
“Terus mommymu di mana?” tanya Daniel setelah mampu mengembalikan akal sehatnya yang sempat menghilang.
Mendadak wajah bocah kecil itu terlihat sedih. “Daddy dan mommy sudah berpisah,” lirihnya.
“Jadi kamu tinggal bersama daddymu saja?”
“Aku akan tinggal di rumah daddy selama seminggu. Di rumah mommy juga seminggu,” jawabnya seraya mengelus boneka kecil dalam pelukannya. “Tapi Daddy bilang, nanti kalau sudah menikah dengan Kakak Aurora, kami akan tinggal bersama.”
Daniel menarik napas dalam.
Sakit? Tentu saja!
Daddymu tidak akan bisa menikah dengannya. Karena aku tidak akan pernah melepasnya.
Ia masih berusaha tersenyum ramah sambil mengusap puncak kepala gadis kecil yang duduk bersamanya di anak tangga.
"Oh, ya. Siapa namamu?"
"Namaku Angelina, Uncle. Tapi Daddy selalu memanggil Angel saja."
"Hmm ... nama yang cantik."
"Terima kasih."
Daniel melirik ke arah Rani setelah berbincang singkat dengan Angel. Kini, Rani terlihat sedang mengobrol dengan Gembul. Cukup serius, sementara laki-laki yang menghampiri Rani dengan membawa mawar merah tadi sudah tidak terlihat. Entah kemana.
Dua wanita itu kemudian masuk ke sebuah ruangan.
“Ehm Angel, apa boleh aku minta tolong sesuatu?” tanya Daniel dengan mimik muka serius.
Gadis kecil itu mengangguk antusias. "Boleh, Uncle."
Daniel pun meraih kembali buket bunga yang tadi sempat ia jatuhkan ke lantai. Lalu menyerahkan pada gadis kecil di hadapannya.
__ADS_1
“Tolong berikan bunga ini pada kakak Aurora. Bisa? Tadi aku melihatnya masuk ke ruangan di sebelah sana.” Daniel menunjuk sebuah ruangan di mana Rani dan Gembul baru saja masuk.
“Baiklah.” Ia meraih buket bunga pemberian Daniel. "Kalau begitu sampai jumpa lagi, Uncle." Lalu segera bangkit dan berlari kecil menjauh.
Sementara Daniel masih terpaku di tempat.
..........
"Apa yang dibicarakan Damian tadi?" tanya Gembul yang sedang membantu Rani menghapus riasan di wajahnya.
Rani menatap Gembul dari pantulan cermin. "Damian tadi melamarku."
"Apa?" Gembul hampir berteriak karena terkejutnya. Tangannya yang menggenggam sisir menggantung di udara. "Melamar?"
Rani mengangguk. Tetapi Gembul seakan belum percaya.
"Lalu kamu jawab apa?"
"Mau jawab apa lagi, Mbul? Aku menolaknya. Aku bilang sudah menikah. Tapi sepertinya dia tidak percaya."
Rani mendesahkan napas panjang, membuat Gembul mengusap bahunya.
"Ran, kamu yakin sudah tidak mau kembali? Bukankah pelaku video yang sebenarnya sudah tertangkap? Elana dan Jovan juga sudah mengakui perbuatannya dan namamu sudah dibersihkan."
Rani merespon dengan menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak tahu, Mbul. Aku sudah kehilangan semuanya. Tidak ada gunanya lagi kembali."
"Daniel bagaimana? Aku dengar dari Juna dia masih terus mencari kamu."
Mata Rani terpejam seraya menghela napas panjang.
“Kakak Aurora!”
Panggilan itu berhasil menghentikan pembicaraan Rani dan Gembul. Rani seketika menoleh, seulas senyum yang terbit di sudut bibirnya saat menatap gadis kecil yang sedang berlari penuh semangat ke arahnya. Ia merentangkan tangan untuk menyambut.
__ADS_1
“Halo, Sayang!” ucapnya sambil memeluk. “Bagaimana kabarmu?”
“Baik.” Angel tersenyum lebar, sambil menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya. "Tebak, aku bawa apa untuk Kakak."
"Pasti permen," tebak Rani asal.
Angel menggeleng dengan bibir mengerucut lucu. "Bukan."
Rani tertawa sambil mencoba mengintip, namun, bocah kecil nan cantik itu tak memberi celah. "Jangan ngintip! Itu curang namanya."
"Baiklah. Kalau begitu pasti es krim, kan?"
"Bukan juga," jawabnya tertawa. "Ayo tebak lagi!"
"Ah, aku menyerah saja. Memang apa itu?"
Angel kembali tertawa. Lalu mengeluarkan benda yang sedari tadi ia sembunyikan. "Ini dia! Ada yang menitipkan bunga ini untuk Kakak."
Mendadak senyum yang menghiasi wajah Rani meredup, seiring dengan tubuhnya yang terasa meremang. Ia meraih bunga di tangan Angel, lalu menatap Gembul penuh tanya.
“Angel, siapa yang memberi bunga ini?” tanya Rani yang mendadak terlihat pucat.
“Tidak tahu. Orangnya tadi ada di samping panggung.” Ia menunjuk ke arah tempatnya bertemu dengan seorang paman yang sangat ramah.
Secepat kilat Rani berlari keluar. Namun saat tiba di sisi panggung, tak ada siapapun di sana selain kru.
Rani pun berlari keluar menuju parkiran. Tetapi lagi-lagi tak menemukan apapun, selain kerumunan orang yang baru saja meninggalkan gedung.
Sepasang mata itu sudah tergenang oleh cairan bening. Ia menatap buket bunga di tangannya.
Bagaimana jumlah dan bentuknya bisa sama? Sembilan belas tangkai mawar putih dan setangkai mawar merah terselip di tengah.
"Apa Daniel ada di sini?"
__ADS_1
............