
“Kenapa muka kamu jadi merah begitu?” tanya Daniel, membuat semburat merah di pipi Rani semakin terlihat jelas.
Tangannya terangkat menjelajahi garis wajah cantik itu dengan lembut dan berhenti di bibir. Daniel mengusapnya dengan perlahan. Ingin membenamkan bibirnya di sana, namun berhenti dalam jarak yang teramat dekat, hingga hembusan napas Rani yang cepat menerpa wajahnya.
Sementara Daniel mengatupkan bibir menahan tawa. Sambil menunggu reaksi Rani selanjutnya.
Benar-benar menyenangkan menggoda wanita itu. Bahkan ia membeku hingga tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
"Heh, bernapas saja! Kenapa ditahan?"
Semakin merah saja pipi Rani akibat ulah jahil Daniel itu. Jantungnya berdentam dengan cepat hingga membuat deru napasnya semakin tak beraturan.
Daniel pasti sudah menyemburkan tawa jika tidak mengingat baru saja berbaikan dengan Rani.
"Aku mau pulang ke apartemen," ucap Rani gugup.
Berada dalam satu kamar dengan Daniel membuatnya merasa kesulitan bernapas.
"Ini sudah malam, Sayang. Kenapa mau pulang?"
Satu lagi yang membuat Rani berdebar-debar. Sudah dua kali Daniel menyematkan panggilan sayang untuknya.
__ADS_1
"Kasihan Mbul sendirian." Ia masih terdengar gugup. Jangan lupakan wajahnya yang masih memerah.
Daniel sudah tak tahan lagi. Tawa pun pecah di ruangan itu. "Kamu tidak perlu khawatir tentang Gembul? Penjahat kelas berat pasti akan takut sama dia."
Rani reflek menarik bantal, menghantamkan ke tubuh Daniel dengan kesal. Membuat Daniel tertawa terbahak.
Daniel mengunci Rani ke dalam pelukannya dengan posesif.
“Tidur, Sayang. Kalau mau pulang besok saja.”
...........
Rani menggeliat dalam balutan selimut kala cahaya mentari yang menyusup melalui celah tirai terasa menyilaukan. Ia membalikkan tubuhnya demi mencari posisi ternyaman untuk melanjutkan tidurnya. Namun, sosok yang tengah terlelap di sofa berhasil menarik perhatiannya.
Tidur aja ganteng, apa lagi bangun. Pantas Elana mati-matian untuk bisa dapat kamu.
Rani masih terpaku saat tiba-tiba kedua tangan Daniel menariknya hingga terjerembab menimpa tubuhnya.
Kemudian melingkarkan tangan pada tubuh itu dengan posesif. "Kenapa melihatku seperti tadi?"
Wajah Rani mulai memerah.
__ADS_1
“Lepaskan aku!” Rani berusaha melepas pelukan, tetapi Daniel justru semakin mengungkung tubuhnya. "Daniel lepas, aku mau bangun!"
“Sebentar lagi, Sayang. Biar aku peluk kamu dulu. Kapan lagi bisa berduaan seperti sekarang.” Ia menatap wajah polos itu dengan senyuman dan berakhir dengan kecupan manis di kening, kelopak mata kanan dan kiri, kemudian menuju bibir.
Ting Tong!
Suara bel yang tiba-tiba terdengar membuat Daniel mendengus sebal. "Siapa sih yang datang pagi-pagi? Perasaan aku tidak pesan apapun."
Seraya melontarkan ribuan sumpah serapah di benaknya, pria itu bangkit menuju pintu dan membukanya. Namun, sepasang manik hitam miliknya seketika melebar saat menatap sosok yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Jadi semalaman kalian berdua tidak pulang karena menghabiskan malam di sini, ya?" gerutu Gembul dengan tatapan menyeramkan.
Daniel gelagapan.
"Aku cuma pinjam Rani sebentar, Mbul. Segelnya belum aku buka, kok!" ucapnya tanpa basa-basi setelah menyadari raut wajah Gembul.
Sialan juga si Aris! Pasti dia yang bocor ke Gembul kalau Rani di sini. gerutu Daniel dalam hati.
Gembul hanya merespon dengan menghembuskan napas kasar. Tatapannya kemudian menerobos masuk. Kedua bola matanya menyala kala mendapati Rani terduduk di sofa dengan mengenakan kemeja milik Daniel yang tampak cukup kedodoran di tubuhnya.
Lengkap dengan beberapa kancing yang terbuka dan menampakkan belahan dada.
__ADS_1
"Daniel!!!"
...........