Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)

Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)
Ada Apa Dengan Rani?


__ADS_3

“Ngebut, Ris!” desak Daniel yang merasa mobil melaju pelan.


"Ini juga sudah cepat!"


"Lebih cepat lagi!" Daniel menggertakkan giginya demi tidak membentak Aris.


Membuat Aris menginjak pedal gas dalam yang membuat mobil melesat cepat menerobos keramaian jalan.


Kurang dari dua puluh menit mereka telah tiba di rumah sakit. Daniel menyeret kakinya melewati lorong-lorong menuju ruangan tempat Rani dirawat. Begitu tiba di kamar, Daniel kembali dikejutkan dengan ketiadaan Rani di sana. Ranjang pasien sudah rapi dan dalam keadaan kosong.


"Tidak ada orang. Apa kita salah masuk kamar?" ucap Daniel berharap mereka memang salah masuk kamar.


"Tidak, Rani memang dirawat di sini semalam."


Menyadari sesuatu yang mencurigakan, Daniel pun berjalan keluar dengan langkah terseret, menuju meja para perawat untuk menanyakan keberadaan Rani. Sementara Aris mengikuti di belakangnya.


“Maaf, Suster ... pasien atas nama Elmira Maharani ke mana, ya?” tanya pria itu.


Sang perawat tampak mengulas senyum ramah. "Sebentar, saya lihat dulu." Wanita menatap layar komputer di hadapannya. "Pasien atas nama Elmira Maharani sudah keluar, Pak. Sekitar setengah jam lalu."


"Sudah keluar? Bukannya baru kemarin menjalani operasi, kenapa sudah diizinkan pulang?" Daniel menatap marah, merasa petugas rumah sakit sangat lalai terhadap pasien.


"Maaf, Pak! Memang seharusnya pasien masih perlu menjalani pengawasan setelah operasi. Dokter juga sudah menyarankan demikian karena luka bekas operasi masih basah. Tapi pasien tetap bersikeras." Wanita itu membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map dan menggesernya ke hadapan Daniel. "Ini ada surat pernyataan yang ditandatangani langsung oleh pasien."

__ADS_1


Setelah membaca surat pernyataan yang telah ditandatangani oleh Rani, Daniel terlihat semakin frustrasi. "Ada apa dengan Rani?"


"Lebih baik sekarang kita cari Rani," ucap Aris diikuti anggukan kepala oleh Daniel.


Tanpa mengulur waktu lagi, mereka meninggalkan gedung rumah sakit menuju parkiran dengan terburu-buru. Daniel bahkan tak peduli lagi dengan kondisi kakinya yang terasa pegal.


“Apa mungkin Rani pulang ke kontrakannya?” duga Aris, mengingat Rani tidak memiliki tempat tinggal lain. Untuk pulang ke rumah Daniel pun rasanya tidak mungkin.


“Mungkin saja. Kamu tahu alamatnya, kan?”


"Aku tidak tahu," jawabnya. "Sebentar, aku hubungi Kania dulu." Aris mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu segera menghubungi nomor Gembul. namun hasilnya nihil. Setelah beberapa kali mencoba, tak juga terhubung. “Tidak aktif lagi.” 


Daniel menghembuskan napas kasar. Kejadian hari ini benar-benar seperti akan membuatnya gila. Dan sepertinya sebuah kejutan besar sedang menantinya. "Rani ... ke mana Gembul membawa dia?"


"Bagaimana aku bisa tenang, Ris? Rani belum pulih tapi sudah dibawa keluar dari rumah sakit. Belum lagi pengakuannya tadi di hadapan media."


“Jangan bilang kamu percaya dengan pengakuan Rani tadi!” tuduh Aris curiga.


Daniel menjawab dengan gelengan kepala. Hati kecilnya merasa ragu dengan pengakuan Rani tadi. “Aku yakin ada yang tidak beres.” 


“Aku juga berpikir begitu. Pasti ada yang memaksa Rani melakukan semua ini,” timpal Aris.


Daniel menyandarkan punggungnya demi mengurai rasa lelah. Baru saja kedua matanya terpejam, sudah terlintas satu nama di benaknya.

__ADS_1


“Kamu ingat temannya Rani yang laki-laki itu?” tanyanya tiba-tiba.


“Jovan?” tebak Aris dengan kerutan tipis di kening.


“Iya. Kamu tahu alamatnya, kan?” 


Aris pun teringat beberapa waktu lalu, ketika mengantar Gembul ke rumah Jovan. “Aku tahu, tapi aku akan coba hubungi dia dulu untuk menanyakan.” 


“Jangan!" cegah Daniel cepat saat Aris mengangkat ponsel. "Kalau Rani ada di sana, dia akan sembunyi. Lebih baik kita langsung ke tempatnya saja.” 


Aris mengangguk setuju.


...........


Di sisi lain,


Mobil milik Elana terhenti di depan sebuah rumah. Wanita itu meraih tas miliknya, sebelum akhirnya turun dari mobil dan melangkah menuju pintu.


Ia menunggu beberapa saat hingga pintu terbuka, disusul dengan kemunculan seorang wanita paruh baya.


"Permisi, apa Jovan ada?" tanyanya.


...........

__ADS_1


__ADS_2