Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)

Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)
Bersama Selamanya


__ADS_3

Bahagia!


Mungkin hanya kata itu yang dapat menggambarkan perasaan Daniel sekarang. Membawa pulang Rani ke rumah sebagai istri. Mulai hari ini, kecuali maut, tidak akan ada yang memisahkan keduanya.


“Ayo masuk, Sayang!” ajak Daniel seraya membawa koper milik Rani ke dalam sebuah kamar.


Perasaan gugup seketika membekuk Rani saat kakinya melangkah memasuki kamar. Tetapi hanya dalam beberapa detik, perasaan gugup itu berganti menjadi takjub.


Betapa tidak, kamar itu telah dihias seindah mungkin. Wangi aroma terapi menjadi sambutan pertama Rani di kamar itu. Jangan lupakan kelopak bunga merah dan putih yang bertebaran di lantai.


Daniel meletakkan koper milik Rani di sisi lemari. Sementara Rani masih terpaku di tempat.


“Kamu mau mandi dulu? Biar aku siapkan air hangat untuk kamu,” tawar Daniel.


“Tidak usah, Mas. Biar aku sendiri saja,” tolak Rani lembut.


Daniel tersenyum lebar. Ini adalah pertama kali Rani menyematkan panggilan 'Mas' tanpa dipaksa seperti pernikahan sebelumnya.


"Tidak apa-apa. Sambil tunggu kamu ganti baju. Apa mau aku bantu buka?"


Rani menarik napas dalam. Seharusnya ia tak perlu gugup lagi. Mereka sudah menunggu sangat lama untuk hari bahagia ini. Tetapi entah mengapa, berdekatan dengan Daniel membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Apa lagi mulai malam ini mereka akan tidur dalam satu kamar.


"Kenapa bengong? Apa mau mandi bareng?" tanya Daniel, menyadarkan lamunan wanita itu.


Deg!


Merah sudah pipi Rani. Beberapa hari belakangan ini Daniel memang sangat senang menggodanya.


"Tidak mau. Aku mau mandi duluan!"


Rani menyambar handuk sebelum beranjak masuk ke kamar mandi dan menutupnya.


.


.

__ADS_1


.


.


.


"Kok mandinya lama?” tanya Daniel menoleh sekilas ke arah pintu kamar mandi, kemudian kembali terfokus dengan layar ponsel.


 "Aku berendam sebentar. Biar segar, hari ini capek sekali." Rani beranjak menuju sisi lemari sambil memijat tengkuk lehernya.


"Mau minum atau makan sesuatu dulu? Biar aku pesankan."


"Tidak usah, Mas. Kan tadi sebelum pulang kita sudah makan."


Daniel menerbitkan senyum tipis, kemudian mendekati istrinya. "Kamu kan butuh tenaga ekstra untuk malam ini. Kalau tidak makan mana punya tenaga," ucapnya setengah berbisik.


"Emh ... tadi bukannya Mas Daniel mau mandi, ya?" ucapnya mengalihkan perhatian.


"Mau mandi bareng sebenarnya." Ucapan frontal Daniel membuat wajah Rani semakin memerah.


Ingin sekali Daniel menyemburkan tawa melihat ekspresi panik di wajah Rani. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa di balik sosoknya yang ceria, terdapat seorang gadis yang sangat pemalu.


.


.


.


Mata Daniel membulat penuh ketika baru keluar dari kamar mandi dan mendapati Rani duduk di meja rias sambil menyisir rambut panjangnya.


Bukan karena cantiknya, tetapi karena gaun malam tipis yang memamerkan lekukan tubuhnya.


"Sayang, kamu ...."


Rani menoleh sekilas. Kemudian tersipu saat menyadari Daniel begitu terpana memandanginya. 


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Daniel berdiri di hadapan wanita yang hanya setinggi dagunya itu. Dengan penuh kelembutan mengusap puncak kepala sang istri, kemudian membenamkan kecupan sayang di kening.

__ADS_1


"Kamu benar-benar berusaha untuk menyenangkan aku, ya?"


Rani mengangguk malu-malu.


"Yakin sudah siap?"


Untuk beberapa saat, ia seperti terpaku di tempat. Ia semakin gugup karena Daniel hanya terbalut handuk sebatas lutut.


"Kenapa melihat aku begitu?" tanya Daniel menyadarkan Rani dari lamunan.


"Tidak apa-apa," jawabnya dengan suara terputus.


“Kamu kenapa sih, kaku begitu?” 


Daniel mendekati istrinya, membuat wanita itu seketika menundukkan pandangan, menyembunyikan merah di pipinya. Apa lagi Daniel belum mengenakan apapun, selain handuk yang melilit pinggangnya. 


Tangan Daniel melingkari tubuh Rani, yang membuat wanita itu semakin gemetar. Sepasang mata indah miliknya pun terpejam kala menyesap aroma segar dari tubuh sang suami.


Sangat menenangkan!


Satu tangan Rani sudah menahan dada bidang suaminya ketika pria itu semakin merapatkan tubuhnya. 


Rani semakin berdebar ketika merasakan hangat dan lembutnya bibir Daniel menyentuh keningnya. 


Ia membeku.


Rasa hangat dan damai yang tercipta membuatnya merasa tak ingin untuk beranjak dari posisi ini.


Dengan lembut, Daniel mengelus puncak kepalanya, kemudian turun ke wajah. Pria itu menatap lekat wajah istrinya yang tampak sangat cantik alami tanpa balutan make up. 


"Aku nonaktifkan ponsel kamu biar tidak ada gangguan," ujarnya. "Kamu sudah siap, kan?"


Deg!


Deg!


Deg!

__ADS_1


...........


__ADS_2