Suamiku Dosen Galak

Suamiku Dosen Galak
Eps 23


__ADS_3

"Aaakh menjauhlah" pekik Hanin saat melihat pintu terbuka


''Eeeh sepertinya kita masuk di waktu yang salah'' ucap Nisa


Ya karna waktu pintu terbuka, Darren sedang bermesraan dengan Hanin


''Hehe iya benar'' ucap mereka tertawa canggung


''Masuklah, aku akan keluar'' ucap Darren berubah menjadi datar


''Maafkan kami pak'' ucap Nisa merasa tak enak


''Hemmh'' ucap Darren dan langsung pergi, namun walau begitu masih jelas terlihat Darren menahan malu


''Kalian tau dari mana aku disini?'' tanya Hanin


''Dari Risa'' ucap Jesi


''Risa kamu tau dari mana?'' tanya Hanin


''Tentu saja dari Rainer siapa lagi?'' ucap Nisa ceplas ceplos


''Nisa'' pekik Jesi dan Risa


''Hah Ra...Rainer asisten mas Darren?'' tanya Hanin terkejut


''Ehh itu, anu...itu anu'' ucap Risa gugup


''Itu apa dan anu apa?'' tanya Hanin penuh selidik


''Se...sebenarnya aku kenal dekat sama Rainer'' ucap Risa gugup


''Nisa benar itu?'' tanya Hanin memberikan cemilan pada Nisa, ya Hanin tau kelemahan Nisa adalah makanan ringan


''Dia bohong, Risa dan Rainer udah jadian'' ucap Nisa lagi sambil membuka makanannya itu


''Nisaaa'' pekik Risa


''Ya ampun nih mulut kenapa gak bisa diem sih'' ucap Nisa memukul pelan bibirnya sendiri


''Udahlah jujur aja sama Hanin, sampai kapan kamu menyembunyikan semuanya'' ucap Jesi


''Iya sebenarnya aku masih nunggu waktu yang tepat'' ucap Risa menunduk


''Hah sudahlah, yang penting aku sudah tau sekarang. Kau adalah kekasih kak Rainer'' ucap Hanin tersenyum


''Hanin bagaimana keadaan kamu?'' tanya Nisa


''Aku sudah baikan kok, lagian juga lukaku tidak terlalu parah'' ucap Hanin


''Hanin, semalam waktu Gavin nganterin kamu kerumah sakit, tiba-tiba dia pamit ketoilet dan gak balik lagi'' ucap Jesi


''Iya bahkan saat kami pulang, juga dia belum nongol'' ucap Nisa


''Tadi pagi dia datang menemuiku, dan dia juga yang menolongku'' ucap Hanin


''Benarkah?'' tanya Risa


''Iya, bahkan dia sekarang terluka parah karna menyelamatkanku'' ucap Hanin menarik nafasnya


''Kalau begitu, sekalian saja kita jenguk Gavin disini'' ucap Jesi

__ADS_1


''Tidak perlu, aku saja yang menghampiri kalian'' ucap Gavin dengan kursi rodanya yang di dorong oleh Rainer


''Gavin, apa kejadian tadi membuatmu lumpuh?'' tanya Hanin merasa bersalah


''Tenang saja nona, aku tidak selemah itu hanya luka kecil tidak akan membuatku lumpuh'' ucap Gavin sombong


''Hanin, bagaimana keadaanmu?'' tanya Evan


''Sudah baikan kak'' jawab Hanin


''Baguslah'' ucap Evan'


''Kalau mau saling pandang gak papa, gak usah malu-malu'' ucap Hanin yang melihat Rainer dan Risa saling menundukkan kepalanya


Semua pun bingung mendengar perkataan Hanin itu


''Sayang apa maksud kamu?'' tanya Darren


''Enggak ada apa-apa kok mas'' ucap Hanin


''Apa yang kamu sembunyikan dariku?'' tanya Darren berbisik


''Hei jika ingin bermesraan jangan disini, apa kau tidak lihat kita masih jomblo?'' ucap Rainer kesal


''Benarkah kau masih sendiri, apa wanitamu tidak marah kau berkata seperti itu?'' sindir Darren


''Eh aku akan keluar dulu'' ucap Rainer


''Kenapa kak Rainer jadi salah tingkah, atau jangan-jangan kekasih kak Rainer disini lagi'' ucap Hanin yang pura-pura tidak tau


''Rainer apa kau punya kekasih?'' tanya Evan penuh selidik


''Eeh i...iya aku sudah punya kekasih'' ucap Rainer sambil menatap Risa yang menunduk karna malu


