
Daniel bersandar di mobil dengan hela napas frustrasi. Mata tajamnya menatap lurus ke depan, tetapi tidak dengan pikirannya yang menerawang jauh. Kejutan tak menyenangkan yang ia dapati hari ini nyaris membuatnya kehilangan akal sehatnya.
Sepenuh hatinya melambung dan lega dengan fakta bahwa Rani bukanlah wanita dalam video syur yang beredar beberapa waktu lalu. Namun, sisi lain dari dirinya terpukul dengan pengkhianatan Elana.
Daniel tak tahu harus tertawa atau menangis.
Di tengah kegelapan malam yang semakin menyelimuti Bumi, tanda keberadaan Rani belum juga terlihat. Daniel sudah mendatangi semua tempat yang memungkinkan keberadaan Rani.
Namun, hasilnya tetap nihil.
“Kita ke mana sekarang?”
Suara bariton yang berasal dari sisi kanan tubuhnya membuat Daniel tersadar dari lamunan. Ia menatap Aris sekilas, kemudian kembali menatap nanar jalan-jalan di depan.
“Kita ke rumah dulu.” Meskipun yakin Rani tak berada di rumah itu, namun, Daniel tetap mengharapkan keberadaan Rani di sana.
Kurang dari tiga puluh menit, mobil telah tiba di depan sebuah rumah sederhana. Hati Daniel terasa menghangat saat menatap lampu yang menyala di ruang tengah, menandai keberadaan seseorang di dalam sana.
Apakah itu Rani? Entahlah, tetapi sepenuh hati Daniel berharap demikian.
Aris bergerak cepat dan membuka pintu. Diikuti Daniel yang berjalan dengan terseok-seok dengan tongkat di belakang punggungnya.
“Rani ...” Pandangan Daniel berkeliling meneliti seisi rumah. Ia berjalan tergesa-gesa menuju kamar.
Kosong!
Tak ada siapapun di sana. Bahkan koper milik Rani yang semalam berada di ambang pintu sudah tak terlihat.
Apakah Rani benar-benar sudah pergi? Hanya itu yang terpikir oleh Daniel.
__ADS_1
Ia masih berharap menemukan keberadaan Rani di sudut lain di rumah itu. Seisi rumah telah ia sisiri, namun tak juga terlihat sosok Maharani yang selama ini bertahta di hatinya.
Sedih
Frustrasi
Daniel melangkah dengan sempoyongan memasuki kamar. Sebuah kamar yang pernah ditempatinya bersama Rani.
Tatapannya mengarah pada sofa panjang di sudut ruangan. Sepasang matanya mendadak basah saat teringat suatu pagi, ketika mendapati Rani yang masih tertidur pulas. Sesal membawa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya.
Pagi itu ia membangunkan Rani dengan tidak manusiawinya. Menyiramnya dengan segelas air.
Daniel menghempas tubuhnya di sofa. Jemarinya mengusap bantal dan selimut yang tersusun rapi di sana. Bau parfum Rani bahkan masih melekat pada selimut.
“Kamu di mana, Rani?” lirihnya.
Sesuatu berhasil menarik perhatian Daniel. Secarik kertas berwarna putih tergeletak di atas meja, dengan sebuah gelang di atasnya. Sekali lagi hati Daniel luluh lantak. Gelang yang biasanya melingkar di pergelangan tangan Rani itu kini ia kembalikan.
Sepasang mata itu kembali melelehkan cairan bening membaca kata demi kata yang tersirat.
Hai, Kung Fu Pandaku ....
Kamu masih ingat panggilan ‘Kung Fu Panda’ itu?
Itu adalah panggilan pertama yang kusematkan untukmu saat pertama kali kita bertemu di taman beberapa tahun lalu. Mau bagaimana lagi, aku tidak tahu siapa namamu saat itu.
Saat ibu memberitahu aku dijodohkan dengan kamu, aku sempat ragu. Tapi, ibu bilang kamu seperti ayah. Melalui cerita ibu tentang kamu, aku jatuh hati bahkan sebelum bertemu dengan kamu.
Aneh ya ....
__ADS_1
Kamu tahu, di hari pernikahan kita, aku bangun lebih awal dari biasanya. Bisa dibilang itu adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku.
Rasanya seperti mimpi menikah dengan kamu. Seseorang yang aku sendiri tidak tahu seperti apa wajahnya. Aku hanya ingat wajah menggemaskan anak laki-laki gendut berkacamata yang diam-diam selalu mengikutiku.
Tapi, tidak kusangka ... hari yang kuharap menjadi hari paling bahagia justru menjadi hari paling menyedihkan dalam hidupku.
Aku kehilangan segalanya di hari yang sama.
Ibu ....
Kamu ....
Dan akhirnya aku sendirian. Mungkin semesta memang menolak menyatukan kita. Entahlah.
Kalau surat ini sudah sampai ke tanganmu, artinya aku sudah pergi jauh. Maaf, aku memilih cara seperti ini. Jujur saja aku sudah tidak sanggup menghadapi semuanya. Di mana seluruh dunia memusuhi aku.
Kamu pasti sudah melihat berita di TV, kan? Hari ini aku sudah membuat pengakuan bahwa video itu memang benar adanya.
Ya, kamu benar, aku perempuan murahan!
Karena itulah aku memilih pergi untuk memulai hidupku yang baru. Di tempat di mana tidak seorang pun mengenalku. Terlalu banyak rasa sakit yang bahkan tidak bisa dihapus oleh waktu.
Anggap saja Rani sudah benar-benar mati, seperti yang kamu pikirkan selama ini*.
Setelah ini, kamu bisa melanjutkan gugatan cerai. Dengan semua alasan yang kutinggalkan, pengadilan pasti akan mengabulkan gugatan kamu tanpa pertimbangan.
Aku akan selalu berdoa semoga kamu menemukan seseorang yang tepat dan berbahagia.
Selamat tinggal.
__ADS_1
Rani
............