
Mata Daniel menyala memancarkan api kemarahan. Seolah tatapan itu mampu membakar habis tubuh Elana hingga menjadi abu.
“Aku benar-benar berharap tidak pernah mendengar semua ini. Pengkhianat!”
Suara teriakan Daniel menggema. Tangannya terkepal kuat demi menahan amarah yang seperti akan meledak. Jika saja Elana adalah seorang pria, Daniel pasti sudah menghadiahkan kepalan tinju ke wajah mulusnya. Tak peduli walaupun ia adalah sahabatnya sejak kecil.
Ingatan Daniel seketika berputar ke masa lalu. Ia masih ingat di masa kecil dulu. Ia yang memiliki kepribadian pemalu dan tertutup tak memiliki seorang pun untuk dijadikan teman. Elana yang bertetangga dengannya adalah satu-satunya anak yang mau berteman dengan anak culun sepertinya.
“Kamu tahu, El ... selama ini aku menganggap kamu seperti adikku sendiri.”
Elana membeku menatap ke dalam mata Daniel. Dulu, sepasang mata itu menatapnya lembut, perlakuannya hangat, layaknya seorang kakak kepada adiknya. Namun, yang ada sekarang adalah tatapan kebencian yang sialnya semakin lama semakin jelas terlihat.
Bahkan Daniel baru saja membentaknya. Hal yang mampu membuat sepasang mata indah milik Elana berkaca-kaca, hingga melelehkan kristal bening.
Sementara Jovan terpaku di tempat. Jika bisa, ia akan melarikan diri sekarang juga. Namun, tubuh kokoh Aris berada tepat di ambang pintu. Jika ia nekat, Aris pasti akan menghajarnya habis-habisan. Jovan cukup tahu kemampuan bela diri Aris, karena itulah ia dipilih untuk menjaga dan menemani Daniel kemanapun.
“Daniel ... aku bisa jelaskan semua ini,” lirih Elana.
__ADS_1
Kakinya bergerak maju untuk menjangkau Daniel. Namun, langkahnya seketika terhenti saat tatapan Daniel kembali menikamnya.
“Bukannya tadi kamu sudah menjelaskan semuanya?”
Tubuh Elana seperti tersengat aliran listrik. Intonasi Daniel yang dingin dan menekan membuatnya tak berkutik. Daniel bahkan tak sudi lagi mendengar penjelasan apapun. Membuat wanita itu hanya dapat menundukkan kepala, dengan jemari yang saling meremas.
Daniel menolehkan kepala demi menatap pria yang berdiri di belakang punggungnya. “Aris, aku mau mereka di proses secara hukum. Seret semua orang yang terlibat dalam masalah ini! Mereka harus bertanggungjawab dan membersihkan nama Rani!”
“Baik!” jawab Aris singkat, tanpa sebuah sanggahan.
Tubuh Elana langsung bersimpuh di kaki Daniel. Memeluk kedua lututnya erat. Biasanya, Daniel akan luluh jika Elana meminta sesuatu. “Daniel ... aku tahu aku salah. Aku melakukan semua ini karena aku mencintai kamu. Aku tidak rela kamu menjadi milik orang lain.”
“Kamu sudah tidak waras.”
Melihat kesempatan yang ada, Jovan pun berusaha memanfaatkan dengan berlari ke dalam rumah. Ia berencana akan melarikan diri melalui pintu belakang. Nahas baginya, Aris menarik bagian belakang kemejanya, hingga pria itu terhuyung mundur.
“Di mana Rani sekarang?” Aris menggertakkan giginya geram. “Di mana?” teriaknya memekik ketika Jovan masih terdiam.
__ADS_1
“A-aku tidak tahu!” Tangan Aris terkepal siap untuk meninju. Jovan bereaksi cepat dengan melindungi wajahnya dengan kedua tangan. “Aku benar-benar tidak tahu, sumpah!”
Rahang Aris mengeras. Sorot matanya memancarkan amarah. “Bangs*at!”
Bugh!
Satu kepalan tinju Aris membuat Jovan tersungkur ke lantai, lengkap dengan darah segar yang mengalir dari hidung. Dalam hitungan detik, Jovan sudah kehilangan kesadarannya.
“Cih, cemen! Baru satu kali pukul sudah tepar!” cibirnya dengan senyum miring.
Kurang dari lima belas menit, kawanan pria berpakaian hitam telah tiba di rumah itu. Aris yang selalu bergerak cepat, sebelumnya telah menghubungi beberapa bawahannya.
“Seret mereka ke kantor polisi!” perintahnya seraya menunjuk Elana dan Jovan.
Beberapa di antaranya sempat terdiam beberapa saat setelah melihat sosok wanita yang masih berlutut sambi menangis di hadapan Daniel. Ya, itu Elana. Siapa yang akan berani menangkap sosok wanita yang setahu mereka paling dekat dengan Daniel.
“Tunggu apa lagi, cepat bawa mereka!” perintah Aris sekali lagi. Mereka baru bergerak, saat Daniel memberi isyarat dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Kala Elana disergap dua pria bertubuh besar, sepasang matanya menatap Daniel nanar. Ingin memberontak, namun cengkraman yang membekuk tubuhnya terlampau kuat.
.............