
''Darren'' teriak Ardie
''Pa...papa kenapa papa disini?'' tanya Darren terkejut begitupun dengan Sandra
''Kenapa apa kau terkejut putraku'' ucap Ardie yang sudah terbakar emosi
Mendemgar teriakan Ardie, Rani segera menghampiri suaminya itu
''Mas, ada apa? Astaga Darren apa yang kau lakukan Darren'' ucap Rani menutup mulutnya
''Sandra kamu memang wanita murahan, bukannya kamu bilang kamu akan meninggalkan putraku?'' ucap Ardie membuat Sandra sedikit panik
''Apa maksud papa?'' tanya Darren
''Lihat baik-baik gunakan matamu untuk melihat semua foto di hadapanmu itu'' ucap Ardie melempar benerapa foto pada Darren
''Aku sudah tau semuanya. Tapi ini semua hanya masa lalu'' ucap Darren
''Lalu apa kau juga sudah tau, jik Sandra menerima uang dariku, dan dia berjanji akan meninggalkan kamu satelah dia mendapatkan uang itu?'' tanya Ardie dan tentu saja membuat Darren tak percaya
''Tidak mingkin pa, Sandra bukan wanita seperti itu'' ucap Darren membela Sandra
''Tuan muda silahkan anda lihat ini'' ucap Dion memberikan laptopnya pada Darren
Flashback On
Satu bulan yang lalu, Ardie menemui Sandra di apartemennya
"Ada apa kiranya tuan besar pramana mencari saya?" tanya Sandra
"Katakan apa yang kau inginkan dan kau bisa tulis nominal yang kau inginkan" ucap Ardie memberikan selembar cek pada Sandra
"Kenapa anda bisa berpikir saya akan menerimanya?" tanya Sandra tersenyum licik
"Apa kau pikir aku bodoh, aku tau kau sama sekali tidak pernah menyukai putraku. Aku juga tau bukan hanya putraku saja yang menjadi korbanmu" ucap Ardie menatap Sandra
"Ternyata anda menyelidiki saya tuan, baiklah karna anda sudah tau saya mengakui kalau saya memang tidak pernah mencintai putra anda tuan" ucap Sandra tetap tenang
"Wanita mana yang tahan bila berpacaran hanya tidur bersama tapi tidak melakukan hal yang dewasa" ucap Sandra membuat Ardie emosi
"Cepat tulis dan langsung tinggalkan putraku" ucap Ardie
''Baiklah terimakasih atas kebaikan anda tuan'' ucap Sandra yang langsung mengambil cek itu
Flashback Off
''Katakan apa dalam video itu benar?'' tanya Darren dingin
''Ti...tidak itu itu hanya settingan'' ucap Sandra mengelak
''Settingan kau bilang, Dion tunjukkan akun bank milik Sandra'' ucap Ardie
Sesuai perintah Dion pun menunjukkan akun bank Sandra pada Darren
''Kau berani membohongiku'' ucap Darren yang langsung mencekik leher Sandra saat mengetahui akun bank Sandra
''Tuan muda hentikan, anda bisa membunuh nona Sandra'' ucap Dion
__ADS_1
''Dareen hentikan'' ucap Ardie
''Darren hentikan, tenang nak kamu tenang'' ucap Rani menggenggam tangan Dareen dengan lembut
Sentuhan tangan Rani membuat Darren perlahan melepasakan Sandra
''Kenapa aku sangat bodoh, kenapa aku bisa mencintai wanita sepertimu'' ucap Darren yang masih dalam keadaan emosi
''Darren'' panggil Rani sambil menangis saat tiba-tiba Darren memeluknya dengan erat
''Pergi kamu dari sini, dan jangan pernah muncul lagi di hadapan putraku lagi'' ucap Ardie geram pada Sandra
''Tunggu, ambil semua fasilitas yang aku berikan padanya'' ucap Darren
''Tapi semua itu sudah menjadi milikku'' ucap Sandra sambil memegangi lehernya
''Ambil paksa Dion'' ucap Darren
''Baik tuan muda'' ucap Dion
Setelah itu, Darren kembali memeluk Rani dengan erat. Untuk beberapa saat Darren menyadari dirinya memeluk Rani dan segera melepaskannya
''Keluar'' ucap Darren saat menyadari dirinya memeluk Rani
Ardie dan Rani pun segera keluar, mereka mengerti Darren butuh waktu sendiri
''Kenapa **pelu**kannya sama seperti pelukan mama'' batin Darren di depan cermin dan langsung masuk ke kamar mandi
Sedangkan Sandra seperti orang gila yang berjalan tanpa memggunakan alas kaki dengan tampilan yang berantakan
