
Rani masih terpaku memandangi wajah penuh amarah yang berdiri tepat di hadapannya. Dengan rahang yang mengeras dan kaku. Juga tangannya yang terkepal kuat dan gemetar.
Lalu dalam sepersekian detik, tubuh tegap itu telah kembali berbalik. Secepat cahaya kilat menerjang pria biad*ab di hadapannya dengan satu pukulan telak.
BUG!
Damian terjengkang ke belakang. Tubuh jangkungnya ambruk membentur lantai, lengkap dengan darah segar yang mengucur dari hidung.
Pria bule itu terdiam sejenak sambil menggelengkan kepala, seperti sedang mengembalikan kesadarannya.
Tangannya terangkat mengusap darah yang menetes di sudut bibirnya. Kemudian bersusah payah bangkit dengan sisa tenaga. Namun belum sempat berdiri sempurna, Daniel telah kembali menghantam tubuhnya dengan pukulan bertubi-tubi.
BUG! BUG!
Damian tumbang tanpa perlawanan berarti. Ia tersengal hebat. Seolah udara yang dihirupnya tak cukup untuk menyambung nyawa.
"Ja-ngan sembarangan kamu. Aku bisa saja menuntutmu dengan ..."
"Dengan apa? Penganiayaan?" potong Daniel cepat, sambil tersenyum miring. "Bangun! Kemana sikap kurang ajarmu yang tadi?" Suara bentakan Daniel menggelegar, menggema ke setiap sudut ruangan.
Tanpa dapat dihentikan, pria itu lagi-lagi merangsek maju. Mencengkram kerah kemeja Damian dan memaksanya berdiri.
__ADS_1
Suara Damian sempat terdengar meraung beberapa kali. Sambil terus berusaha menahan serangan penuh amarah dari Daniel. Tetapi sekeras apapun usahanya untuk menghentikan Daniel, nyatanya tak membuahkan hasil yang baik baginya.
Dan sepertinya bukan hanya Damian yang ketakutan. Rani pun sudah memucat menyaksikan bagaimana Daniel melampiaskan amarahnya. Ia bahkan tak berani walau hanya sekedar membayangkan rasa sakit yang diterima Damian.
BUG! Satu pukulan lagi dilayangkan Daniel di area perut.
Damian kembali terhuyung dan membentur sudut dinding. Ia melenguh lemah, sebelum akhirnya memejamkan sepasang matanya.
"Kamu tidak apa-apa?" Daniel berjongkok di hadapan Rani yang masih terduduk lemas sambil memeluk lututnya. Tangannya terulur mengusap puncak kepala wanita itu.
"Daniel ...."
Seakan tak sanggup berkata-kata, Rani hanya menatap nanar. Tubuhnya lemah lunglai. Lalu, kemudian jatuh ke dalam dekapan Daniel.
Ia tak sadarkan diri lagi.
Daniel menatap langit-langit ruangan berukuran 3 x 4 meter tempatnya berada sekarang. Hampir setengah jam ia habiskan waktunya untuk berendam di air hangat demi menghilangkan sisa amarah yang membekuk pikirannya.
Lumayan berkurang. Setidaknya keinginan untuk membunuh seseorang sudah lenyap.
Dalam hitungan beberapa menit, pria itu bangkit dan membasuh tubuhnya di bawah shower. Meraih jubah mandi dan beranjak keluar.
__ADS_1
Sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, ia melirik Rani yang masih terlelap dalam balutan selimut tebal. Setidaknya Daniel masih bersyukur, wanita yang dicintainya itu selamat dari bahaya.
Daniel menjatuhkan tubuhnya ke sebuah kursi tunggal. Menatap keluar jendela yang menyuguhkan pemandangan Sydney Harbour Bridge di malam hari.
Setelah agak tenang, ia meraih ponsel dari atas meja dan membuka beberapa pesan masuk. Ada beberapa laporan tentang kasus Damian yang kini sudah ditangani pihak berwajib.
Ada pula pesan yang berasal dari Gembul.
"Damian sudah diproses secara hukum, kan? Jangan biarkan dia lolos!"
"Bagaimana Rani? Apa dia baik-baik saja?"
"Kalian di mana? Kenapa tidak pulang?"
"Hey ke mana kamu menyembunyikannya Rani?"
"Kubunuh kamu kalau tidak membawa Rani pulang sekarang!"
"Danieeellllll!!!!"
Daniel menghela napas panjang setelah membaca pesan beruntun yang masuk ke ponselnya. Ia tertawa kecil membayangkan ekspresi kesal Gembul sekarang. Wanita super galak itu bahkan memberinya sebuah ancaman jika tidak membawa pulang sepupunya.
__ADS_1
"Kamu sudah membawa Rani pergi selama ini. Sekarang giliranku menculiknya."