Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)

Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)
MENYAMAR


__ADS_3

Pria berpenampilan culun itu terpaku di tempat kala sosok wanita cantik mendekatinya. Tubuhnya menjadi kaku hingga sulit digerakkan. Bahkan kelopak matanya seakan tak sanggup berkedip. 


“Hai ... kakakku bilang kamu baru pindah ke sini tadi. Aku Aurora, penghuni unit sebelah.” Rani mengulurkan tangannya, namun pria itu masih membeku. “Halo ....” 


“Emh, maaf.” Ia tiba-tiba tersadar dan gelagapan. Lalu menyambut uluran tangan tetangganya itu. “Hai ... Aku Nico. Senang berkenalan denganmu.” 


Rani mengulas senyum ramah. “Maaf, kalau kakakku agak galak. Dia sebenarnya baik, cuma terkadang kurang bisa mengontrol emosinya.” 


“Tidak masalah.” 


Sekilas Rani menatap ke dalam pintu yang terbuka setengah. “Ngomong-ngomong, apa kamu membeli unit ini dari pemiliknya?” 


“Aku hanya sewa, soalnya tidak punya cukup uang untuk membelinya.” 


Sebenarnya apartemen yang mereka huni sekarang hanyalah apartemen sederhana dan harganya cukup murah dibanding yang lain. Karena itu lah Rani memilih untuk menghemat biaya hidup.


“Oh begitu. Aku juga hanya sewa. Semoga kamu betah tinggal di sini.” 


“Terima kasih,” jawab laki-laki itu sambil tersenyum tipis.


"Aku harus kembali. Aku sedang ada tamu."


“Baiklah, senang bertemu denganmu.” 


Setelah berbasa-basi sebentar dengan tetangga barunya, Rani kembali ke unitnya. Pria berkacamata itu masih menatap hingga Rani menghilang di balik pintu. 

__ADS_1


Ia baru tersadar setelah beberapa detik kemudian. Raut wajah super polos itu pun seketika berubah serius. Kemudian masuk ke unitnya sambil membanting pintu. Kacamata tebal yang membingkai matanya ia hempas ke atas sofa. 


Berdiri di depan sebuah cermin sambil menatap pantulan dirinya. “Kung Fu Panda – Daniel – Mahardika Lanang Sutejo Soepenralegowo – dan sekarang Nico,” gerutunya setengah frustrasi. “Hufft ... kalau Aris melihat ini, dia akan mengejekku habis-habisan.” 


Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa sambil menjambak rambutnya sendiri. Daniel memilih melakukan penyamaran agar bisa dekat dengan Rani. Ia bisa saja langsung menemui Rani dan meminta maaf, tetapi Daniel sangat yakin Rani akan menolaknya. Setidaknya dengan menjadi tetangga, ia dapat mengawasi Rani dan menjauhkannya dari pria yang kemarin melamarnya. 


“Aku harus bagaimana sekarang? Untuk apa laki-laki itu datang membawa anaknya? Dasar modus,” ucapnya kesal. 


Dengan gelisah berdiri dari duduknya. Guci antik yang tak berdosa pun menjadi sasaran tendangan sepatu mahalnya. 


Pecah. 


“Bodo amat!” Ia tak peduli walaupun pemilik apartemen yang disewanya secara paksa itu akan marah.


Rani tengah menemani Angel bermain di ruang tamu. Sementara Damian sedang duduk di sofa dengan secangkir kopi di hadapannya. Sesekali mencuri pandang pada Rani. 


Gembul yang duduk di sudut sofa lain segera bangkit dan membuka pintu. Sontak wanita itu berkacak pinggang saat menyadari siapa yang ada di ambang pintu. 


“Mau apa kamu ke mari?” tanyanya ketus kepada sosok pria culun itu.


“Maaf mengganggu. Aku sedang membuat omelet. Tapi kompornya tidak mau menyala. Apa boleh aku numpang membuatnya di sini?"


Gembul memutar bola matanya malas. "Silahkan masuk!" Ia melangkah lebih dulu menuju dapur, sehingga pria itu mengikuti di belakang punggungnya.


Melewati ruang tamu, Daniel menghembuskan napas panjang sambil mengusap dadanya pelan. Pemandangan yang tersaji membuat matanya terasa panas.

__ADS_1


"Hai, Nico!" sapa Rani saat menyadari kehadiran pria itu.


"Hai ..." balasnya dengan senyum, lalu kemudian melangkah menuju dapur.


"Silahkan buat dan segera pergi dari sini!" ucap Gembul tanpa basa-basi.


Daniel menatap wajah galak wanita di hadapannya.


Ini lagi, dari dulu tidak pernah berubah. Galaknya minta ampun! Namun, semua gerutuan itu hanya ia ucapkan dalam hati.


"Terima kasih, Mbul. Maaf merepotkan," ucapnya santai sambil meraih sebuah apron dan mengikat di pinggang.


Daniel bahkan tak menyadari raut wajah Gembul yang tiba-tiba berubah.


"Ti-dak masalah."


Kala Gembul kembali ke ruang tengah, Daniel sesekali mengintip Rani di ruang tamu yang masih dapat terlihat dari dapur.


Daniel merasakan hawa panas merambat ke seluruh tubuhnya melihat Damian yang terus memandangi Rani.


Kalau saja tidak sedang menyamar, sudah aku congkel matanya dengan garpu.


...........


 

__ADS_1


__ADS_2