Suamiku Dosen Galak

Suamiku Dosen Galak
Eps 47


__ADS_3

Rainer yang baru datang di rumah sakit mendengar kabar bahwa Risa pingsan karna ledakan itu langsung menghampiri Risa


''Sayang bangunlah, sampai kapan kau akan tidur?'' ucap Rainer menggemggam tangan kekasihnya itu


''Rai kau tidak apa-apa?'' tanya Risa yang baru membuka matanya melihat ada Rainer di hadapannya


''Aku tidak apa-apa sayang'' ucap Rainer memeluk Risa dengan erat


''Aku pikir terjadi sesuatu padamu, aku takut kau meninggalkanku saat aku masih belum siap kehilanganmu'' ucap Risa memeluk Rainer


''Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu'' ucap Rainer lalu mengecup kening Risa lembut


''Lalu bagaimana dengan yang lain?'' tanya Risa


''Semua baik-baik saja. Hanya saja Hanin sekarang berada di ruang VIP karna mendadak dia mengerang kesakitan'' ucap Rainer


''Rainer aku ingin melihat keadaan Hanin'' ucap Risa


Saat Rainer membantu Risa turun, tiba-tiba Dani mengatakan kondisi Gavin saat ini


Terkejut, tentu saja Rainer dan Risa terkejut mendengar kondisi Gavin. Risa dan Rainer segera menuju ruang perawatan Gavin


.


.


Hanin yang baru sadar perlahan megerjapkan matanya berulang kali untuk menyempurnakan pandangannya yang masih sedikit kabur


''Emh, dimana ini'' ucap Hanin melihat sekelilingnya


''Sayang kamu sudah bangun'' ucap wanita paruh baya itu


''Ibu, kenapa ibu ada disini?'' tanya Hanin memeluk bu Ima


''Ibu sangat mengkhawatirkan kamu, kenapa kamu tidak memberi tau ibu jika kamu hamil?'' tanya bu Ima


''Maaf bu, Hanin masih belum sempat mengunjungi ibu'' ucap Hanin terlihat manja


''Ibu, kemana semua orang kenapa terlihat sepi?'' tanya Hanin bingung


''Tadi saat ibu datang memang sudah sepi, tapi mamamu mengatakan untuk menjagamu sebentar karna dokter Gavin kritis'' ucap bu Ima


''Apa Gavin kritis?'' ucap Hanin menutup mulutnya


''Kenapa, apa dia juga anggota keluarga suamimu?'' tanya bu Ima, Hanin memggelengkan kepalanya


''Dia lebih dari keluarga'' jawab Hanin meneteskan air matanya


''Entah apa yang akan terjadi bila tidak ada Gavin di samping Hanin, pasti saat ini yang terbaring di sana adalah Hanin'' ucap Hanin mengingat betapa besar pengorbanan Gavin untuk melindungi Hanin


''Agra, apa kau di luar?'' tanya Hanin yang melihat bayangan seorang pria berdiri di balik pintu kamar rawat Hanin


''Saya Dion nona'' ucap Dion masuk


''Paman bantu aku untuk melihat keadaan Gavin'' ucap Hanin


''Baik nona, tunggu sebentar'' ucap Dion keluar dan kembali dengan membawa kursi roda


Dion langsung mengangkat tubuh Hanin dan mendudukkannya di kursi roda itu


''Ibu ayo kita susul mereka, aku juga ingin tau bagaimana keadaan Gavin'' ucap Hanin menuntun tangan bu Ima, dan Dion mendorong kursi roda Hanin


''Paman, bagaiamana keadaan yang lain setelah ledakan itu?'' tanya Hanin


''Semua aman nona'' ucap Dion, dia tidak mengatakan bahwa para pengawal banyak yang mati karna ledakan itu

__ADS_1


.


Saat sampai di sana, terlihat semua menunduk juga para sahabat Hanin pun saling memeluk dan menangis . Bahkan terlihat seorang wanita menangis histeris di depan sana, dan Rani mencoba menenangkan wanita itu


''Paman berhenti disini'' ucap Hanin sedikit jauh dari mereka


''Kenapa nona tidak kesana?'' tanya Dion


''Aku belum sanggup dengar keadaan Gavin paman, ini salahku, Gavin mengorbankan nyawanya untukku'' ucap Hanin yang sudah berderai air mata


''Nona ini bukan salah anda, ini memang tugas seorang pengawal'' ucap Dion


''Dia bukan pengawal, tapi dia seorang dokter dan sahabat bagiku'' ucap Hanin mengingat semua kelucuan yang di buat Gavin


''Jika ada kehidupan berikutnya, aku ingin dia menjadi kakak atau orang yang paling berharga bagiku'' ucap Hanin


''Nona, apa perlu saya memanggil tuan muda?'' tanya Dion


''Tidak perlu jangan dulu paman'' ucap Hanin yang masih melihat dari kejauhan


Selang berapa lama, dokter keluar denaan wajah yang tak bisa diartikan


Hanin dapat melihat jelas raut wajah dokter itu, perasaan Hanin sudah mulai tak enak, degup jantung Hanin juga berderai semakin cepat menunggu kata-kata yang keluar dari mulut dokter itu