''Menjauhla dariku'' ucap Rainer mendorong Evan, sedangkan keempat wanita itu hanya tertawa pelan


''Hanin, kau sangat manis saat tertawa'' goda Gavin


''Sekali lagi kau menatap istriku, aku akan mencongkel matamu'' ucap Darren dingin


Mendengar ancaman Darren, Gavin susah untuk menelan salivanya


''Gavin jika kau berniat mendonorkan matamu, aku siap melakukan operasi untukmu'' ucap Evan tertawa dan dapat anggukan dari Rainer


''Sialan kalian, apa kalian senang jika aku tertekan '' ucap Gavin kesal yang malah dapat tawa dari semua orang kecuali Darren


Setelah kepulangan ketiga sahabat Hanin, Darren dan Gavin masih tinggal di kamar Hanin


''Hanin maaf bukannya aku bermaksud untuk membohongimu, aku melakukan ini untuk melindungimu'' ucap Gavin


''Melindungiku?'' tanya Hanin


''Iya, aku yang meminta Gavin untuk menjaga kamu'' ucap Darren


''Kenapa?'' tanya Hanin


''Tidak apa-apa, hanya saja aku takut kalau ada orang yang akan melukaimu saat aku tak ada disampingmu'' ucap Darren menggenggam tangan Hanin


''Sampai kapan kamu akan terus menjagaku?'' tanya Hanin


''Entah, tapi aku tidak ingin kau terluka'' ucap Darren memeluk Hanin

__ADS_1


"Maaf aku masih tidak bisa memberi tau kejadian yang sebenarnya" batin Darren


''Ehem, sebaiknya aku kembali ke kamar'' ucap Gavin


''Aku akan membantumu'' ucap Darren


''Tidak perlu, lanjutkan saja keromantisan kalian itu'' ucap Gavin


***


Di tempat lain, seorang wanita mendatangi tempat Dini di tahan


"Nona anda datang nona, nona tolong keluarkan saya dari sini" ucap Dini


"Mengeluarkanmu, itu tidak mungkin" ucap wanita itu tersenyum mengejek


"Tapi kenapa, bukannya saya sudah membantu anda nona" ucap Dini


"Lalu?" tanyanya


"Sandra kalau aku tidak membantumu, aku tidak akan berada disini sekarang" ucap Dini kesal


"Kau berada disini itu, karna ulahmu sendiri. Kau yang tak becus melakukan tugasmu" ucap Sandra pelan


"Kalau kau tidak mau membantuku, aku akan mengatakan semuanya pada Darren" ucap Dini


"Apa kau sedang mengancamku?" tanya Sandra geram


"Aku tidka punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya pada Darren" ucap Dini


"Baik, aku akan Mengeluarkanmu dari sini. Minumlah obat ini agar kau bisa tidur di tempat kumuh seperti ini" ucap Sandra


"Obat apa ini?" tanya Dini


"Jangan banyak tanya, aku sudah tidak punya waktu lagi, aku harus pergi" ucap Sandra


"Baiklah, aku akan menunggumu besok" ucap Dini, sedangkan Sandra tersenyum licik


***


Keesokan harinya, saat Darren dan Hanin akan pulang dari rumah sakit, tiba-tiba Rainer memberi kabar tentang kematian Dini


"Mas kenapa?" tanya Hanin


"Dini meninggal dunia" ucap Darren yang membuat Hanin terkejut


"Mas bolehkah aku ikut?" tanya Hanin


"Baiklah ayo" ucap Darren menggandeng tangan Hanin menuju kamar mayat rumah sakit itu


"Bagaiaman dia bisa meninggal?" tanya Darren saat sudah berada di kamar mayat itu


"Dari Hasil tes, nona Dini meminum racun tuan" ucap Gavin yang memeriksa Dini


"Bolehkah aku melihatnya untuk terakhir kali?" tanya Hanin


Gavin dan Evan menatap Darren, Darren memganggukkan kepalanya


"Bu Dini, kau orang yang sangat baik. Semoga kau tenang disana bu Dini" ucap Hanin lembut dengan air mata yang menetes


"Hanin, dia sudah menyakitimu kenapa kau masih menangisinya" ucap Gavin

__ADS_1


"Dia memang menyakitiku, tapi saat aku pertama kali masuk keperusahaan Prana, dia yang selalu membantuku dan selalu memberikan semangat padaku" ucap Hanin lirih


"Sudahlah jangan menangis lagi, biarkan dia istirahat dengan tenang" ucap Darren memeluk Hanin dan membawanya keluar


__ADS_2