
"Rani pingsan?"
Entah Aris yang salah atau tidak dalam menafsirkan reaksi Daniel. Yang dapat ia lihat sekarang hanyalah wajah panik laki-laki itu. Daniel menyambar alat bantu berjalan yang diletakkan tepat di sisinya dan langsung berdiri.
"Kenapa kamu masih duduk di situ?" ucapnya setengah frustrasi.
Kala kepanikan Daniel sudah berada di level awas, Aris masih duduk santai dengan menyilangkan tangan di depan dada. "Memang kenapa?"
"Rani pingsan dan kamu masih bisa duduk santai di sini?" pekik Daniel.
"Memang aku harus apa?" Aris mengernyit heran. "Kenapa kamu harus sepanik ini hanya karena mendengar Rani pingsan? Bukannya tadi kamu bilang dia tidak penting?"
Daniel benar-benar ingin mencekik leher Aris yang seolah sedang menantangnya. "Setidaknya aku harus memastikan dia tidak sakit parah."
"Kamu yakin mau kembali? Kita bisa ketinggalan pesawat loh." Jawaban bernada santai itu membuat Daniel mendengus.
"Apa penerbangan ke London hanya ada satu?" Sebuah pertanyaan sarkas yang memaksa Aris berdiri dari duduknya, kemudian mengikuti Daniel yang sudah melangkah lebih dulu.
Daniel bahkan tak peduli lagi dengan panggilan untuk para penumpang pesawat, yang sudah terdengar beberapa kali.
...........
__ADS_1
Hanya dalam tiga puluh menit, mobil yang ditumpangi Daniel telah tiba di rumah sederhana itu. Waktu tempuh yang terbilang sangat cepat, mengingat jarak antara bandara dengan rumah Daniel cukup jauh.
Betapa tidak, laki-laki itu beberapa kali mendesak sang sopir untuk melajukan mobil lebih cepat.
"Rani kenapa?" Daniel yang muncul tiba-tiba membuat Gembul terjingkat. Wanita itu langsung menyeka air mata yang membasahi pipinya.
"Aku tidak tahu, dia tiba-tiba pingsan."
Daniel mendekat dan mengusap sebelah pipi wanita itu. Tidak tahu perasaan apa yang tiba-tiba menjalar ke hatinya. Melihat Rani terbaring di sofa dalam balutan selimut, juga wajah pucat pasi dengan handuk kecil basah yang menempel di kening membuat hatinya seperti dicubit.
"Demamnya tinggi sekali. Kenapa kamu tidak bawa ke rumah sakit?" tanyanya nyaris berteriak, ketika merasakan suhu tubuh Rani yang tak biasa.
"Daniel!" panggil Aris sedikit menekan. Memberi kode dengan lirikan mata setelah melihat air mata Gembul yang semakin gugur. "Lebih baik sekarang kita bawa Rani ke rumah sakit."
"Gendong Rani ke mobil lah! Memang kamu bisa?" ujarnya kesal setelah membaca reaksi temannya itu.
Daniel tersadar dari rasa panik. Lalu, membiarkan Aris menggendong Rani ke mobil. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tatapan Daniel terus tertuju pada wajah pucat wanita yang terbaring di pangkuannya itu.
...........
Suasana menjadi lebih tenang setelah Rani mendapat penanganan dari dokter. Menurut hasil pemeriksaan, Rani mengalami usus buntu pecah dan harus segera dilakukan tindakan dioperasi.
__ADS_1
Gembul yang duduk bersama Aris di kursi tunggu tak henti-hentinya menangis hingga sesegukan.
"Apa Rani tidak pernah menunjukkan gejala sakit selama ini?" tanya Aris.
Gembul menggeleng pelan. "Tidak! Akhir-akhir ini dia lebih banyak diam dan tidak pernah mengeluh. Jadi aku tidak tahu kalau Rani sedang sakit."
Aris berusaha menenangkan wanita itu dengan mengusap punggungnya. "Jangan khawatir, setelah operasi nanti, Rani pasti akan baik-baik saja."
Gembul menyeka cairan bening yang mengalir di kedua sisi pipinya.
"Masalahnya sekarang aku tidak tahu harus dari mana biaya operasinya. Semua tabungan Rani sudah dihabiskan untuk membayar denda. Rumah dan mobil juga sudah dijual. Rani sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang."
Aris tampak cukup terkejut mendengar pengakuan wanita di sampingnya. "Maaf, aku benar-benar tidak tahu kalau Rani sampai harus menghabiskan semua aset dan tabungannya."
"Dia menyimpan semua masalahnya sendiri. Tadi Rani baru saja selesai mengemasi pakaiannya. Tapi tiba-tiba saja pingsan."
"Mengemasi pakaian? Memang Rani mau ke mana?"
"Dia bilang tidak enak tinggal di rumah itu lagi karena Daniel akan menceraikannya. Jadi dia memutuskan menyewa sebuah rumah untuk tempat tinggal."
Aris menarik napas panjang mendengar setiap kalimat yang diucapkan Gembul.
__ADS_1
Sementara dari balik pintu, Daniel membeku mendengar Gembul yang berbicara dengan tersendat-sendat menahan tangis.
...........