
Daniel tersenyum kecut sambil menggaruk kepala setelah mendapat amukan oleh Gembul. Apa lagi tatapan Gembul sekarang seperti hendak menelannya hidup-hidup.
Sedangkan Rani langsung bangkit dari duduknya. Menarik ujung kemeja demi menutupi paha putih mulusnya.
Tatapan Gembul sangat mengintimidasi. Rani masih ingat perihnya tamparan Gembul saat pertama kali melihat video panas yang melibatkannya tahun lalu.
Begitu Gembul menerobos masuk, Rani bereaksi dengan cepat. Meletakkan kedua tangan di pipi, setidaknya sebagai perlindungan jika saja Gembul menyerangnya dengan tamparan lagi.
“Kenapa kamu pakai baju ini?” Gembul menunjuk kemeja yang membalut tubuh Rani.
“Emh ... aku pinjam kemejanya Daniel.”
“Pakaian kamu sendiri ke mana? Kenapa harus pakai baju dia?”
“Bajunya ketumpahan saus, Mbul. Jadi harus dilaundry, dan aku tidak punya pakaian ganti.”
Rani memang tak berbohong. Semalam menjelang tidur, ia dan Daniel sempat makan dan tanpa sengaja pakaiannya terkena saus. Beruntung Daniel selalu membawa pakaian ganti di mobil. Dan itu sudah menjadi kebiasaannya sejak lama.
Gembul masih menatap Daniel tajam. “Awas saja kalau kamu berani macam-macam sebelum menikahi Rani.”
“Kan sudah tahun lalu, Mbul,” celetuk Daniel membela diri.
__ADS_1
"Itu tidak sah! Karena kalian menikahnya setingan."
"Tapi buku nikahnya masih ada kok, kalau kamu mau lihat."
"Tetap saja tidak sah namanya. Salah kamu sendiri kenapa waktu itu pakai identitas palsu. Jadi hitungannya kalian tetap harus menikah ulang!"
"Iya, Mbul. Ampun! Jangan galak-galak napa?" protes Daniel.
"Kelakuan kamu yang bikin aku jadi galak begini! Untung aku tidak ada riwayat jantung."
Daniel mengatupkan bibir demi menahan semburan tawa. Terkadang tingkah Gembul yang posesif terlihat sangat lucu baginya.
"Ngomong-ngomong, kamu ancam Aris pakai jurus apa sampai dia bocor?" tanya Daniel yang meyakini Gembul mendapat informasi tentang keberadaannya dari Aris. Sebelum menyewa apartemen di sebelah Rani, Daniel memang tinggal di hotel itu.
"Aku tidak mengancam. Aku cuma bilang Rani menghilang dan aku tidak tahu harus minta tolong siapa. Dia jadi panik dan memberikan alamat hotel tempatmu menginap."
"Sial! Seharusnya semalam bukan ke hotel ini, tapi ke hotel lain saja."
Seminggu berlalu tanpa terasa.
Rani sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Mereka akan meninggalkan kota Sydney hari ini. Akhirnya setelah satu tahun hidup dalam persembunyian, ia akan kembali kepada kehidupan yang sebenarnya.
__ADS_1
“Ah, aku senang sekali hari ini kita akan kembali.” Gembul mendorong kopernya keluar dengan wajah berbinar bahagia.
Nyatanya hidup di negara orang tak begitu menyenangkan baginya. Butuh perjuangan untuk beradaptasi. Mulai dari perbedaan cuaca hingga budaya, dan terutama dalam hal makanan.
Gembul masih ingat pertama kalinya tiba di Sydney. Semua serba sulit. Belum lagi Rani yang butuh istirahat panjang setelah menjalani operasi.
"Daniel ke mana, ya? Tiga jam lagi kan jadwal pesawatnya," tanya Gembul sambil melirik jam tangannya.
"Katanya keluar sebentar mengembalikan mobil yang disewa."
Gembul menjatuhkan tubuhnya di sofa. Sambil sesekali melirik adik sepupunya. Sejak bertemu kembali dengan Daniel, Rani terlihat sangat ceria.
Bukan lagi Rani yang selalu ceria di luar, namun di malam hari menyembunyikan air mata.
"Oh ya, Ran ... apa kamu sudah membicarakan tanggal pernikahanmu dengan Daniel?"
Seulas senyum terlukis di sudut bibir Rani. "Sudah, Mbul. Tanggal yang sama dengan yang sebelumnya."
Gembul menganga tak percaya. Bagaimana mungkin Daniel dan Rani masih memilih tanggal pernikahan yang sama seperti sebelumnya.
"Apa kamu tidak trauma dengan tanggal itu?"
__ADS_1
Rani menggeleng pelan. "Aku mau menghilangkan semua kenangan buruk di hari itu dan menutupnya dengan kenangan yang indah."