Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)

Suamiku CEO Lumpuh (Balas Dendam Pria Lumpuh)
SETELAH TANPAMU


__ADS_3

Dunia seolah sudah berhenti berputar bagi Daniel. Sekali lagi ia harus merasakan kehilangan satu-satunya alasan yang membuat hidupnya berarti. Rani pergi tanpa meninggalkan jejak, selain sebuah surat perpisahan yang membuat matanya basah setiap kali membacanya.


Ia pun telah mencari keberadaan Rani ke semua tempat yang memungkinkan, bahkan menyewa seorang detektif untuk mencari. Namun, hasilnya tetap nihil. 


Beberapa waktu lalu, ia juga mendatangi kampung halaman orang tua Rani yang letaknya cukup jauh dari ibu kota, namun tak ada tanda keberadaan Rani di sana.


Daniel tak tahu lagi harus kemana mencari.


"Mariska dan Leon, pelaku di balik video itu sudah mengakui perbuatannya, dan sudah resmi ditahan. Mereka juga sudah membuat klarifikasi di media. Nama Rani sudah dibersihkan," tutur Aris. "Elana dan Jovan juga sudah terbukti bersalah."


Daniel hanya melirik Aris tanpa semangat. "Juna bagaimana? Apa dia masih tidak mau bicara? Aku masih yakin dia tahu di mana Rani."


"Menurutku dia memang tidak tahu. Lagi pula Juna sudah dibebaskan dari semua tuduhan. Dia hanya ditetapkan sebagai korban dan saksi.” 


Mata Daniel berkilat marah mendengar informasi itu. “Apa maksudnya? Bukannya ada bukti rekaman pembicaraan Jovan dan Elana?” 


“Iya, memang.” Aris tak menampik sanggahan Daniel. “Tapi Juna berada di bawah ancaman Elana. Tidak ada bukti apapun yang memberatkan. Jadi dia hanya ditetapkan sebagai tahanan kota.” 


Daniel pun hanya dapat menghela napas panjang. Tak pula memberi respon berlebihan seolah hak itu bukanlah sesuatu yang terlalu penting.


Ia tak begitu peduli.


Sebab yang penting baginya hanya bagaimana menemukan keberadaan Rani. Menebus semua rasa sakit yang pernah ia beri, yang mungkin tak akan terhapus hanya dengan kata maaf. Jika ada kesempatan ia akan mengulang semuanya dari awal lagi.


"Ya sudah, biarkan saja." Akhirnya hanya kalimat itu yang terucap. "Yang penting semua tuduhan terhadap Rani sudah terbukti tidak benar."


Awalnya Daniel yakin akan menemukan Rani kemana pun bersembunyi. Ia juga sempat berharap terungkapnya kebenaran akan membuat Rani mempertimbangkan untuk kembali.


Namun, sepertinya Daniel salah besar.


Satu bulan ....


Tiga bulan ....

__ADS_1


Enam bulan ....


Satu tahun ....


Rani tak kunjung kembali, dan tak pula ditemukan.


Hal yang membuat Daniel mulai goyah. Perlahan keraguan mulai berkuasa mengalahkan pikiran positif yang selama ini ia tanamkan dalam dirinya. Semua perjuangan berat yang ia lalui seakan sia-sia. Memunculkan tanda tanya dalam hati.


Apakah semesta memang tak merestui?


...........


Siang itu ia dan Aris sedang menghabiskan waktu istirahat siang di kafe kantor. Sejak beberapa bulan lalu, Daniel sudah mulai aktif bekerja. Mengambil alih semua pekerjaan yang ditinggalkan Elana.


"Apa orang-orang itu belum menemukan informasi apapun tentang keberadaan Rani?" tanya Daniel.


"Belum," jawab Aris pasrah. "Rani mungkin menggunakan identitas baru. Dan itu membuat kita kesulitan melacak keberadaannya."


Daniel berpikir sejenak. "Identitas baru?"


"Iya. Seperti kamu waktu itu, mengganti Daniel Mahardika menjadi Mahardika Lanang Sutejo Soepenralegowo untuk menghilangkan jejak." Aris menyeruput secangkir kopi dengan nikmat. "Nama yang bagus," ledeknya tanpa peduli ekspresi kesal pria di hadapannya.


"Sebut nama itu lagi, kutendang kamu ke Afrika!" ancam Daniel bersungguh-sungguh.


Aris tertawa terbahak. Bos sekaligus temannya itu akan menjadi sangat kesal saat mengingat nama aneh yang pernah digunakannya untuk menyamar selama beberapa tahun.


"Aku kan memuji, bukan mengejek." Aris kembali tertawa.


Namun, Daniel tak menunjukkan reaksi apapun. Sejak kepergian Rani, ia hampir tak pernah lagi tertawa. Daniel menjadi sangat dingin dan mudah marah. Kata orang waktu dapat menyembuhkan luka hati. Tetapi sepertinya tak berlaku bagi Daniel.


"Berhenti mengoceh, itu tidak lucu!" ujarnya. Membuat Aris mengatupkan bibir menahan tawa.


"Santai sedikit. Kamu terlalu serius."

__ADS_1


"Selamat siang," sapaan seorang pria yang baru saja masuk ke kafe memutus obrolan itu.


Daniel menatap sekilas, kemudian kembali membuang pandangan.


"Siang ..."


Ia yang selalu memasang wajah datar itu kadang membuat nyali siapapun menciut. Termasuk pria yang baru saja menyapa.


"Kalau tidak bawa hasil apapun tidak usah kemari!" ujarnya dingin, nyaris tanpa ekspresi.


Pria itu menghembuskan napas perlahan. Menarik kursi dan duduk tepat di hadapan sang bos. "Aku menerima laporan tentang keberadaan seseorang yang sangat mirip Rani, tapi dengan identitas berbeda."


"Dimana?" Seolah Daniel tak sabar untuk menerima informasi selanjutnya.


Pria itu lantas mengeluarkan ponsel dari saku celana. Membukanya sebentar seperti mencari sesuatu, lalu menggesernya ke hadapan Daniel.


Bola mata Daniel seketika melebar. Jantungnya berdentam cepat tatkala melihat tayangan pada layar ponsel. Seorang wanita cantik dengan gaun indah ala negeri dongeng sedang berdiri di atas sebuah panggung teater.


Sepasang netra milik Daniel mendadak tergenang cairan bening. Ia hampir menangis.


Melihat reaksi Daniel, Aris pun menggeser posisi duduknya. Lalu ikut memperhatikan video berdurasi tiga puluh detik itu. "Dia memang sangat mirip dengan Rani. Hanya potongan rambut saja yang berbeda."


"Di mana ini?" tanya Daniel dengan nada menuntut.


"Yang pasti tidak di negara ini. Aku sedang menyelidiki sumbernya. Beberapa informasi yang kudapat kurang akurat. Ada yang bilang ini salah satu panggung teater di Italia, tapi ada juga yang mengatakan ini di Paris," tuturnya. "Makanya aku kemari untuk menanyakan, kira-kira negara mana yang memungkinkan untuk didatangi oleh Rani?"


Daniel terdiam beberapa saat, seiring dengan kenangan tentang Rani yang berputar dalam benaknya.


Ibu Rani pernah bercerita, semasa sekolah dulu, Rani sangat suka bermain opera. Ia kerap kali terlibat dalam berbagai pertunjukan. Rani pernah memiliki keinginan kecil untuk bermain opera di salah satu panggung teater ternama dunia.


Sydney Opera House ...


...........

__ADS_1


__ADS_2