
Bruk!
“Awh kalau jalan lihat-lihat! Memangnya kamu pikir apartemen ini milik nenek moyangmu?” maki Gembul bertubi-tubi.
Sesosok pria berpenampilan kolot dengan koper besar baru saja menabraknya hingga terjungkal ke lantai di ambang pintu lift. Teriakan melengkingnya pun membuat pria itu refleks menutup daun telinga dengan kedua tangan.
“Maaf, maaf, aku tidak sengaja.” Pria itu mengulurkan tangan, bermaksud membantu untuk berdiri.
Alih-alih menyambut, sosok wanita berwajah Melayu itu justru semakin kesal. Ia memunguti beberapa benda miliknya yang berhamburan di lantai dan memasukkan ke dalam kantongan. Sebelum akhirnya bangkit sambil mengusap bagian belakang tubuhnya yang baru saja mencium lantai.
"Sudah pakai mata empat masih tidak bisa lihat!" Sorot matanya begitu tajam menatap pria di hadapannya. Layaknya singa yang siap menerkam mangsa.
"Aku kan sudah minta maaf ... ngomong-ngomong aku baru pindah kemari hari ini, dan unitku di sebelah sana." Pria itu menunjuk sebuah pintu yang masih tertutup rapat tak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
“Siapa yang peduli, hah!”
Gembul melangkah pergi. Memasuki unit apartemen tepat di sebelah yang ditunjuk pria tadi sambil membanting pintu keras.
__ADS_1
Membuat pria itu terlonjak kaget dan mengusap dada. "Ya ampun, galak sekali dia."
Sementara Gembul yang baru memasuki apartemen itu terus bersungut-sungut dengan menghentakkan kaki kesal.
“Dasar menyebalkan! Kalau tidak ingat ini negara orang, aku pasti sudah mendorongnya sampai keluar jendela!”
Ia menghempas tubuhnya di sofa. Duduk selama beberapa menit sambil mengatur napas.
Tak lama berselang, sepasang matanya terpejam saat mengendus aroma nikmat yang berasal dari arah dapur, disusul bunyi peralatan memasak yang saling beradu.
“Kamu masak apa, Ran?”
Gembul mendesahkan napas panjang. Masih dengan ekspresi kesal yang terlihat jelas. “Kita kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Tadi di lift dia nabrak aku sampai semua belanjaanku jatuh.”
Rani hanya merespon dengan tawa kecil. Sejak meninggalkan Indonesia setahun lalu, Gembul menjelma menjadi sosok wanita yang sangat galak dan judes. Ia akan memaki siapapun yang mencari masalah dengannya.
Rani masih ingat, saat meninggalkan rumah sakit. Saat itu kondisi fisiknya sangat lemah karena habis menjalani operasi. Gembul pun memaki-maki dokter yang tidak memberi izin untuk meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Berkat bantuan dari Juna yang meminjamkan sejumlah uang, sehingga Rani dapat melunasi semua denda yang dibebankan kepadanya. Juna juga membantunya melarikan diri ke luar negeri dengan menggunakan identitas lain agar keberadaannya tak terlacak.
Suara bel pun menghentikan pembicaraan itu. Rani berjalan menuju pintu untuk membukanya. Tampak Damian bersama Angel sedang berdiri di ambang pintu dengan senyuman.
"Hai, apa kami mengganggu?"
"Emh, tidak juga. Hai Angel," sapa Rani dengan ramah. Angel yang sangat menyukai Rani langsung memeluk wanita itu.
"Angel merengek minta kemari. Aku tidak tega menolak."
"Tidak apa-apa. Ayo masuk!"
Damian mengulas senyum tipis. Lalu menggandeng putrinya masuk. Baru saja Rani akan menutup pintu, sudah terdengar bunyi decitan pintu dari penghuni baru apartemen sebelah.
Rani menolehkan kepala. Ada sedikit rasa penasaran dengan tetangga barunya yang kata Gembul sangat menyebalkan.
Tatapan Rani meneliti sosok pria yang berdiri tak jauh darinya, dari ujung kaki ke ujung kepala. Seorang pria dengan kemeja kedodoran dan gaya rambut berponi, lengkap dengan kacamata tebal yang membingkai matanya.
__ADS_1
Sangat culun!
...........