Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)

Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)
Berani Sekali Kau!


__ADS_3

Detak jantung Daniel sudah tidak normal setelah melihat wajah Gembul yang mendadak pucat. Tangan wanita itu gemetar sampai menjatuhkan ponsel tanpa sadar. Daniel segera membungkuk memungut benda pipih itu. Beruntung ponsel miliknya masih dalam keadaan utuh. 


“Ada apa, Mbul?” tanya Daniel ikut khawatir. 


“Daniel ... Max bilang Rani sudah pergi lebih setengah jam lalu,” ujarnya masih dengan wajah pucat. “Bersama Damian,” lanjutnya. 


“Apa?” Daniel tersentak. Rahangnya pun mengeras. Ia masih ingat bagaimana liarnya tatapan Damian terhadap Rani semalam. “Rani pergi bersama laki-laki itu?” 


Gembul mengangguk pasrah. 


“Aku sangat mengkhawatirkan Rani. Sejak awal aku tidak pernah suka dengan Damian. Makanya aku tidak pernah membiarkannya pergi berdua dengan laki-laki itu.” Ia melirik jam lagi. “Seharusnya Rani sudah sampai setengah jam lalu, kan?” sambungnya mengingat jarak apartemen tempat tinggal mereka dengan gedung teater terbilang sangat dekat dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.


Pikiran Daniel sudah kalut sekarang. Meskipun ia berusaha untuk tetap tenang.


“Jangan panik dulu! Rani belum pasti menghilang bersama laki-laki itu. Apa kamu punya kontaknya?” 


“Ada.” 


Gembul meraih ponselnya dari tangan Daniel, lalu mencari nomor kontak Damian. Namun, setelah mencoba menghubungi beberapa kali, nomor Damian juga tidak tersambung. Membuat Gembul semakin frustrasi. 


“Tidak aktif. Kita harus mencari kemana sekarang?” 


“Kira-kira ke mana dia membawa Rani pergi?” 


Gembul terdiam beberapa saat, pikirannya sedang menebak tempat di mana Damian mungkin membawa Rani. 

__ADS_1


...........


Ketakutan semakin membekuk Rani tatkala Damian menatapnya liar. Satu-satunya yang dapat ia lakukan hanyalah berusaha menjauh dari cengkraman laki-laki itu.


Namun, Damian begitu cepat menjangkau Rani. Satu tangannya berhasil menarik pakaian yang dikenakan Rani di bagian punggung hingga menimbulkan sobekan. Lalu dengan sangat cepat mendorong tubuh Rani hingga terhempas jatuh ke sofa.


"Lepaskan!" teriak Rani memberontak mencoba melepas pelukan laki-laki itu.


Entah kekuatan itu datang dari mana, Rani melayangkan sebuah tendangan ke arah paling mematikan laki-laki itu, sehingga Damian mengerang kesakitan.


Melihat kesempatan yang ada, Rani bangkit dan berusaha membebaskan diri. Namun, baru beberapa kali kakinya melangkah, Damian sudah menariknya hingga terhuyung ke lantai.


Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Rani berteriak meminta tolong.


"Teriak saja sebisamu. Karena tidak akan ada seorang pun yang mendengar."


Rani mendongak menatap wajah bengis Danian. Seringai menakutkan yang hadir di wajah laki-laki itu membuatnya semakin ketakutan. Ia menyeret kakinya menjauh, seiring dengan Damian yang semakin mendekat.


"Padahal tidak perlu menggunakan cara seperti ini. Akan lebih baik kalau kamu mau bekerja sama. Ayolah, aku akan membayarmu berapapun."


"Kenapa kamu lakukan semua ini?"


"Pertanyaan yang bagus." Damian tertawa puas. "Kamu masih ingat dengan Oscar Maureen?"


Rani tersentak mencoba mengingat nama yang baru saja disebut laki-laki itu. Tubuhnya semakin gemetar tatkala mendapat sebuah jawaban dalam pikirannya.

__ADS_1


Beberapa tahun lalu, Rani pernah dijebak oleh managernya sendiri. Ia menjual Rani pada seorang pria kaya yang mengaku sebagai produser. Sadar dirinya dalam bahaya, Rani pun melarikan diri. Meninggalkan hotel sebelum bertemu dengan pria tersebut.


"Ka-mu adalah ...."


"Kamu ingat? Kalau sudah, berarti kamu tahu harus membayar kerugianku untuk malam itu. Aku sudah mengeluarkan uang yang banyak."


Tangan laki-laki itu mencengkram kuat lengan Rani. Walaupun terus memberontak, namun tenaganya tetap kalah jauh. Tanpa belas kasih, Damian menyeret Rani menuju sebuah kamar.


Namun, baru diambang pintu, tubuh Damian sudah terjungkal jauh setelah kemeja bagian belakangnya ditarik paksa.


Sehingga tubuhnya terhuyung membentur lantai.


Rani pun bereaksi dengan cepat. Menyembunyikan tubuhnya di sisi sofa. Dengan sisa ketakutan yang semakin merasuk, ia menatap pria yang berdiri di hadapannya seperti tameng.


"Ni-Nico?" lirih Rani yang kini terduduk memeluk lututnya.


Bola mata Damian menyala memancarkan kemarahan kala menatap pria kolot yang berdiri tepat di hadapannya. Meskipun dalam keadaan terkejut, tetapi Damian masih bisa mengingat jelas, pria culun di hadapannya adalah tetangga yang semalam membanting pintu saat keluar dari apartemen Rani.


"Kamu pikir siapa dirimu? Berani sekali kamu ikut campur!" teriak Damian murka.


Membuat laki-laki itu melepas kacamata tebal yang menyamarkan wajahnya, lalu melemparkan asal.


Rani menatap tak percaya. Sepasang mata lelahnya kembali basah oleh kristal bening.


"Da-niel?"

__ADS_1


............


__ADS_2