
Gembul menyandarkan punggung lelahnya pada kursi ruang tunggu. Seluruh sisa tenaga yang dimilikinya seperti terkuras habis setelah meluapkan seluruh kemarahannya terhadap Daniel. Wanita itu masih mengatur napasnya yang memburu, ketika terdengar derap langkah yang berasal dari ujung lorong rumah sakit.
Gembul menatap pria yang berhenti tepat di hadapannya. “Jovan ....”
“Maaf, aku baru sempat datang.” Jovan memilih duduk di sisi Gembul. “Bagaimana keadaan Rani?”
“Sudah lebih baik. Tapi masih demam. Dokter bilang, itu normal dialami pasien yang baru menjalani operasi.”
Pria berkacamata itu pun mengangguk sambil bernapas lega. “Syukur deh. Aku ikut senang. Boleh aku melihatnya?” Baru saja akan berdiri, namun Gembul menahan tangannya.
“Tunggu dulu! Di dalam ada Daniel,” ungkap Gembul membuat Jovan tersentak dengan kelopak mata melebar.
“Daniel?”
“Iya. Dia bilang mau menemani Rani. Jadi aku mau pulang dulu supaya besok bisa gantian jaga Rani.” Ucapan Gembul pun berhasil menciptakan kerutan dalam di kening temannya itu.
“Bukannya waktu itu kamu bilang dia mau menggugat cerai Rani, ya? Apa mereka berbaikan?”
Gembul menjawab dengan bahu terangkat dan hela napas panjang. Ia pun tak tahu akan seperti apa hubungan Rani dan Daniel kedepannya. “Terlalu rumit. Kasihan mereka berdua.”
“Maksud kamu?” tanya Jovan semakin tak mengerti.
“Aku juga belum mengerti sepenuhnya, Van. Daniel bilang baru mau menanyakan ke Elana besok.”
__ADS_1
“Memangnya Bu Elana kenapa? Dan ada hubungan apa antara mereka dengan Bu Elana?”
Pertanyaan beruntun itu membuat Gembul jengkel setengan mati. Jika tidak sedang dalam keadaan sangat lelah, Gembul pasti sudah menghadiahi Jovan dengan tepukan di kepalanya, seperti yang kerap ia lakukan.
“Ya mana aku tahu, Van! Yang jelas sekarang Daniel itu sedang dalam keadaan marah besar. Ternyata waktu itu Daniel tidak datang ke pernikahan karena kecelakaan, bukan karena membatalkan begitu saja, seperti yang Rani pikir selama ini.”
Jovan kembali tersentak.
“Sekarang aku yakin ada yang mau mengadu domba mereka.”
Meskipun tampak sangat terkejut, namun Jovan tak banyak berkomentar. Niat untuk melihat kondisi Rani pun ia urungkan karena Daniel tak kunjung keluar dari ruangan itu. Ingin masuk pun rasanya tidak enak.
“Lebih baik sekarang kamu antar aku pulang!” pinta Gembul seraya memijat tengkuk lehernya. Hari ini ia merasa cukup lelah dan butuh istirahat.
“Pulang ke kontrakan baru?”
Gembul sudah berdiri meninggalkan tempat duduknya, sementara Jovan terlihat enggan. “Kamu tega meninggalkan Rani?”
Rasanya, Gembul benar-benar ingin menggigit Jovan. “Rani tidak sendirian, di dalam ada suaminya.”
“Tapi mereka belum baikan sepenuhnya, kan? Bagaimana kalau Rani bangun nanti dan cari kamu.”
“Kamu ini kenapa sih, Van? Justru bagus kalau hanya ada Daniel. Jadi mereka ada kesempatan untuk bicara berdua.”
__ADS_1
Kesal, Gembul pun melangkah pergi. Dengan terpaksa, Jovan pun mengikuti.
...........
Sejak semalam, Daniel tak bergeser sedikitpun dari posisinya. Seolah tak bosan, ia terus memandangi wajah Rani ketika baru terbangun.
Percaya atau tidak, ini adalah pertama kali ia berlama-lama memandang wajah itu secara langsung, dari jarak yang sangat dekat. Dulu, ia hanya berani melakukannya dari jarak jauh.
“Ibu kamu benar ... kamu sangat cantik.”
Daniel meraih jemari wanita itu. Lalu, mengangkatnya hingga menyentuh pipinya. Sementara tangan kanannya membelai puncak kepala Rani.
“Maafkan aku. Seharusnya sejak awal aku melindungi kamu.”
Daniel kemudian mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Ia tampak serius menatap layar ponsel sambil menggerakkan jari jempolnya naik turun. Lalu, mendekatkan benda pipih itu pada daun telinga.
"Ada apa?" Suara Aris menyapa di ujung telepon.
“Hari ini minta Elana mengosongkan waktunya beberapa jam untuk aku. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan dia,” jawab Daniel cepat.
"Baiklah, aku akan segera menghubungi dia."
Panggilan berakhir. Daniel meletakkan ponsel di atas meja, lalu kembali menatap Rani dalam-dalam. Entah dorongan dari mana, ia memberanikan diri membenamkan bibirnya di kening wanita itu.
__ADS_1
"Daniel!" Suara panggilan itu membuat Daniel terjingkat.
...........