
Malam harinya, Hanin terlihat cemas karna Darren masih belum pulang
''Kenapa mas Darren belum pulang, ini sudah jam sembilan'' ucap Hanin melirik jam dinding
Walaupun di rumah ada beberapa penjaga, tapi Hanin masih tidak merasa aman
''Sebaiknya nona istirahat saja dulu, biar saya yang menunggu tuan muda'' ucap bik Ning
''Tidak apa-apa bik, biar aku saja'' ucap Hanin
Berkali-kali Hanin mencoba menghubungi Darren, namun nomor Darren di luar jangkauan
Saat bik Ning dan Hanin sedang menunggu Darren, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu
''Bik, siapa malam-malam begini bertamu?'' tanya Hanin berbisik
''Mungkinkah tuan muda?'' ucap Bik Ning
''Sepertinya bukan bik, suara mobilnya pun tidak terdengar'' ucap Hanin berjalan kearah jendela
''Ada apa?'' tanya Hanin membuka pintu saat melihat penjaga rumah yang mengetuk pintu
''Nona, ada yang mencari anda'' ucapnya
''Siapa?'' tanya Hanin
''Hanin'' panggil pria itu
''Ka...kakak'' ucap Hanin memeluk kakaknya itu
''Dia kakak saya, tidak apa-apa'' ucap Hanin tersenyum
''Bik ning tolong bawakan teh hangat dua'' ucap Hanin
''Kenapa kakak berpenampilan seperti ini?'' tanya Hanin
''Panjang ceritanya, dimana Darren?'' tanya Angga
''Dia belum pulang kak'' ucap Hanin
''Oh iya ini perkenalkan, dia teman ku Juan'' ucap Angga
''Salam kenal Juan'' ucapnya mengulurkan tangannya
''Hanin'' balas Hanin
Selang berapa lama terdengar suara mobil, Hanin segera keluar
''Kakak, tunggu sebentar'' ucap Hanin berlari kearah luar
''Mas, kenapa kamu pulang larut?'' tanya Hanin
''Maaf, aku masih menemani Evan yang sakit'' ucap Darren mencium kening istrinya itu
''Sayang, kata penjaga ada tamu?'' tanya Darren
''Iya, kakak dan temannya'' jawab Hanin
''Angga?'' ucap Darren dan segera masuk
Angga hanya melirik Hanin, mengerti arti lirikan Angga, Darren tidak bertanya apapun pada Angga
''Sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu. Aku yang akan menemani Angga dan temannya mengobrol'' ucap Darren
''Emmh baiklah. Kak, aku tidur dulu'' ucap Hanin, Angga hanya menganggukkan kepalanya
.
.
''Angga kenapa tiba-tiba kau berada di negara ini?'' tanya Darren
''Mereka sudah mengetahui adikku masih hidup'' ucap Angga
''Bagaiamana bisa?'' tanya Darren
''Maaf menyela, aku rasa dia sudah mengetahuinya, namun dia tidak mengatakannya pada Angga'' ucap Juan
''Tapj aku juga mendengar, keluarga Barack juga menginginkan adikku'' ucap Angga
''Keluarga Barack?'' tanya Darren mengerutkan keningnya
''Iya, dia adalah keluarga paling ditakuti di negara L'' ucap Juan
''Aku rasa, ini ada hububgannya dengan Charles'' ucap Angga
''Mungkin mereka memiliki perjanjian sebelumnya'' ucap Darren, Angga hanya menggelengkan kepalanya
.
__ADS_1
Saat mereka tengah berbicara, tiba-tiba ponsel Angga berdering
''Siapa?'' tanya Juan, Angga memggelengkan kepalanya dan menunjukkan ponselnya dengan nomor tak di kenal
''Jangan angkat, siapa tau dia ingin melacak keberadaan kita melalui ponselmu'' ucap Juan
Namun setelah itu, ponsel Angga berdenting menandakan pesan
''Sial'' ucap Angga geram
''Ada apa?'' tanya Darren
''Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, cepat kita pergi dari sini'' ucap Angga menarik tangan Juan
Tanpa pamit atau apapun, Angga segera menarik Juan berlari sejauh mungkin dari rumah Darren
''Ikuti Angga, dan bantu dia bersembunyi-' ucap Darren
''Baik tuan'' ucap salah satu pengawal itu
.
