
Suasana sunyi menyambut Rani saat memasuki sebuah hunian mewah nan megah. Pandangannya menyapu seisi ruangan demi mencari keberadaan Angel. Namun, rumah super mewah itu tampak kosong, seolah tiada siapapun di sana.
“Kenapa rumahnya sepi? Di mana Angel?" tanya Rani.
Ranj langsung memasang sikap waspada kala menyadari Damian baru saja mengunci pintu. Seraya melayangkan tatapan penuh curiga terhadap pria itu.
"Di mana Angel? Tadi kamu bilang Angel sakit."
"Angel memang sedang agak demam. Tapi dia ada di rumah mommynya."
Kelopak mata Rani spontan melebar. Seluruh tubuhnya tiba-tiba gemetar. Apa lagi saat menatap seringai mengerikan di sudut bibir laki-laki itu.
"Kenapa kamu membohongiku?" tanya Rani gugup. "A-aku mau pergi dari sini."
Wanita itu melangkahkan kakinya, namun tubuh besar pria bule itu langsung berada tepat di hadapannya dan menghalangi. Rani benar-benar ketakutan sekarang.
"Kenapa buru-buru, Elmira Maharani?"
Satu lagi yang membuat Rani melotot tak percaya. Bagaimana pria ini tahu identitas yang selama ini ia sembunyikan dengan sangat baik.
"Ka-kamu ... ba-bagaimana kamu tahu bahwa aku adalah ...."
"Yeah, Elmira Maharani," ujarnya tertawa. "Bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu di sini? Aku sudah melihat videomu dan menjadi sangat penasaran."
Tubuh Rani semakin gemetar. Bola matanya seketika berkaca-kaca.
__ADS_1
"Damian, tolong jangan salah mengerti. Wanita di dalam video itu bukan aku." Ia berusaha membela diri, namun sepertinya sia-sia.
Damian tersenyum miring. Kakinya melangkah mendekat, membuat Rani terus mundur ke belakang.
"Benarkah? Bukankah beberapa waktu lalu kamu sempat membuat klarifikasi bahwa wanita dalam video itu memang kamu?"
Rani semakin mundur ke belakang. "Apa kamu tidak melihat berita bahwa pelakunya sudah mengaku?"
Damian tak menyahut. Ia menatap Rani dari ujung kaki ke ujung kepala bagai sebuah santapan lezat.
Menyadari tanda bahaya yang mengancam dirinya, Rani pun meraih benda apapun dan melemparnya ke arah Damian. Namun, seolah semua lemparan Rani tak berpengaruh baginya.
"Tolong biarkan aku pergi, Damian!"
Ia berdecih saat teringat sosok wanita yang selalu menjadi tameng. Wanita itu bahkan tak membiarkan Rani pergi berdua saja dengannya.
"Tolong jangan, Damian! Kamu tahu aku sudah menikah."
Tawa kecil kembali terdengar dari bibir pria itu.
"Aku tahu. Bahkan aku tahu siapa suamimu."
............
Daniel menghembuskan napas panjang sesaat setelah melirik arloji yang melingkari pergelangan tangannya.
__ADS_1
Rani tak kunjung memunculkan diri. Padahal seharusnya, wanita itu sudah tiba setengah jam lalu.
"Mbul, kenapa Rani belum datang, ya?" tanya Daniel menatap Gembul yang sedang berdiri di lobi menunggu kedatangan Rani.
"Aku juga tidak tahu. Padahal tadi aku sudah bilang jangan terlambat." Ia mendengus kesal. "Jangan-jangan Rani ketiduran. Dia kan punya kebiasaan aneh. Bisa tidur kapan saja."
Daniel tertawa kecil melihat ekspresi kesal yang terlihat jelas di wajah Gembul. "Coba kamu hubungi dia."
"Tidak aktif. Aku sudah beberapa kali mencoba menghubunginya."
Alis Daniel berkerut mendengar jawaban Gembul. "Kalau begitu aku akan memeriksanya."
"Eh, tidak usah. Biar aku hubungi Maxwel saja," ucapnya seraya mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
Gembul tampak menggerakkan jari jempolnya naik turun pada permukaan layar. Lalu kemudian mendekatkan ponsel pada daun telinga.
"Halo, Max ... Apa Aurora belum keluar dari apartemen?" tanyanya sesaat setelah panggilan terhubung.
"Aurora sudah keluar sekitar setengah jam lalu. Aku lihat dia pergi bersama laki-laki yang biasa datang membawa anak kecil."
"Apa?"
Gembul tersentak. Ponsel di tangannya terjatuh begitu saja.
............
__ADS_1