
Cerai? Dunia Rani seperti terhenti mendengar kata yang baru saja tercetus dari mulut Daniel. Sebenci itukah Daniel kepadanya hingga perceraian menjadi jalan yang dipilihnya? Bahkan tanpa menunggu masa enam bulan seperti yang tertulis dalam perjanjian mereka.
“Meskipun aku menikahi kamu dengan menggunakan identitas palsu, tapi aku rasa perceraian tetap diperlukan, supaya semuanya jelas.”
"Tapi aku tidak mau bercerai," sambar Rani cepat dengan menggelengkan kepala. "Setidaknya sebelum menjernihkan semua masalah kita."
Daniel menerbitkan senyum miring. Seolah semua ucapan Rani sama sekali tidak berpengaruh baginya. “Ada apa dengan kamu, Elmira Maharani? Bukankah pernikahan kita hanya bohongan? Kita tidak punya hubungan apapun selain orang asing yang sepakat menikah.”
Rani menatap punggung tegap Daniel yang berjalan keluar kamar, disusul suara pintu dibanting keras. Ia merasakan lemas pada kedua tungkai kakinya saat berjalan keluar untuk menyusul Daniel, tetapi baru di ambang pintu, mobil milik laki-laki itu sudah melaju cepat, dan menghilang dalam pandangannya.
Punggung lemasnya bersandar di pilar dengan tatapan kosong.
...........
Tidak mudah untuk terlihat normal saat pikiran sedang kacau, dan bukan hal mudah pula untuk selalu terlihat tegar di mata orang lain saat kehidupan sedang berada di titik terendah. Itulah yang dirasakan Rani sekarang, mencoba bertahan kala dunia sedang menghakimi dan memandang rendah dirinya.
Dua minggu berlalu sejak Daniel mendeklarasikan keinginannya untuk bercerai. Sejak malam itu pula, mereka tak pernah bertemu lagi. Daniel pergi meninggalkan rumah dan memilih tinggal di apartemen mewahnya. Sementara Rani tetap menghabiskan separuh waktunya di rumah sederhana milik Daniel.
Video panas yang beredar beberapa waktu lalu itu benar-benar berhasil menjungkirbalikkan kehidupan Rani. Tak hanya kehilangan semua pekerjaan, aset miliknya pun mulai hilang satu persatu untuk melunasi utang dan denda.
“Pikir-pikir lagi, Ran! Kamu yakin akan menjual rumah ini?” Gembul tak dapat menyembunyikan kesedihannya dalam mengajukan pertanyaan itu.
Saat ini, mereka tengah berada di rumah Rani. Sebuah rumah minimalis berlantai dua yang dibelinya dari hasil bekerja selama ini. Satu-satunya harta miliknya yang masih bertahan. Karena beberapa hari lalu, Rani telah menjual mobil mewahnya untuk melunasi beberapa sangkutan. Di rumah inilah Gembul tinggal seorang diri sejak Rani menikah dengan Daniel. Kini, Rani harus rela melepasnya.
“Aku tidak punya pilihan lain lagi,” ucapnya sedikit frustrasi.
__ADS_1
Kalau pun rumah itu dijual, tetap saja masih belum cukup untuk melunasi denda yang dibebankan oleh beberapa perusahaan yang jumlahnya mencapai angka milyaran.
“Baiklah! Orang yang mau membelinya akan melakukan pembayaran sore ini.” Gembul berusaha mengalirkan kekuatan dengan mengusap bahu sepupunya itu. “Oh ya, aku juga masih ada tabungan. Memang jumlahnya tidak seberapa, tapi setidaknya bisa untuk meringankan.”
“Jangan, Mbul! Aku sudah terlalu banyak merepotkan kamu selama ini,” tolaknya. Mengingat usaha keras Gembul untuk menabung selama ini. Rani tidak sampai hati jika harus merepotkan Gembul lebih jauh.
“Tidak apa-apa. Sejak awal kita bangkit bersama. Kalau jatuh juga harus sama-sama, kan?”
Semakin besarlah rasa bersalah Rani terhadap Gembul. Ketika semua orang membelakanginya, hanya Gembul seorang yang mengulurkan tangan.
...........
"Ran, kamu yakin akan meninggalkan rumah ini?" tanya Gembul ingin memastikan.
Setelah menjual rumah miliknya, Rani memutuskan akan pergi dari rumah Daniel dan menyewa sebuah rumah sederhana untuk tinggal bersama Gembul.
Gembul mengusap ujung matanya yang terasa perih dan basah. Ia menatap Rani yang berjalan dengan langkah sempoyongan menuju kamar. Banyaknya masalah yang datang bertubi-tubi membuat Rani mengabaikan kesehatannya. Terkadang sampai lupa makan. Ia bahkan sudah terlihat sangat pucat sekarang.
Rani berpegangan pada daun pintu saat merasakan denyutan di kepala, disusul dengan sekeliling yang terasa seperti berputar dalam pandangannya.
Detik itu juga, ia ambruk. Rani tak sadarkan diri lagi. Beruntung Gembul cepat menangkap tubuhnya sebelum membentur lantai.
"Rani, bangun!" teriaknya panik seraya menepuk wajah pucat itu beberapa kali. Hanya isak tangis yang terdengar di sana.
..........
__ADS_1
Di bandara ....
Daniel duduk di kursi ruang tunggu dengan pandangan mengarah pada dinding kaca besar. Hujan turun cukup deras disertai angin kencang, sehingga penerbangan ditunda hampir dua jam. Malam ini, ia akan kembali ke London.
Sudah beberapa kali ia melirik Aris yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Tampak sangat serius.
Setelah mengakhiri panggilan, Aris mendekati Daniel dan duduk di sebelahnya.
“Siapa yang telepon?” tanya Daniel.
"Kania," jawab Aris singkat, membuat kening Daniel berkerut.
"Kania itu siapa?"
"Sepupunya Rani, Gembul."
Mendengar nama itu, Dika hanya merespon dengan lela napas panjang, lalu kembali mengarahkan pandangannya pada keadaan di luar yang masih diguyur hujan lebat.
Tidak pula berminat menanyakan tujuan Gembul menghubungi Aris, karena sudah pasti hanya tentang Rani.
"Kamu tidak mau tahu kabar tentang Rani sekarang?"
"Itu tidak penting," jawabnya acuh tak acuh.
Aris menatap Daniel sekilas. Kemudian menyandarkan punggungnya. "Kania telepon sambil menangis. Katanya, Rani barusan pingsan."
__ADS_1
Informasi yang diberikan Aris membuat sepasang netra Daniel membulat.
...........