Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)

Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)
Tetangga Yang Aneh


__ADS_3

"Oh ya, kemarin kamu bilang sudah menikah. Lalu di mana suamimu sekarang?" tanya Damian.


Sepasang bola mata indah milik Rani mendadak basah mendengar pertanyaan itu.


"Aku tidak tahu. Sudah satu tahun lebih kami tidak bertemu," jawabnya sambil mengusap ujung matanya. Ia tak ingin Angel melihatnya menangis.


“Memangnya ada masalah apa antara kamu dan dia?” Damian penasaran. Sebab selama ini wanita di hadapannya cenderung tertutup.


"Maaf, aku tidak bisa cerita lebih dalam. Ada banyak hal yang terjadi di antara kami, dan itu terlalu menyakitkan."


“Apa itu artinya kamu masih mencintai dia?”


Rani kembali membungkam. Jika ditanya tentang cinta, jawabannya tentu saja masih. Karena sampai saat ini belum ada yang mampu menggantikan posisi Daniel di hatinya. Entah Rani yang tidak mau membuka hatinya untuk yang lain, ataukah memang nama Daniel sudah terpatri di hatinya.


"Tidak ada gunanya mencintai kalau tidak ada kepercayaan. Benar, kan?" lirihnya.


Damian mengangguk setuju. "Kamu benar. Maaf, aku tidak bermaksud menggali luka hatimu."


"Tidak apa-apa."


Pria Eropa itu meraih jemari Rani. Menggenggamnya erat. Tetapi Rani langsung menarik tangannya.


"Aurora, tolong pertimbangkan lagi ucapanku kemarin. Aku dan Angel membutuhkan kamu."


Seulas senyum tipis terbit di bibir Rani. Meski raut kesedihan dalam tatapannya tak terbantahkan.


...........


Di dapur ....


Sepanjang memasak, Daniel terus menggerutu kesal. Kala spatula di tangannya terus bergerak di permukaan penggorengan, sorot matanya malah tertuju pada tempat lain.

__ADS_1


Sangat menyebalkan.


Bunyi peralatan memasak yang nyaring seolah mampu menggambarkan suasana hatinya saat ini. Sehingga omelet buatannya tak berbentuk lagi.


Licik sekali ... dia menggunakan anaknya untuk mendekati Rani.


Daniel baru mematikan kompor saat mencium bau tak sedap, disusul dengan kepulan asap putih.


Gosong!


Brak! Ia menghempas penggorengan ke wastafel, hingga membuat Gembul yang berada di ruang televisi terlonjak.


"Heh, sebenarnya kamu kemari untuk meminjam atau menghancurkan barang-barang di sini?"


Daniel mendengus kesal, sambil melirik ke arah ruang tengah. Gembul baru saja menghadiahinya pelototan mata.


"Maaf, tidak sengaja!"


Daniel memasukkan omelet ke dalam wadah, lalu beranjak menuju pintu sambil sesekali melirik Damian.


Saking kesalnya, ia menutup pintu dengan membantingnya kasar, membuat penghuni di dalamnya terlonjak.


"Tetangga baru kalian itu culun sekali, ya. Penampilannya juga sangat kolot," ujar Damian dengan tawa kecil. "Aku tidak percaya ada orang berpenampilan seperti itu di zaman modern seperti sekarang."


"Itu tidak seberapa." Gembul tiba-tiba datang dan menyela, lalu duduk di sudut sofa lain. "Ada yang lebih aneh lagi. Misalnya orang yang bertamu malam-malam dan lupa jalan pulang."


Raut wajah Damian mendadak berubah mendengar sindiran menohok Gembul. Ia melirik arloji yang melingkari pergelangan tangannya, lalu menghela napas panjang.


"Emh, maaf, sepertinya sudah malam. Aku harus segera pulang. Angel juga sepertinya sudah mengantuk." Ia tersenyum seadanya. "Angel, ayo kita pulang dulu."


"Iya, kasihan Angel. Sepertinya sudah mengantuk," tambah Gembul. Masih dengan nada tak bersahabat.

__ADS_1


Kala Angel mendekat, Damian langsung menggendong putrinya itu. Setelah berpamitan, ia buru-buru keluar dari apartemen.


"Akhirnya dia pulang juga," ucap Gembul.


"Tidak tahu kenapa, sejak awal aku tidak suka Damian. Aku melihat sesuatu yang aneh dari dirinya."


"Aneh apanya?" tanya Rani.


"Kamu tidak merasa kalau dia terlalu memaksa. Satu lagi, aku benci caranya memandangimu."


"Selain itu dia terkesan sedang memanfaatkan anaknya untuk menarik simpatimu."


"Jangan suuzon sama orang, Mbul."


"Sejak kejadian dengan Jovan, aku tidak bisa percaya dengan orang lain lagi. Jovan yang dekat dengan kita saja bisa menjadi pengkhianat. Apa lagi yang baru kenal."


Rani hanya merespon dengan bahu terangkat.


............


Daniel menyandarkan punggungnya di sisi jendela kamar dengan pandangan terarah pada pemandangan kota Sidney.


Pria itu belum mampu memejamkan mata. Ucapan Rani tadi masih membekas di ingatannya.


Baru saja Daniel akan meneguk minuman dingin di tangannya, sudah terdengar suara ketukan pintu.


"Siapa yang datang di larut malam seperti ini?" gumamnya seraya melirik pintu. Daniel pun bergegas meraih kacamata tebalnya, lalu beranjak menuju pintu.


Tampak Gembul di sana dengan tatapan penuh selidik.


"Kamu?"

__ADS_1


..........


__ADS_2