
Bagi Rani pernikahan impiannya adalah pernikahan yang digelar secara sederhana dengan hanya dihadiri oleh kerabat dan sahabat dekatnya. Tidak berlebihan dan jauh dari kata mewah. Serta menjalani kehidupan seperti kebanyakan pasangan lain.
Sedangkan bagi Daniel, pernikahan impiannya adalah menikah hanya dengan Elmira Maharani. Sosok yang telah berhasil merebut hatinya tanpa sisa sejak pertama kali bertemu.
Dan menghabiskan sisa hidupnya dengan bahagia bersama ratu dalam hatinya itu. Memiliki beberapa anak yang lucu dan menggemaskan.
Hari ini semua impian itu terwujud. Tanggal yang sama, orang yang sama dan cinta yang sama.
Rani tampak sangat cantik dalam balutan kebaya putih. Sejak beberapa menit lalu, ia merasa detak jantungnya tak normal. Seperti akan keluar dari tempatnya.
Sementara Daniel duduk dengan mantap di hadapan seorang wali nikah. Pria itu pun sama berdebarnya. Bahkan sudah beberapa kali menarik napas dalam demi menetralkan gemuruh dalam dadanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Elmira Maharani Binti Marshal Rahardian dengan mahar seperangkat alat shalat dan cincin berlian dibayar tunai karena Allah.” Suara lantang Daniel menggema melalui pengeras suara, membuat semua orang yang hadir menyerukan kata sah, lalu diikuti dengan pembacaan doa.
Larut dalam rasa bahagia, tanpa dapat dibendung, lelehan air mata mengalir di pipi Rani. Sekali lagi Daniel telah mengucapkan ijab kabul atas namanya. Wanita itu pun mencium punggung tangan suaminya yang kemudian dibalas Daniel dengan kecupan sayang di kening.
Sangat mendebarkan bagi keduanya.
Acara yang digelar secara sederhana itu hanya melibatkan kerabat serta anggota keluarga. Namun tetap berlangsung khidmat dan lancar. Semua orang turut bahagia dan ikut mendoakan kebahagiaan pasangan itu.
Tak terkecuali Gembul yang tak kalah bahagianya. Akhirnya Rani telah menemukan kebahagiannya yang sempat menghilang. Ia dapat bernapas lega sekarang, janjinya kepada Ibu Ambar sudah terpenuhi.
"Selamat ya, Ran ... aku sangat bahagia untuk kamu dan Daniel. Semoga kalian selalu bahagia.” Ia memeluk saudara sepupunya itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Mbul. Terima kasih karena selama ini kamu selalu ada untukku," ucap Rani. "Sekarang giliran kamu yang cari kebahagiaan sendiri. Selama ini kamu menghabiskan waktu untuk menjagaku sampai tidak punya waktu untuk diri sendiri."
"Aku bahagia kok, Ran."
Ya, mungkin sekarang wanita galak bernama asli Kania itu sedang dalam dilema. Karena beberapa waktu lalu, Aris mengajak menikah.
Walaupun Awalnya ia sempat menolak. Karena baginya, tolak ukur bahagia itu bukan hanya soal menikah. Ada banyak jalan mencari kebahagiaan lain.
"Jangan terlalu lama mikirnya, Mbul. Kamu tidak tahu kan, kalau Aris itu banyak yang suka," goda Daniel.
Gembul mendengus sebal. Suami sepupunya itu sangat senang mengganggunya. Terutama dalam hal jodoh.
"Bicara seperti itu lagi aku bawa pulang Rani ke rumah!" ancamnya serius.
Kala mendapati Aris sedang duduk di sebuah kursi di sudut ruangan, tiba-tiba sebuah ide jahil terbesit dalam benaknya.
"Oh ya, Mbul. Coba lihat di sana!" Daniel menunjuk ke sudut ruangan.
Pandangan Gembul pun mengikuti arah yang ditunjuk Daniel.
"Itu Aris sama siapa? Kelihatannya cukup dekat, ya?" ucap Daniel sambil menerbitkan seulas senyum tipis. "Kan aku sudah bilang, Aris itu banyak yang suka."
Hawa panas terasa merambat ke seluruh tubuh wanita itu. Bahkan dadanya terasa berat bagai dihimpit bongkahan batu besar. Namun, ia berusaha untuk bersikap santai seperti biasa.
__ADS_1
"Memang kenapa kalau banyak yang suka? Tidak masalah!" ucapnya acuh tak acuh.
"Yakin?" Daniel kembali menggoda. Sorot matanya meneliti wajah Gembul. Seperti mencari tanda kecemburuan di sana. "Orangnya cantik loh, Mbul. Kalau kamu lama, Aris bisa pindah ke lain hati."
Gembul menghunus tatapan tajam ke arah Daniel. Membuat pria itu merasa merinding.
"Ran, coba suruh suami kamu ini diam. Dia jadi sangat menyebalkan hari ini!"
Gembul mendengus sebal,sebelum akhirnya memilih beranjak dan berjalan menuju sudut ruangan.
Disambarnya segelas minuman berwarna merah, sambil berjalan layaknya Terminator ke arah Aris.
Lalu, seolah tak sengaja menumpahkan minuman pada wanita yang duduk bersama Aris.
"Sayang, sepupu kamu itu barbarnya luar biasa, ya?"
Rani menanggapi ucapan suaminya dengan tawa kecil. "Dia kan memang begitu dari dulu."
"Ngomong-ngomong kamu sudah pastikan malam ini dia tidak akan mengganggu kita, kan?" tanya Daniel.
"Memang kenapa?"
Daniel mengedipkan sebelah matanya. Menciptakan semburat merah di kedua sisi pipi Rani.
__ADS_1
...........