Suamiku Dosen Galak

Suamiku Dosen Galak
Bab 1


__ADS_3

Namaku Ayunindya Hanin, teman-temanku biasa memanggilku Hanin. Usiaku baru menginjak 20 tahun dan aku juga seorang mahasiswi di universitas ternama di kota A ini


Bu Ima dia ibu panti yang mengasuhku, aku sudah menganggap bu Ima seperti ibu kandungku sendiri dan dia juga sangat menyayangiku


"Hanin masuklah nak" ucap seorang pria paruh baya yang akan menjadi mertuanya itu


"Terimakasih pak" ucap Hanin sopan. Hanin sangat takjub dengan kemewahan rumah itu


"Mas siapa gadis ini?" tanya wanita paruh baya namun masih terlihat sangat cantik


"Rani dia wanita yang aku ceritakan, Hanin dia istriku" ucap Ardie


"Selamat siang bu" sapa Hanin sopan


"Selamat siang sayang" jawab Rani tersenyum lembut pada Hanin


"Apakah dia calon menantu kita mas?" tanya Rani


"Iya, dia calon menantu kita" jawab Ardie


"Kemarilah nak" ucap Rani menepuk sofa di sebelahnya, Hanin pun menurut dan duduk di samping Rani


"Mas, apa kamu sudah membicarakan ini dengannya?" tanya Rani


" Untuk apa bertanya, mau tidak mau dia harus mau" jawab Ardie tegas


"Mas kamu tau kan bagaimana sifatnya?" tanya Rani khawatir


"Kamu tenang saja. Apa dia sudah datang?" tanya Ardie


"Dia berada di kamarnya" jawab Rani


"Bi tolong panggilan tuan muda" titah Ardie


"Baik tuan besar" jawab bini dan segera menuju kamar tuan mudanya


"Hanin berapa usiamu sayang?" tanya Rani


"20 tahun bu" jawab Hanin memunduk


"Ibu dengar kau mahasiswi yang berprestasi di kampus?" tanya Rani lembut


"Tidak bu, masih ada yang diatas saya" jawab Hanin sedikit malu


"Ada apa memanggilku?" ucap pria tampan dan tinggi yang baru turun dari lantai dua


''Astaga bukannya dia dosen yang terkenal galak itu'' batin Hanin


"Duduk" ucap Ardie, pria itu pun menurut dan duduk di samping Ardie


"Hanin perkenalkan dia Darren putraku, dan calon suamimu" ucap Ardie, namun Hanin tak berani menatap wajah pria itu, karna tatapannya sangat menakutkan


"Apa maksud papa?" tanya Darren menatap tajam papanya


"Papa ingin kamu menikah dengan wanita pilihan papa" ucap Ardie


"Anak panti asuhan ini ?" tanya Darren menatap Hanin tajam


"Aku tidak mau, aku sudah memiliki pilihanku sendiri" ucap Darren


"Siapa? Sandra?" tanya Ardie

__ADS_1


"Sampai kapanpun papa tidak akan menyetujui hubunganmu dengan wanita itu" ucap Ardie


"Aku tidak butuh persetujuan papa" ucap Darren datar


"Darren, hormatilah papamu nak" ucap Rani lembut


"Diam kamu, aku tidak butuh komentarmu" ucap Darren lantang membuat Hanin dan Rani terkejut


"Darren jaga ucapanmu, biar bagaimanapun dia adalah ibumu" ucap Ardie


"Maaf pak, mungkin lebih baik bapak batalkan saja niatan bapak. Lagipun tuan muda sudah memiliki kekasih" ucap Hanin menunduk


"Bagus, ternyata kamu cukup tau diri. Siapa kamu ingin menikah denganku? Kau hanya anak yatim piatu yang tidak tau siapa orang tuanya" ucap Darren


Deg... Mendengar itu, Hanin merasa sakit hati pada Darren


"Darren" teriak Ardie


"Kenapa apa aku salah bicara?" tanya Darren merasa tak bersalah


"Anda memang benar tuan, saya memang tidak memiliki orang tua, tapi saya masih bisa menghormati orang tua dan tidak kasar terhadap seorang ibu" ucap Hanin mencoba menahan air matanya


