
Daniel menyeret kakinya memasuki sebuah bangunan tinggi. Beberapa kali ia hampir terjatuh demi menjaga keseimbangan tubuhnya akibat lantai marmer yang licin. Napasnya mulai berat, namun sama sekali tak ia hiraukan.
Ia baru berhenti saat tiba di depan sebuah lift. Aris yang tiba lebih dulu sudah menekan tombol pada panel. Sementara Daniel menghitung detik demi detik yang berlalu seraya mengatur napas yang tersengal.
Dengan sebuah harapan besar, bahwa segalanya belum terlambat.
Ting!
Pintu lift terbuka. Membuat dua pria tampan itu segera mengayunkan kaki masuk. Perjalanan dari lantai satu menuju lantai dua puluh pun terasa sangat lama bagi Daniel.
“Kamu yakin Juna ada di dalam?” tanya Daniel sesaat setelah Aris menekan bel apartemen.
“Jovan tadi bilang si Juna tinggal di sini sama istrinya.”
Keduanya menunggu beberapa saat. Sebelum akhirnya pintu terbuka, disusul dengan kemunculan sosok pria. Mata Daniel nyalang menatap pria yang pernah digosipkan dekat dengan Rani beberapa waktu lalu itu.
"Maaf, ada perlu apa, ya?"
"Tidak usah pura-pura bodoh! Kamu pasti tahu apa keperluan kami ke sini."
Jika Daniel tampak serius dan lebih cenderung menampakkan kemarahan, pria itu malah tampak santai. Seolah tak ada masalah berarti.
__ADS_1
Aris merangsek mendorong tubuh laki-laki itu hingga membentur dinding. Mencengkram kerah kemeja Juna hingga kakinya berjinjit akibat tarikan kuat.
“Ada apa ini? Kalau ada masalah mari bicarakan baik-baik!”
Rasanya seluruh tubuh Daniel seperti dilahap api mendengar nada santai dari mulut pria itu. Namun, ia berusaha meredam, karena dengan kekerasan, ia tak akan mendapat apapun.
“Lepaskan dia, Ris?” Perintah Daniel.
Membuat Aris mengendurkan cengkramannya. Tapi tetap melayangkan tatapan tajam yang seolah mampu membelah tubuh Juna menjadi dua bagian.
“Di mana Rani?” Tanpa basa-basi, Daniel mengutarakan maksudnya menyambangi pria itu.
Juna masih sempat merapikan kemejanya yang kusut akibat ditarik Aris. "Rani?" tanyanya santai. "Kenapa kalian tanya saya?"
“Sekali lagi saya tanya, di mana Rani? Kamu orang terakhir yang berhubungan dengan dia,” tanya Daniel. Kali ini dengan raut wajah lebih menakutkan dari yang tadi. Namun, Juna tetap bersikap santai. Ia bahkan terkesan tak takut meskipun pria di hadapannya adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
“Maaf, tapi saya memang tidak tahu. Rani hanya meminjam uang dari saya. Tentang dia mau ke mana dan bersama siapa, sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya.”
............
Daniel terduduk lemas di sofa ruang tamu rumah sederhananya. Ia memilih pulang ke rumah itu dengan sisa-sisa harapan bahwa Rani akan kembali.
__ADS_1
Suara pintu yang diketuk dari luar membuat Aris segera bangkit meninggalkan tempat duduknya. Beranjak menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Tampak dua orang pria berdiri di ambang pintu, membungkukkan badan tanda hormat.
“Bagaimana?” tanya Aris cepat. Bahkan tak mempersilahkan dua pria itu masuk ke rumah.
“Tidak ada di mana-mana, Bos! Semua akses untuk keluar kota sudah diperiksa. Terminal dan stasiun kereta. Selain itu pelabuhan dan bandara tidak ada penumpang atas nama itu,” jawab salah seorang di antara mereka.
"Kalian sudah periksa baik-baik?" tanya Aris sekali lagi untuk memastikan.
"Sudah, Bos. Mbak Rani tidak meninggalkan jejak. Mungkin masih ada di dalam kota."
Aris menarik napas dalam. Berpikir sejenak. "Kalau begitu periksa perbatasan kota. Kalau perlu sisiri kota ini untuk mencari mereka."
"Baik."
Mata Daniel terpejam saat mendengar informasi itu. Ia tak tahu lagi harus bagaimana mencari Rani.
Pria itu hanya terduduk lesu dengan menggenggam sepucuk surat yang tadi ditinggalkan Rani. Ia buka kembali dan membacanya.
Sesak!
Hampa!
__ADS_1
Rani telah pergi dengan membawa semua luka hatinya.
...........