''Hahaha, bagaimana caranya kau akan membalas mereka? Sedangkan sekarang kau tidak punya apa-apa'' ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul di hadapan Sandra
''Siapa kau?'' tanya Sandra terkejut
''Kau bisa memanggilku Axel'' ucapnya
''Aku tidak ada urusan denganmu dan tidak memgenalmu'' ucap Sandra
''Benarkah, bukannya kau bilang bahwa kau akan membalas Darren? Aku rasa aku bisa membantumu'' ucap Axel menawarkan diri
''Aku tidak butuh orang asing sepertimu untuk membantuku'' ucap Sandra
''Sayang sekali padahal kita punya misi yang sama'' ucap Axel
''Aku tidak tertarik'' ucap Sandra ketus
''Baiklah, jika kau berubah pikiran hubungi saja aku'' ucap Axel memberikan kartu nama miliknya
****
Keesokan harinya, Hanin terbangun, dan dia merasa bingung dengan kamarnya
"Eh bukannya semalam aku masih mengerjakan tugas, lalu kenapa aku bisa ada di kamar" ucap Hanin berbicara sendiri
"Hanin kamu sudah bagun?" tanya Rani yang tiba-tiba masuk
"Ma...mama, kapan mama yang datang?" tanya Hanin terkejut
__ADS_1
"Semalam mama datang" ucap Rani
"Eeeh maaf ma, Hanin bangun kesiangan" ucap Hanin merasa tak enak
"Tidak apa-apa sayang, mama tau kau pasti lelah habis mengerjakan tugas kuliahmu yang menumpuk" ucap Rani sambil mengelus rambut panjang Hanin
"Hanin, cepat mandi. Papa tunggu di ruang keluarga" ucap Ardie tegas
"Ba...baik pa" jawab Hanin sedikit takut
''Ada apa dengan papa, kenapa papa terlihat marah'' batin Hanin
''Apa jangan-jangan papa melihat Sandra semalam'' batin Hanin lagi
''Cepat mandi jangan ngelamun'' ucap Rani membuyarkan lamunan Hanin
''Ah iya ma'' ucap Hanin segera kekamar mandi
*
30 menit kemudian, Hanin sudah berada di ruang keluarga bersama Darren mama dan papa
''Hanin, kenapa kau membiarkan Sandra masuk di kehidupan kalian dan mengganggu hubungan kalian?'' tanya Ardie tegas
Hanin diam sesaat, karna Hanin bingung harus mengatakan apa pada papa mertuanya itu. Perlahan Hanin menarik nafasnya pelan untuk menetralkan kegugupannnya
''Bukan nona Sandra yang mengganggu hubungan Hanin dan mas Darren, tapi Hanin yang sudah masuk di kehidupan mas Darren dan nona Sandra'' ucap Hanin melawan kegugupannya
''Apa kau tak sakit hati saat Darren membawa sandra masuk kerumah ini?'' tanya Ardie
''Sakit, jalas sangat sakit'' batin Hanin
''Jika papa bertanya seperti itu, seharusnya nona Sandra yang sakit hati. Hanin tidak berhak untuk sakit hati pa'' ucap Hanin
''Dasar gadis bodoh, kau istri sah Darren jadi kau berhak atas Darren seutuhnya'' ucap Ardie
''Pernikahan ini hanya status pa, pernikahan ini tidak di dasari rasa saling suka satu sama lain'' ucap Hanin
''Lalu kenapa kau mau menikah dengan Darren, kalau kau tidak menyukainya? '' tanya Ardie yang mulai sedikit emosi
''Untuk membalas kebaikan papa'' jawab Hanin cepat membuat Rani menatap suaminya itu
''Apa yang sudah aku lakukan padamu?'' tanya Ardie
''Bukan pada Hanin, tapi untuk rumah kasih. Jika bukan karna papa yang memberikan tanah panti secara cuma-cuma pada ibu, Hanin tidak tau bagaimana nasib ibu dan adik-adik di panti'' ucap Hanin sendu, membuat Ardie dan Rani saling pandang lalu tersenyum
''Lalu apa kau bisa mencintai Darren?'' tanya Ardie, Hanin menggelengkan kepalanya
''Hanin tidak tau, karna yang Hanin tau mas Darren sangat mencintai nona Sandra'' ucap Hanin menunduk sedangkan Darren hanya menatap Hanin sendu
''Ya pernikahan ini memang salah papa, papa yang terlalu memaksa Hanin tanpa bertanya kau menyukai Darren atau tidak. Baiklah begini saja dalam waktu satu tahun, jika kalian masih tidak saling mencintai papa tidak akan melarang kalian jika kalian mau bercerai'' ucap Ardie
''Mas, apa mas mau mereka bercerai?'' tanya Rani tak percaya
''Kita tidak bisa saling memaksa mereka untuk saling jatuh cinta'' ucap Ardie
''Bagaimana pendapatmu Darren?''
__ADS_1