku pergi, semua orang memandang rendah aku. Mereka merasa berhak menghakimi aku.”
Tak ada yang dapat dilakukan Gembul selain memeluk Rani. Ia pun merasakan dampak yang sangat besar sejak beredarnya video syur tersebut. Semua teman-teman Rani mulai menjauh, ke mana pun ia pergi selalu dipandang sebagai virus yang harus dijauhi.
__ADS_1
“Semua akan terungkap dengan sendirinya. Kamu hanya perlu bersabar.”
Gembul masih memeluk Rani sambil mengusap punggungnya ketika pintu tiba-tiba terbuka dan memunculkan sosok Jovan. Pria itu masuk dengan tergesa-gesa seperti sedang dikejar sesuatu, juga dengan wajah sedikit memucat.
“Kamu kenapa, Van?” tanya Gembul.
“Di bawah banyak wartawan. Sepertinya kabar Rani masuk rumah sakit sudah tercium media. Selain itu ada perwakilan dari MS dan beberapa perusahaan lain. Mereka mendesak mau bicara dengan Rani.”
Gembul menghela napas kasar mendengar nama perusahaan yang baru saja disebut Jovan. “Apa mereka tidak punya rasa kemanusiaan? Rani sedang sakit, Van! Bisa-bisanya mereka datang ke mari untuk menagih.”
“Aku tahu. Tapi katanya mereka juga harus membayar ganti rugi untuk biaya produksi. Makanya mendesak.”
Gembul melepas pelukannya dari tubuh Rani. “Kamu tenang saja, Ran ... biar aku yang hadapi mereka.”
Kala Gembul akan melangkah dengan kemarahan meluap-luap, Rani langsung menahan tangannya. Ia tahu persis seperti apa sepupunya itu, yang kadang sulit mengendalikan diri saat sedang marah.
“Jangan, Mbul. Kalau kamu pakai kekerasan, itu akan semakin memperburuk posisi kita.”
"Tapi memang hanya cara seperti itu yang cocok untuk mereka!"
"Tenang dulu, Mbul." Jovan turut menghentikan Gembul. "Sebenarnya masih ada cara untuk keluar dari masalah ini."
“Cara apa?” tanya Gembul seolah tak sabar.
Raut wajah Jovan pun menjadi serius. Menatap Rani dan Gembul bergantian. “Ran ... kamu masih ingat syarat yang diajukan Pak Juna untuk meminjamkan kamu uang?”
Rani terdiam selama beberapa saat. Ia teringat sebuah syarat berat yang diajukan Juna saat Rani ingin meminjam sejumlah uang darinya.
............
__ADS_1