
''Hanin'' ucap Darren dan segera berlari kembali ke kamarnya
Ardie yang mendapat kabar bahwa seseorang mengikuti perjalanan mereka pun segera keluar kamar dan membangunkan istrinya untuk melihat keadaan menantunya itu
''Papa mama'' ucap Darren saat melihat orang tuanya berada di kamar
''Hanin baik-baik saja, tapi lebih baik jangan tinggalkan Hanin tanpa pengawasan atau penjagaan dari pengawal'' ucap Rani pelan
''Iya ma'' jawab Darren
''Segera kemasi barang kalian, kita akan kembali besok'' ucap Ardie
''Baik om'' ucap Evan dan Rainer
''Iya pa'' jawab Darren
Sementara itu, seorang pria yang mendapat laporan dari anak buanya, terlihat sangat marah mendengar kegagalan anak buahnya itu
''Dasar bodoh, kau memang tidak berguna'' ucapnya menendang anak buahnya itu
''Habisi dia, siapapun yang gagal melakukan tugasnya maka dia harus mati'' ucapnya
***
Keesokan paginya, mereka sudah bersiap untuk segera kembali
"Mas, kenapa kita kembali sepagi ini?" tanya Hanin
"Tidak apa-apa, hanya saja ada sedikit urusan du kantor" ucap Darren berbohong. Darren tidak ingin Hanin merasa khawatir dan cemas
Sekitar jam 10 mereka sudah sampai di rumah Darren.
"Hanin dan mama, kalian istirahat saja dulu" ucap Darren
"Kamu mau kemana mas?" tanya Hanin
"Aku akan ke kantor bersama papa" ucap Darren
"Baiklah hati-hati" ucap Hanin mencium punggung tangan suaminya
Melihat itu, Darren memcium kening dan bibir Hanin
"Dasar anak kurang ajar, apa kau tidak lihat dusini ada papa dan mamamu" ucap Ardie
"Jika papa mau, papa bisa melakukannya dengan mama" ucap Darren yang semakin membuat Ardie kesal
"Rani aku berangkat" ucap Ardie
"Iya mas" ucap Rani
''Kenapa aku merasa akan ada hal buruk terjadi'' batin Rani sambil memegang dadanya
''Mams kenapa?'' tanya Hanin
''Gak papa sayang, apa kamu lapar?'' tanya Rani
''Sedikit ma'' ucap Hanin nyengir
''Baiklah mama akan memasak'' ucap Rani, karna bik Ning masih libur
''Biar Hanin bantu ma'' ucap Hanin mengekori Rani
Saat Hanin dan Rani sedang asyik masak tiba-tiba Dion mengetuk pintu
''Ada apa Dion?'' tanya Rani
''Maaf nyonya, ini ada paket untuk nona muda'' ucap Dion
''Oh baik terimaksih paman'' ucap Hanin
Dion sudah meminta Hanin untuk memanggil Dion saja, tapi Hanin selalu menolak, karna bagi Hanin itu akan sangat tidak sopan
Setelah itu, Hanin langsung membuka paket itu
''Dari siapa sayang?'' tanya Rani
''Gak tau ma, tanpa nama pengirimnya'' ucap Hanin, yang terus membuka paketnya itu
''Akhh'' pekik Hanin
''Hanin ada apa sayang?'' tanya Rani yang menghampiri Hani
''Ma itu ma'' ucap Hanin lemas
''Dion... Dion... Dion masuk Dion'' teriak Rani
__ADS_1
''Nyonya ada apa? Nona'' Dion segera menghampiri Hanin yang sudah tak sadarkan diri
''Dion bawa Hanin ke kamarnya" ucap Rani
"Baik nyonya" jawab Dion
**
Di tempat lain...
