
Di kampus, dua tiga orang gadis terlihat khawatir dengan keadaan sahabat mereka
''Jes, apa kamu bisa menghubungi Hanin?'' tanya Risa
''Belum. Tapi semalam bu Ima bilang Hanin sudah ditemukan. Tapi saat aku bilang akan kepanti, bu Ima bilang Hanin sudah tidak tinggal di panti'' ucap Jesi
''Lalu Hanin tinggal dimana?'' tanya Nisa
''Aku tidak tau, tapi nanti bu Ima akan mengantarkan kita untuk menemui Hanin'' ucap Jesi
''Baiklah, kau kabari saja jam berapa'' ucap Nisa
''Kalau gitu, aku pergi ke kantor dulu'' ucap Nisa
''Baiklah hati-hati'' ucap Jesi dan Risa
**
Di tempat lain, seorang wanita mendatangi sebuah rumah yang sangat mewah
''Wah akhirnya kau datang juga padaku?'' tanya pria itu tersenyum miring
''Apa tawaranmu masih berlaku?'' tanya wanita itu
''Tentu saja'' jawab pria itu
''Aku mau bekerja sama denganmu tuan Axel? Ucap wanita itu
''Dengan senang hati nona Sandra'' ucap Axel sambil menjabat tangan Sandra
''Lalu apa rencanamu?'' tanya Sandra
''Untuk sekarang kita masih belum bisa melakukan apapun dulu, kau tunggu saja'' ucap Axel tersenyum smirk
''Apa yang kau tunggu?'' tanya Sandra
''Kenapa kau terburu-buru?'' tanya balik Axel
''Karna aku merasa aku benar-benar mencintai Darren'' ucap Sandra
''Hahaha, tapi aku ingin menghancurkan Darren'' ucap Axel
''Apa masksudmu?'' tanya Sandra
''Kau akan tau nanti'' bisik Axel dengan exspresi yang menakutkan
***
"Pa, aku pergi ke kantor" ucap Darren sambil mencium tangan papanya dan juga kepada Rani walau sedikit ragu
"Ingat jangan keluar rumah" ucap Darren pada Hanin, Hanin menganggukkan kepalanya
Setelah kepergian Darren, Rani membantu Hanin menyisir rambutnya
"Mama, apa semalam ibu kemari?" tanya Hanin
"Iya sayang. Tapi kamu sedang tidur dan juga demam kamu sudah turun jadi bu Ima kembali ke panti. Tapi nanti bu Ima akan datang lagi menemui kamu" ucap Rani sambil menyisir rambut Hanin
Sedangkan, Darren yang sudah di jemput Rainer langsung menuju tempat Evan
"Tuan muda, apa yang akan anda lakukan dengan Nona?" tanya Rainer
"Jatuhkan perusahaan ayah Mona secara diam-diam" ucap Darren
"Dan setelah itu beli semua sahamnya dengan harga terendah" ucap Darren lagi dengan wajah yang datar, namun itu membuat Rainer merinding
"Selamat datang tuan muda Darren" sapa salah satu anak buah Evan sambil membukakan pintu mobilnya
"Dimana Evan?" tanya Darren
"Ada di ruang rahasia tuan" ucapnya
Darren dan Rainer langsung menuju ruang rahasia Evan
__ADS_1
"Bagaiamana?" tanya Darren yang sudah berada di ruang rahasia
"Lihatlah dia" ucap Evan menunjuk seorang pria yang sudah babak belur
"Tu...tuan muda" ucapnya ketakutan
"Katakan" ucap Darren duduk di hadapan pria itu
"Tuan kenapa saya di tahan disini, apa salah saya?" tanyanya
"Kau masih bertanya apa salahmu?" tanya Rainer yang menunjukkan rekaman cctv di gudang
"Ba...bagaimana mungkin" ucapnya terkejut
"Robi, seharusnya kau punya istri dan anak bukan?" tanya Rainer
"Saya mohon jangam sentuh istri dan anak saya tuan" ucap Robi memohon
"Aku tidak akan menyentuh istri dan anakmu. Tapi bagaimana reaksi mereka melihat video ini" ucap Rainer menunjukkan video Robi yang sering bermain dengan beberapa wanita
"Ja...jangan saya mohon jangan" ucap Robi
"Ups, Rainer aku tidak sengaja mengirim video ini pada istrinya" ucap Evan pura-pura bersalah
"Apa yang kau lakukan Evan, tapi itu lebih baik" ucap Rainer dan Evan tertawa
"Berikan dia hukuman yang setimpal, dan antar pada keluarganga saat dia sudah tidak bisa apa-apa" ucap Darren
"Tenang saja, aku akan meminta anak buahku untuk membuat dia tidak akan melupakan perbuatannya sendiri" ucap Evan tersenyum
**
Kabar tentang Hanin yang terkunci di gudang dan juga rekaman saat Hanin di kunci oleh Robi tersebar di seluruh karyawan perusahaan
"Mona, apa kau tau pak Robi tertangkap oleh presdir karna mengurung Hanin di gudang" ucap Karin pelan
"Apa, tapi apa mereka membawa namaku?" tanya Mona
"Tidak, rekaman yang terlihat hanya pak Robi" ucap Clara
"Tapi kau harus berhati-hati" ucap Karin