***
Pagi harinya, Evan yang baru membuka matanya terkejut, saat melihat seseorang di sampingnya
''Ada apa denganku?'' tanya Evan sambil memegangi kepalanya
''Kenapa keadaanmu lebih buruk dari sebelumnya?'' tanya Gavin sambil memeriksa denyut nadi Evan
''Gavin, aku sangat lelah, aku ingin tidur lebih lama'' ucap Evan memejamkan matanya
''Kau mau tidur sampai kapan? Kau sudah tidur dari jam dua siang, sampai pagi ini, kau bilang ingin tidur lebih lama? Apa kau ingin tidur dan tak bangun lagi?'' tanya Gavin kesal pada sahabatnya itu
''Jika itu bisa, aku juga tidak ingin bangun'' ucap Evan lesu
''Apa kau gila Evan?'' tanya Gavin
Namun beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya memasuki kamar Evan
''Maaf tuan, di bawah ada nona Nisa mencari anda'' ucapnya sopan, sontak saja, Evan terkejut saat mendengar nama Nisa
''Biarkan dia masuk'' ucap Evan
''Aku akan keluar, kau bicaralah dengannya'' ucap Gavin meninggalkan kamar Evan
Saat Gavin baru keluar, tiba-tiba Nisa masuk ke kamar Evan
''Tidak, hanya pusing'' ucap Evan tersenyum
Nisa membelalakkan matanya saat melihat bingkai foto yang ada di nakas
''Kak, apa aku salah melihat, foto ini sangat mirip denganku'' ucap Nisa
''Bukankah kau lebih jelas tau, siapa foto itu?'' tanya Evan membuat Nisa terkejut
''A...apa maksud kak Evan?'' tanya Nisa gugup
''Sampai kapan kau akan berpura-pura terus?'' tanya Evan dan membuat Nisa kembali terkejut
''Ehh kak, aku ada urusan aku pergi dulu'' ucap Nisa terlihat panik
''Danisa Kinara Putri, aku harus memanggil Nisa atau Nara'' ucap Evan membuat langkah Nisa terhenti
''Nara, aku sudah yakin itu adalah kau, Nara'' ucap Evan memeluk Nisa dari belakang dengan erat
''Lepaskan aku'' ucap Nisa pelan
''Maaf karna aku, kau mengalami kecelakaan dan membuatmu kehilangan adikmu'' ucap Evan semakin erat memeluk Nisa
''Terima kasih atas simpati tuan muda Evan. Tapi apa anda tau, Nara juga sudah mati lima tahun lalu bersama adiknya'' ucap Nisa
''Saya sekarang Danisa, bukan Nara'' ucap Nisa melepas pelukan Evan dan segera pergi meninggalkan kediaman Evan
Melihat kepergian Nisa, membuat Evan kembali frustrasi
''Aaakkkh'' teriak Evan
Evan kembali ke nakasnya dan mengambil obat yang selama ini ia konsumsi di saat dia sedang frustasi
.
Di sisi lain, Nisa tak bisa menahan air matanya lagi
''Kenapa aku malah terjebak lagi dalam perasaan ini. Nara sudah mati, yang mencintai kak Evan adalah Nara bukan Nisa'' ucapnya terus menangis kuat
Setelah sampai di tempat tujuan, Nisa terus berjalan ke tempat di mana adiknya di makamkan
''Nina, kenapa kamu tinggalin kakak. Maafkan kakak, kakak yang sudah membuat kamu seperti ini'' ucap Nisa
__ADS_1
.
