
Ada apa? Kenapa Gembul menatapku seperti itu?
Daniel masih membeku tatkala sorot mata tajam Gembul seolah mampu meremas tubuhnya hingga lebur. Tatapan mengintimidasi nan menuntut itu sukses membuat bulu kuduknya terasa meremang.
“Hai, maaf menganggu malam-malam,” ucapnya tanpa sungkan sama sekali.
Membuat Daniel tersadar dari sisa keterkejutan. "Tidak apa-apa. Aku belum tidur, kok. Ada apa, ya?"
Tatapan wanita itu belum berubah. Meski kini ada seulas senyum tipis di sudut bibirnya. “Ada sesuatu yang mau aku tanyakan.”
“Di jam selarut ini?” tanya Daniel seolah tak percaya.
Bukankah ini sudah jam tidur? Apa normal mendatangi tetangga di jam seperti ini hanya untuk bertanya sesuatu.
“Kenapa diam, apa kamu keberatan?” Pertanyaan itu membuat Daniel gelagapan. Namun, berusaha untuk tetap tenang.
“Tentu saja tidak.”
“Kalau begitu kenapa kamu tidak mengajakku masuk?”
Daniel tersenyum kecut. Efek cemburu beberapa jam lalu membuatnya hilang kendali hingga menghempas beberapa pajangan ke lantai.
“Emh, tapi tempatku sedang sangat berantakan.”
“Tidak apa-apa.” Belum sempat Daniel mempersilahkan masuk, Gembul sudah lebih dulu menerobos. Ia meneliti ruangan yang bak kapal pecah itu.
“Kan sudah kubilang berantakan.”
“Tidak masalah.”
Gembul memilih menjatuhkan tubuhnya di sofa. Sementara Daniel duduk di sofa tunggal.
“Oh ya, kita belum berkenalan sejak insiden di lift tadi. Kebetulan aku mau minta maaf karena sudah marah-marah.”
Jadi dia ke mari di larut malam hanya mau minta maaf? Tinggal di Sydney merubahmu, ya?
"Eh, tidak apa, Mbul ... aku ...."
"Mbul?" potongnya cepat.
Daniel seketika tersadar dengan kecerobohannya. Bibirnya mengatup rapat saat membaca pancaran penuh curiga dari sepasang mata wanita di hadapannya.
"Aku sama sekali belum menyebut namaku."
__ADS_1
Deg!
Daniel membungkam.
"Tapi bahkan kamu tahu nama yang aku sembunyikan sejak satu tahun terakhir," sambungnya.
"A-aku ... aku tahu dari Aurora. Dia memanggilmu Gembul, kan?"
Gembul tersenyum miring. Tentu saja alasan Daniel barusan tak masuk akal. Jika di hadapan orang, Rani tidak akan pernah memanggilnya dengan nama itu.
"Kamu pikir aku akan percaya?"
Daniel menghembuskan napas panjang. Lalu melirik ke arah pintu yang setengah terbuka. Segera laki-laki itu beranjak dan menutupnya rapat. Lalu kembali duduk di hadapan Gembul.
"Sepertinya aku sudah ketahuan."
Daniel melepas kacamata dan membenarkan rambutnya. Sementara Gembul yang sebelumnya sudah curiga, tak lagi menunjukkan reaksi berlebihan.
"Sudah kuduga."
.
.
.
.
Setelah satu tahun dalam persembunyian, tak ada seorang pun yang mengenali. Mereka benar-benar menjadi sosok yang baru.
"Sebuah keberuntungan. Setelah satu tahun mencari."
Gembul mengangguk mengerti. “Tapi kenapa kamu memilih menyamar?”
“Aku merasa tidak layak untuk mendatanginya dan minta maaf setelah semua yang kulakukan. Mungkin Rani akan kabur lagi kalau tahu aku menemukannya," ujarnya. "Lagi pula bukannya Rani akan menikah dengan yang namanya Damian itu, ya?”
Gembul terkekeh kala menatap raut wajah putus asa Daniel. “Kata siapa?”
“Di teater kemarin aku berkenalan dengan Angel. Dia bilang ayahnya akan menikah dengan Rani. Tadi dia juga datang ke apartemen kalian membawa anaknya.”
Gembul membuang napas panjang, lalu bersandar di kursi. “Dia memang melamar Rani. Tapi Rani menolak.”
Kelopak mata Daniel seketika melebar mewakilkan keterkejutannya. “Rani menolak? Tapi Angel bilang ....”
__ADS_1
“Rani kan masih istri kamu," potong Gembul cepat. "Jadi dia tidak mungkin bisa menikah dengan orang lain, kan? Biar kuberitahu satu rahasia.”
"Rahasia apa?"
"Sebenarnya Rani masih mengharapkan kamu. Kalau kamu datang ke hadapannya, dia pasti akan menerimamu kembali."
Tak dapat dipungkiri, ucapan Gembul menumbuhkan kembali harapan yang hampir mati dalam hati Daniel.
"Mbul, sebenarnya aku datang kemari memang untuk menjemput Rani dan membawanya pulang. Tapi untuk itu aku butuh bantuanmu."
"Apa yang bisa kubantu?"
"Besok aku beritahu."
...........
Keesokan harinya ....
Rani melangkah dengan tergesa-gesa meninggalkan gedung apartemen. Beberapa kali ia melirik arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ia hampir terlambat, dan Gembul pasti akan mengomel habis-habisan.
Namun, kehadiran seorang pria yang tiba-tiba membuat langkahnya terhenti.
"Damian ...."
"Hai, maaf kalau aku datang tiba-tiba," ucapnya sedikit panik. "Apa kamu ada waktu sebentar?"
Rani mengulas senyum kecut. "Maaf, aku sedang buru-buru. Aku ada janji dengan kakakku di gedung teater dan aku hampir terlambat."
Rani hendak melangkah, tetapi panggilan Damian kembali menghentikannya.
"Tapi aku benar-benar sedang butuh bantuanmu."
"Memangnya ada apa?"
"Angel sedang sakit dan sejak pagi tadi terus mencarimu. Apa kamu bisa menemuinya sebentar?"
"Tapi aku ...."
"Sebentar saja. Aku mohon. Setelah kamu menemui Angel, aku akan langsung mengantarmu ke gedung teater."
...........
__ADS_1