"Kalian jangan kahawatir, Pak Robi tidak bisa menyeret! namaku, karna juga disana tidak ada bukti dan jejakku" ucap Mona teesenyum senang
**
Malam harinya, Ardie, Rani dan Hanin berkumpul di ruang keluarga. Hanin juga sudah memunggu kedatangan bu Ima, karna Hanin juga sangat merindukan bu Ima
"Nona apa nona mau makan sesuatu?" tanya Bik Ning
"Gak usah bik" jawab Hanin sopan
"Bik Ning tolong bukain pintu ya" pinta Rani yang mendengar suara ketukan pintu
"Baik bu" ucap Bik Ning segera berjalan menuju pintu utama
"Ibu" teriak Hanin saat melihat bu Ima
Seperti anak kecil, Hanin langsung menghambur ke pelukan bu Ima
Namun senyum Hanin terhenti saat dia melihat 3 orang yang juga dia rindukan
"Ka...kalian?" ucap Hanin terkejut
"Kenapa kalian disini?" tanya Hanin sedikit panik
"Kenapa, apa kita tidak boleh menjenguk sahabat kita yang sedang sakit?" tanya Risa menatap Hanin
"Kenapa kau terkejut. Kau terkejut karna begitu senang atau kau merasa bersalah?" tanya Jesi yang memajukan langkahnya
"Eee bukankah lebih baik kalian duduk dulu dan kita bicara baik-baik" ucap Rani lembut
"Iya duduk dulu" ucap bu Ima menuntun Hanin, sedamgkan Hanin hanya menunduk
__ADS_1
"Hanin maaf, ibi terpaksa memberi tau mereka tentang pernikahanmu dan tempat tinggalmu" ucap bu Ima menggenggam tangan Hanin
"Gak papa bu, cepat atau lambat mereka juga akan tau" ucap Hanin
"Hanin, kenapa kamu tidak jujur pada mereka?" tanya Rani
"Karna, Hanin gak mau mereka sedih dan khawatir pada Hanin" ucap Hanin merasa bersalah
"Selamat malam, maaf mengganggu" sapa seorang pria yang tiba-tiba masuk, tentu saja ketiga wanita itu memandang pria itu tanpa berkedip
"Malam, Rainer masuklah" ucap Ardie
"Ada apa kau kemari?" tanya seorang pria yang baru turun, dan lagi-lagi ketiga wanita itu di buat melongo dengan pria yang baru turun itu
"Pak Darren?" pekik ketiganya membuat Hanin yang berada di dekatnya terkejut
"Kenapa kalian begitu terkejut, dia suami Hanin" ucap Ardie
"Apa?" pekik ketiganya lagi
"Hanin kamu berhutang beberapa penjelasan pada kami" ucap ketiganya
"Aku akan menjelaskannya pada kalian nanti" ucap Hanin
"Keluarlah, aku tau kau juga meeindukan sahabatmu" ucap Darren sambil memberikan jaket pada Hanin
"Iya pergilah, tapi jangan terlalu lama ya sayang. Biar bu Ima bersama kami disini" ucap Rani memakaikan jaketnya pada Hanin
"Iya ma" jawab Hanin tersenyum
"Rainer keruang kerjaku" ucap Darren
"Baik tuan muda" jawab Rainer, saat Rainer melewati ruang keluarga itu mata Rainer tak sengaja bertemu dengan mata Risa
"Hanin, katakan kenapa kau merahasiakan dari kami?" tanya Jesi yang sudah berada diluar
"Maaf, aku pikir tidak perlu memberi tau kalian. Karna ini hanya pernikahan kontrak" ucap Hanin
"Apa" ucap ketiganya dengan keras
"Husst" Hanin meletakkan jari telunjuk di bibirnya
"Kenapa?" tanya Nisa
"Kita tidak mungkin bersama. Sudah ada seorang wanita di hati pak Darren" ucap Hanin sedih
"Lagipun aku menikah dengan pak Darren hanya untuk membalas kebaikan papa" ucap Hanin lagi
"Hanin, seharusnya kau mengatakan pada kami sejak awal. Kau tidak harus menanggung beban ini sendirian" ucap Risa
"Maaf, aku tau aku salah. Seharysnya aku lebih terbuka lagi pada kalian" ucap Hanin merasa bersalah
"Sudahlah, kami akan selalu berada disampingmu" ucap Nisa
"Terimakasih, kalian sudah selalu ada disaat aku paling terpuruk" ucap Hanin memegang tangan ketiga sahabatnya
"Belum selesai, katakan siapa yang menculik dan menyekapmu?" tanya Jesi
"Aku juga tidak tau" jawab Hanin
"Lalu bagaimana dengan Mona? Apa dia mempersulitmu?" tanya Risa
"Yah dia selalu membuat masalah untukku" ucap Hanin
"Emang dasar yah tuh lampir" ucap Nisa kesal
"Udahlah biarin aja, nanti kalau dia bosen dia akan berhenti sendiri" ucap Hanin
"Eh Hanin, tadi cowok yang namanya Rainer itu siapa?" tanya Risa
"Dia kak Rainer, asisten sekaligus sahabat pak Darren" jawab Hanin
"Udah punya pacar belum?" tanya Risa malu-malu
__ADS_1
"Risa" teriak ketiganya membuat Risa tersenyum sambil mengedipkan matanya