
Layaknya berada dalam mesin waktu, kenangan berputar dalam benak Daniel dan membawanya ke masa lalu.
Hari itu pertama kalinya ia membuka mata setelah koma selama berbulan-bulan dalam keadaan tak dapat menggerakkan sepasang kakinya.
Nama pertama yang terucap dari mulutnya hanyalah Rani, dengan harapan besar, bahwa wanita yang dicintainya itu akan menjadi orang pertama yang dilihatnya kala terbangun. Namun, semua harapan itu kosong. Tak ada Rani di sisinya.
Kala Daniel menanyakan keberadaan Rani, sungguh menyedihkan, foto-foto kebersamaan wanita itu dengan seorang pria yang tersebar di jejaring sosial menjadi sambutan pertama Daniel kala itu. Di susul dengan sebuah surat dengan tulisan tangan Rani yang diberikan Elana.
Daniel masih ingat betul, betapa menyakitkan setiap kata yang tertulis dalam kertas putih itu. Yang telah berhasil merubah cinta menjadi kebencian dan menumbuhkan bibit dendam. Satu hal yang dirasakan Daniel, ia ingin membalas semua pengkhianatan Rani dan membuatnya merasakan apa yang ia rasakan.
....
Mata Daniel terpejam seiring dengan kenangan yang membuyar dalam ingatannya. Ia menatap Gembul yang duduk tepat di hadapannya dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
“Kamu tidak sedang berbohong kan?” tanyanya dengan suara bergetar.
Gembul tertawa pelan, tetapi sepasang mata sipit miliknya berkaca-kaca. “Sebenarnya yang jadi korban di sini itu Rani, bukan kamu!” Ia berapi-api menunjuk Daniel. Sedangkan Daniel diam membiarkan Gembul meluapkan isi hatinya. “Secara tidak langsung kamu yang menyebabkan kematian Tante Ambar, dan bodohnya lagi kamu merasa sebagai korban!”
Seluruh tubuh Daniel seperti meremang mendengar kata demi kata yang diucapkan Gembul. “Bukannya waktu itu Elana mengirim orang untuk memberitahu bahwa aku kecelakaan? Tapi Rani malah—”
“Yang benar adalah Elana berbicara yang bukan-bukan tentang Rani dan kamu menelan mentah-mentah semua kebohongan rubah beracun itu!” Secepat cahaya kilat, Gembul memotong ucapan Daniel.
Elana berbohong? Tetapi mana mungkin? Pertanyaan itu terus menghantui Daniel. Bukankah mereka sudah berteman sejak kecil?
Secara perlahan, hati kecilnya mulai mengurai benang kusut dari semua rentetan kejadian di masa lalu, meskipun belum berani mengambil kesimpulan.
Jika dipikirkan lagi, semua kejadian itu memang sangat janggal, tetapi kekecewaan membuat Daniel kala itu lebih menggunakan emosi dibanding logika. Terlebih ia terbangun dari koma dalam keadaan lumpuh dan tak dapat berbuat apapun selain terbaring.
__ADS_1
“Kamu lupa berapa tahun Rani menunggu dengan sabar, bahkan saat dia sendiri tidak tahu seperti apa calon suaminya? Kamu juga tidak tahu kan bagaimana Rani menjalani hari-hari yang berat beberapa tahun belakangan ini setelah kepergian Tante Ambar?”
Detik itu juga Daniel bagai tersengat aliran listrik. Mulutnya seperti terkunci hingga tak ada sepatah katapun yang dapat terucap. Hanya tatapannya yang seketika tertuju pada wajah pucat Rani.
“Kamu tidak tahu bagaimana Rani membangun kembali hidupnya yang sudah hancur. Dan hanya karena satu video yang belum jelas, semua orang sudah menghakimi dia seenaknya. Dan apa yang kamu lakukan?”
Daniel membisu. Bukannya menjadi pelindung bagi Rani, ia malah menambah deretan luka di hati wanita itu.
“Apa sekarang kamu datang untuk mengulurkan tangan dan meminta maaf? Sudah terlambat! Rani sudah kehilangan semuanya.”
Lelaki pantang meneteskan air mata, adalah satu prinsip yang selama ini dipegang teguh oleh Daniel. Ia tidak akan pernah menangis dalam situasi apapun dan seberat apapun. Tetapi hari ini, ia telah mematahkan prinsipnya sendiri. Sepasang mata tajam layaknya elang itu melelehkan air mata.
...........
__ADS_1