"Sebenarnya mereka mengincar aku atau Hanin?" tanya Darren
"Aku rasa mereka mengincar kamu" jawab Rainer
"Mungkin mereka tau, kelemahanmu saat ini adalah Hanin" ucap Evan
"Papa rasa tidak begitu, papa yakin orang di balik ini menginginkan keduanya" ucap Ardie
Saat sedang berbicara serius tiba-tiba saja ponsel Darren berdering
"Hallo ada apa ma?" tanya Darren
"Darren kamu cepat pulang ya sama papa" ucap Rani panik
"Ma ada apa coba tenang dulu" ucap Darren
"Pokoknya cepat kamu pulang sekarang ya" ucap Rani lagi
"Iya, Darren pulang sekarang" ucap Darren dan mematikan telphonya
"Ada apa Darren?" tanya Ardir
"Entahalah pa, ayo sekarang kita pulang. Rainer handle semua urusan perusahaan, Evan ikut aku" ucap Darren
"Baik tuan muda" ucap Rainer
"Siap" ucap Evan
Sementara itu, seorang wanita tertawa puas karna akhirnya rencananya berhasil
"Aku yakin dia tidak akan bisa tidur dengan tenang" ucapnya
"Sandra, ada satu hal lagi yang ingin ku beritaukan padamu" ucap wanita satunya lagi
"Katakan " ucap Sandra ya dia adalah Sandra
"Baik, terimakasih atas informasimu. Sekarang pergilah tetaplah disisi wanita sialan itu" ucap Sandra
"Kau tenang saja" ucapnya tersenyum licik
**
Saat Darren yang baru sampai di rumah, langsung mencari keberadaan Hanin. Namun mata Darren terbelalak saat melihat darah berceceran di ruang tamu
"Tuan muda tuan besar" sapa Dion
"Dimana Hanin dan mama?" tanya Darren
"Ada di kamar atas tuan" ucap Dion, tanpa menunggu lama Darren langsung menuju kamar
"Hanin, ada apa dengan Hanin?" tanya Darren yang melihat Hanin dalam keadaan tidak sadarkan diri
Rani langsung menceritakan semuanya pada Darren
"Awalnya mama gak tau apa isi paket itu, tapi saat Hanin membukanya, Hanin terkejut dan kotak itu jatuh, hingga membuat seluruh lantai berwarna merah" ucap Rani
"Apa Hanin terluka?" tanya Ardie, Rani menggelengkan kepalanya
"Darren, aku menemukan boneka yang penuh dengan darah" ucap Evan
"Dion siapa yang mengirim paket itu?" tanya Darren menatap tajam Dion
"Maafkan saya tuan muda, ini semua kesalahan saya" ucap
"Aku bertanya siapa yang mengirimkan paket itu" teriak Darren emosi
"Darren, tenanglah" ucap Evan
"Keluarlah" ucap Darren
"Evan suruh anak buahmu untuk memasang cctv di setiap sudut rumah" ucap Darren
"Baiklah" ucap Evan
"Kalian semua keluar" ucap Darren, semua pun langsung keluar
__ADS_1
"Maafkan aku Hanin" ucap Darren mengecup kening Hanin
Tak berapa lama Hanin membuka matanya
"Mas, tadi...tadi aku... " ucapan Hanin terhenti karna Darren meletakkn jari telunjuknya di bibir Hanin
"Jangam bahas lagi, aku akan mencari tau siapa yang melakukan ini" ucap Darren memeluk Hanin
***
Keesokan harinya, Hanin sudah bersiap untuk kembali ke kantor. Namun kali ini, Hanin akan di antar oleh Dion
"Nona maafkan saya, kejadian semalam adalah kesalahan saya nona " ucap Dion
"Sudahlah paman, itu bukan salah paman" ucap Hanin
Setelah sampai kantor, Hanin segera menuju ruangannya
"Hanin, kamu berangkat dengan siapa?" tanya Rainer
"Paman Dion" ucap Hanin membuat Rainer bernafas lega
"Hanin, apa aki bisa minta tolong?" tanya Rainer
"Boleh, apa kak?" tanya Hanin
"Tolong kau antar ini ke ruangan presdir, dan antarkan ke devisi keuangan" ucap Rainer
"Kak Rainer mau kemana?" tanya Hanin
"Ada urusan di luar kantor" ucap Rainer
"Siap kak" ucap Rainer
"Terimakasih" ucap Rainer
Beberapa saat kemudian, Hanin sudah berada di ruangan presdir
"Hanin kemarilah" ucap Darren meminta Hanin untuk duduk di sampingnya
"Kenapa?" tanya Hanin
"Aku merindukanmu" ucap Darren manja pada Hanin
"Aku tidak pernah tau, jika presdir dan dosen galak ini bisa bermanja pada istrinya" ucap Hanin
"Biarkan seperti ini sebentar saja, aku merasa lelah" ucap Darren memeluk Hanin dengan erat
"Baiklah 10menit, aku masih banyak kerjaan" ucap Hanin
"Baiklah" ucap Darren manja pada istrinya itu
***
Di sisi lain...
"Bryan, apa kau sudah melihat file ini?" tanya Kevin
"Belum" ucap Bryan datar
"Bryan ada apa, apa kau masih memikirkan Hanin?" tanya Kevin
"Diamlah" ucap Bryan
"Kerjakan saja tugasmu" ucap Melly
"Selamat pagi" sapa seorang wanita yang baru masuk
"Hanin" sapa Melly memeluk Hanin
"Kak Melly aku sangat merindukan kak Melly" ucap Hanin
"Hanin padaku gimana?" tanya Kevin
"Ada tapi sedikit" ucap Hanin membuat Kevin pura-pura kesal
"Kak Bryan, kenapa diam saja?" tanya Hanin
"Tidak apa, aku mau keluar dulu" ucap Bryan tiba-tiba pergi
"Kenapa kak?" tanya Hanin
"Paling lagi pms" canda Kevin
"Hust" ucap Melly memukul lengan Kevin membuat Hanin tertawa
__ADS_1
''Tertawalah, karna sebentar lagi kau tidak akan bisa teetawa lagi ja***g"