Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)

Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)
FINAL EPISODE


__ADS_3

Aku sudah siap." Gemetar suara Rani menjawab.


Demi menyamarkan semburat merah di pipi, wanita itu menyandarkan kepala di dada suaminya. Daniel pun membalas dengan memeluknya. Membuat rasa hangat perlahan menjalar.


"Kamu yakin? Kalau belum siap, aku tidak akan memaksa."


Dalam dekapan Daniel Rani mengangguk. Hingga beberapa saat kemudian, Daniel melepas pelukan. Membawanya menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh mereka di sana. 


Berbaring dalam balutan selimut yang sama, Daniel dan Rani saling menghangatkan satu sama lain. Daniel memulai dengan mengobrol tentang beberapa hal demi menghilangkan kecanggungan di antara keduanya. 


"Aku mencintaimu." Entah kali ke berapa Daniel membisikkan kalimat itu, sambil menciumi wajah Rani berulang-ulang.


Rani pun sudah tak sekaku di awal. Ia mulai menunjukkan perhatian kecil. Memeluk dan membalas ciuman suaminya.


Dan sikap manja yang ditunjukkan Rani membuat Daniel tidak tahan. Terlebih, wanita itu seperti sengaja menunjukkan bentuk tubuhnya dengan menggunakan gaun malam tipis yang menerawang.


Rani merinding saat merasakan tangan Daniel menjelajahi area punggungnya. Tangan laki-laki itu bergerak dengan nakal menyentuh area yang paling sensitif bagi Rani. Tentu saja Daniel dengan cepat dapat membaca bahasa tubuh istrinya. Bagian mana yang paling cepat merespon saat disentuh. Dan daerah punggung adalah area yang paling mematikan bagi wanitanya itu.


Gejolak dalam dirinya semakin menyala saat mendapati Rani mengatupkan bibir demi menahan sensasi geli dari sentuhannya.


“Tidak usah ditahan, Sayang … keluarkan saja suaramu,” bisiknya dengan sensual, lalu menghujani wajah itu dengan kecupan di setiap bagiannya. Pipi, kening, kelopak mata dan berakhir di bibir. Rani sampai kesulitan mengimbangi suaminya.


"Emh …" Satu des*ahan yang sejak tadi tertahan akhirnya lolos juga, saat Daniel membenamkan bibirnya di leher, sementara tangannya terus menyelinap ke dalam pakaian tipis yang membalut tubuh Rani.

__ADS_1


Wajah Rani semakin memerah saat baru tersadar Daniel telah melihat seluruh bagian tubuhnya hingga bagian paling pribadi. Ia tak sadar lagi sejak kapan Daniel berhasil melepas pakaian tipisnya.


Kini keduanya hanya terbalut selimut.


"Tidak usah malu, lagi pula hanya aku yang melihat. Kamu juga boleh teriak kalau merasa sakit. Di sini tidak akan ada yang mendengar suaramu selain aku."


Daniel membenamkan ciuman di bibir seraya mengarahkan miliknya ke tempat yang seharusnya. Percobaan pertama dan kedua gagal. Membuat Rani harus beberapa kali menjerit kesakitan dibuatnya.


"Sakit, Mas!" rintih Rani dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang suami.


"Iya Sayang, maaf. Pelan-pelan saja, ya."


Rani mengangguk pelan, membuat Daniel terdiam beberapa saat. Hingga dirasa Rani telah siap menerima, barulah ia mulai bergerak lagi.


Percobaan ketiga, Daniel memberi hentakan yang cukup kuat. Menekan dengan sedikit memaksa. Sehingga Rani memilih menyalurkan rasa sakit yang ia terima dengan menggigit bahu suaminya.


Dan berhasil!


Tongkat sakti milik Daniel terbenam seluruhnya. Hey, penduduk Noveltoon ... beri dia ucapan selamat! 🤗🤭🤤


"Sakit?" tanyanya seraya menatap tubuh kecil yang berada di bawah kuasanya.


"Hemm ..." Rani hanya sanggup menjawab dengan deheman.

__ADS_1


Membuat Daniel terdiam beberapa saat. Menunggu hingga Rani melepaskan semua rasa sakit.


Kala Daniel mulai bergerak, Rani pun melingkarkan tangan di punggung suaminya. Sepasang matanya terpejam saat merasakan sensasi tak tertahan yang berpusat di bawah perut.


Rintihan, desa*han, memenuhi seisi kamar dengan pencahayaan temaram itu. Keduanya terhanyut dalam kenikmatan dunia yang melenakan.


Hingga pada saat segalanya mencapai puncaknya, Daniel menciumi leher istrinya sambil mempercepat gerakan di pinggang. Mengerang keras ketika merasakan sesuatu mengalir di bagian bawah tubuhnya.


Daniel mencium kening sesaat setelah menuntaskan hasr*atnya. Keduanya terkulai lemas dan tersengal hebat.


"Aku mencintaimu, Maharaniku!"


"Aku juga mencintai kamu, Mahardika Lanang Sutejo Soepenralegowo!" Rani tertawa kecil setelah menyebut nama panjang itu.


"Sebut nama itu lagi, kubuat kamu tidak bisa berjalan besok pagi," ancam Daniel, lalu membenamkan ciuman di bibir.


Malam yang sempurna! Keduanya larut dalam kebahagiaan yang sama.


*


*


*

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2