Hanin mencoba berdiri dan di bantu oleh bu Ima, perlahan dia berjalan menghampiri mereka, dan langkah Hanin terhenti saat dokter mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan bagi Hanin, mungkin juga untuk para sahabat Gavin dan dirinya


''Maaf, kami sudah berusaha tapi tuhan lebih menyayangi putra ibu'' ucap dokter, jelas saja ibu itu kembali berteriak histeris


''Hanin, tetap tenang ya'' ucap bu Ima mengingatkan


''Tidak... '' seketika saja Hanin terduduk lemas


''Nona'' ucap Dion, seketika pandangan mereka beralih pada Hanin yang sudah lemas


''Sayang'' pelik Darren dan Rani berlari menghampiri Hanin


''Ini salahku, ini salahku'' ucap Hanin tak jelas


''Hanin apa maksudku? Apa yang salahmu?'' tanya Darren bingung


''Gavin pergi gara-gara aku'' ucap Hanin merasa bersalah


''Hei nona, apa kau pikir aku selemah itu?'' tiba-tiba ucap seorang pria


''Kau?''...


.


.


.


Di negara lain, seorang pria mengamuk tak jelas, dia melempar semua barang yang ada di dekatnya pada para bawahannya


''Dasar bodoh, kenapa kalian tidak bisa menangkap wanita itu. Malah orang lain yang menangkap Hanin'' ucapnya


''Maaf tuan'' ucap anak buahnya


''Maaf kau bilang, dasar tak berguna'' ucap Charles dan langsung menembak anak buahnya itu


''Cepat pergi, aku mau dalam waktu dekat ini, dia sudah berada di sini'' ucap Charles


''Tuan, saya ada rencana'' ucap Antoni


''Katakan'' ucap Charles, Antoni langsung membisikkan sesuatu pada Charles

__ADS_1


Entah apa yang di katakan Antoni membuat Charles tersenyum licik


''Lakukan saja, aku tau kau tidak akan mengkhianatiku seperti Doni bajingan itu'' ucap Charles


''Tenang saja tuan, kalian cepat pergi dan jalankan rencananya'' ucap Antoni


''Baik tuan'' ucap beberapa anak buahnya itu


Setelah itu Antoni beranjak pergi karna melihat seorang wanita menghampiri tuannya


''Sayang, apa yang terjadi?'' tanya wanita itu duduk di pangkuan Charles


''Tidak ada apa-apa, kenapa kau datang?'' tanya Charles


''Tentu saja aku merindukanmu'' ucap Celin ya dua adalah Celin


''Baiklah karna kau sudah merindukanku, aku tidak akan mengecewakanmu'' ucap Cherles


''Baiklah, aku akan memuaskanmu'' ucap Celin berbisik


Setelah itu, Charles membawa Celin ke kamar miliknya dan entah apa yang dia lakukan di dalam kamar itu


.


Sedangkan di sisi lain, seorang pria terikat di ruang yang sangat gelap dan tidak ada cahaya sedikit pun


Namun tiba-tiba seseorang membantunya melepas ikatan itu dengan cahaya ponsel miliknya


''Siapa kau?'' tanya pria itu


''Aku akan katakan nanti, setelah kita pergi dari sini'' ucap pria itu terus membantu pria itu pergi dari tempat itu


''Tidak akan mudah keluar dari tempat ini'' ucap Doni


''Bukankah kau tau beberapa tempat rahasia disini?'' tanyanya


''Pergilah, ada yang datang'' ucap Doni


''Kembali seperti posisi semula'' ucapnya dan langsung pergi dari tempat itu


.


Sangat di sayangkan, asisten sepertimu jadi pengkhianat'' ucap Antoni


''Heh dari dulu aku tidak pernah berbuat menjadi bawahan Charles'' ucap Doni menyeringai


''Aku ingin lihat sampai kapan kau bisa bertahan disini'' ucap Antoni sinis


''Ck membosankan'' ucap Doni menantang


Setelah itu, Antoni keluar dari tempat itu. Dan pria itu kembali lagi dan segera membawa Doni kabur


''Kenapa kau terlihat sangat pucat?'' tanya pria itu melewati lorong yang sangat sempit dan kecil


''Tidak makan dan minum satu minggu bagaimana bisa tidak pucat. Aku manusia bukan iblis'' ucap Doni mengikuti pria itu


''Hah, ternyata mulutmu lebih pedas dari pada Dion'' ucapnya


''Kau mengenal kakakku?'' tanya Doni


''Hust, lihat'' ucapnya menunjuk arah depan


''Apa ini pintu keluar?'' tanya Doni


''Jangan bicara, suara kita bisa terdengar dari atas sana'' bisiknya

__ADS_1


Akhirnya mereka bisa keluar, namun tiba-tiba seseorang menyadari keberadaan mereka


''Hei tangkap mereka''...


__ADS_2