''Nisa'' panggil seorang wanita
''Kalian, kenapa kalian bisa disini?'' tanya Nisa
''Kami mendapat kabar kak Evan masuk rumah sakit'' ucap Hanin lembut
''Rumah sakit?'' tanya Nisa terkejut
''Evan mencoba bunuh diri'' ucap Jesi
''Nisa, coba ceritakan pada kami yang sebenarnya'' ucap Risa
''Aku akan mengatakan pada kalian tapi tidak disini'' ucap Nisa
Jesi langsung menuntun Nisa menuju mobilnya
''Katakan sekarang'' ucap Hanin
Sebelum mengatakan semuanya, Nisa menarik nafasnya panjang
''Aku memanglah Nara, dan dulu aku kekasih kak Evan.... '' Nisa pun menceritakan semuanya saat Evan mengatakan bosan pada dirinya
''Lalu bagaiamana cerita adikmu?'' tanya Jesi
''Saat itu...
Flashback On
5 tahun lalu, setelah Nara meninggalkan tempat Dimana dia bertemu dengan Evan, Nara tidak mengetahui jika adiknya berada di sana
Nara berlari sambil menahan tangisnya, sedangkan adiknya terus mengejar kakaknya itu
''Kakak tunggu aku, kak Nara'' teriaknya
Namun saat Nara akan memyebrang, Nina melihat mobil dengan kecepatan tinggi mengarah pada kakaknya
''Kakak awaas'' teriak Nina sambil mendorong Nara
''Bruuukk'' Nina terlempar cukup jauh dari posisinya
Sedangkan Nara kepalanya terbentur batu besar dinpinggir jalan itu, hingga dari matanya mengeluarkan darah
.
Setelah mendapat perawatan, Nara akhirnya sadar
''Kenapa semua gelap, aku dimana?'' ucap Nara sambil tangannya meraba mencari sesuatu
''Dek, kamu sudah sadar'' ucap seorang wanita itu lembut
''A...ak..aku di mana? Kenapa semua gelap?'' tanya Nara
''Dek kamu yang sabar ya, kornea mata kamu mengalami kerusakan, dan...kamu mengalami kebutaan'' ucap nya sambil menenangkan Nara
''Tidak, tidak mungkin, Dimana adikku, apa dia tau aku di rumah sakit?'' tanya Nara
''Iya, adik kamu kritis dia yang mendorong kamu, tapi malah adik kamu yang tertabrak'' ucapnya memeluk Nara
''Tidak Nina, Nina aku ingin bertemu dengan Nina'' ucap Nara
''Untuk sekarang tidak bisa, dia berada di ruang ICU'' ucapnya
''Dimana alamatmu, aku akan membantumu memberi tau orang tuamu'' ucap wanita itu lagi
''Aku sudah tidak punya orang tua'' ucap Nara membuat Wanita itu kembali memeluk Nara dengan lembut
.
Tiga hari kemudian, Nara sudah menjalani operasi mata. Namun dia tidak tau siapa yang mendonorkan matanya
Setelah membuka perban, dia dapat melihat kembali. Dia juga tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya
Namun, lagi-lagi Nara di buat terkejut, karna mata yang ada pada dirinya itu adalah mata adiknya, sedangkan sang adik telah meninggal dua hari yang lalu, karna pendarahan hebat
Flashback Off
''Di saat itu, aku berjanji akan membalas rasa sakit hatiku, sakit kehilangan adikku pada Evan. Tapi kenyataannya aku tidak bisa, aku semakin tidak tega untuk menyakitinya'' ucap Nisa menangis di pelukan Hanin
''Nisa, kau salah, balas dendam akan membuatmu semakin sakit hati'' ucap Risa
Tak berapa lama, tiba-tiba ponsel Hanin berdering, dia segera mengangkat ponselnya
''Ya Hallo?'' ucap Hanin
''Sayang, Ev..Evan..'' ucap Darren terhenti
''Ada apa dengan kak Evan?'' tanya Hanin terkejut, begitu pun dengan Nisa
__ADS_1
''Evan kritis'' ucap Darren
''Apa?''....