"Bibi, bantu saya bawa nona Hanin untuk istirahat dulu" ucap Ardie


"Baik tuan. Mari nona saya antar ke kamar anda" ucap bi Ani


"Terimakasih bi" ucap Hanin tersenyum


"Darren, jika kau memang ingin menikah dengan Sandra pergilah. Tapi mulai hari ini kau bukan lagi putraku bukan lagi keluarga pramana" ucap Ardie tegas


"Mas, apa yang kamu katakan?" tanya Rani tak percaya


Tanpa menjawab Darren pun pergi tanpa pamit


"Baik mas" jawab Rani sambil menggosok punggung suaminya itu


**


Dengan perasaan marah Darren pun keluar menuju apartemen kekasihnya itu


Saat di tengah jalan, tanpa sengaja mata Darren melihat seseorang yang dia kenal


"Sandra, benarkah itu dia?" tanya Darren pada dirinya sendiri. Darren langsung memikirkan mobilnya di depan cafe tersebut


"Sandra apa yang kau lakukan disini?" tanya Darren


"Sa...sayang a...aku aku sedang menemani kakakku belanja" ucap Sandra gugup


"Bukannya kau tidak memiliki saudara?" tanya Darren


"Ah dia kakak sepupuku" ucap Sandra mencoba tetap tenang


"Marvin Kenalkan dia kakak iparmu" ucap Sandra


"Salam kenal kakak ipar" sapa Marvin tersenyum


"Hemmh, maaf aku salah paham padamu" ucap Darren mengecup kening Sandra


"Tidak apa sayang" ucap Sandra


Disisi lain...

__ADS_1


"Hanin maafkan Darren ya, ibu tau kau pasti marah dengan ucapan Darren" ucap Rani


"Tidak apa bu" jawab Hanin tersenyum lembut


"Hanin kalau ibu boleh tau kau tinggal di panti asuhan mana?" tanya Rani


"Saya tinggal di panti asuhan rumah kasih bu" jawab Hanin


***


Setelah makan bersama, Darren dan Sandra kembali ke apartemen Sandra


"Sayang ada apa, kenapa kamu terlihat gelisah?" tanya Sandra sambil memainkan jari Darren


"Sayang apa kamu mau jika kiaa segera menikah?" tanya Darren


"Tentu saja aku mau" jawab Sandra


"Sandra tapi setelah menikah, kita akan keluar dari keluarga Pramana" ucap Darren


"Keluar?" tanya Sandra bingung


"Iya, aku bukan lagi tuan muda Pramana" ucap Darren


''Kalau dia sampai keluar dari keluarga Pramana, bagaimana denganku nanti'' batin Sandra


"Sayang, kenapa tiba-tiba kau bicara seperti itu?" tanya Sandra


''Papaku meminta aku segera menikah dengan wanita pilihan papa'' ucap Darren


''Darren kenapa kau tak menuruti permintaan papamu saja?'' tanya Sandra


''Apa kau senang aku menikah dengan wanita lain?'' tanya Darren


''Apa yang bisa aku lakukan jika semua ini keputusan papamu" ucap Sandra


"Bagaimana kalau kita kawin lari saja?" ajak Darren


"Darren menikah bukanlah ham yang mudah. Jadi kita tunda dulu rencana kita untuk menikah" tolak Sandra


"Intinya kau tidak mau menikah denganku" ucap Darren dan segera pergi dari apartemen Sandra


***


Di tempat lain..


Hanin yang sedang membantu bi Ani memasak tiba-tiba di kagetkan dengan suara Rani yang tiba-tiba berada di belakang Hanin


"Hanin apa yang kamu lakukan nak?" tanya Rani


"Ah... Ini bu saya sedang membantu bi Ani masak" jawab Hanin


"Maaf nyonya, saya sudah melarangnya tapi nona tetap memaksa" ucap bi Ani


"Tidak apa bi, mungkin Hanin suka memasak" ucap Ardie yang baru turun


"Hanin, mulai sekarang kau panggil kami mama dan papa ya?" pinta Rani


"Eeeh sepertinya itu kurang sopan bu" ucap Hanin


"Apanya yang tidak sopan, sebentar lagi kau akan menjadi menantu kami" ucap Ardie

__ADS_1


Ba...baik ma pa" ucap Hanin gugup


Setelah itu, Hanin dan bi Ani segera menghidangakn masakannya di meja makan. Sambil menunggu waktu makan malam, Hanin menyempatkan untuk mengerjakan tugasnya


__ADS_2