Suamiku Dosen Galak

Suamiku Dosen Galak
Eps 46


__ADS_3

Tiba-tiba terdengar suara pintu almari terbuka dan


''Mas Dareen'' tiba-tiba seorang wanita memeluk Darren dari belakang, siapa lagi kalau bukan Hanin


''Sayang , apa kau baik-baik saja?'' tanya Darren memeluk Hanin dengan erat


''Aku tidak apa-apa mas'' ucap Hanin


''Darren, aku menemukan ruang rahasia'' ucap Rainer


''Bawa aku kesana'' ucap Darren


''Aku salah karna telah meremehkan anda tuan Darren'' ucap pria yang memakai topi dan masker itu tiba-tiba masuk


Melihat itu, Hanin lanasung bersembunyi di balik tubuh kekar Darren


''Agra lindungi nona'' ucap Darren


''Baik tuan'' ucap Agra berdiri di belakang nona mudanya


''Bryan Axel, pria yang bekerja di perusahaan Prana Corp di devisi keuangan, benarkan?'' tanya Darren yang membuat pria itu terkejut begitupun dengan Hanin


''Apa? Maksudmu kak Bryan?'' tanya Hanin


''Sepertinya aku tidak bisa menutup identitasku dari mu'' ucapnya dan membuka semua samarnanya


''Kak Bryan, kenapa kamu melakukan ini?'' tanya Hanin


''Kenapa, kalau bukan karna dia aku tidak akan melakukan ini padamu'' ucap Bryan dengan keras


''Apa kau tau, papamu sudah merampas semua milik papamu hingga papaku sakit dan meninggal dia tidak merasakan hidup dengan kebahagiaan. Aku sudah membuat saham perusahaanmu anjlok tapi dengan mudahnya kau bisa mengatasi ini semua'' ucap Bryan geram


''Dan sekarang, kau juga merebut Hanin dariku'' sambung Bryan


''Tenyata kau anak dari Bayu'' tiba-tiba seorang pria paruh baya datang bersama sang istri


''Anak muda aku tidak pernah mengambil hak milik ayahmu. Tapi sebaliknya ayahmu yang sudah mengambil sebagian milikku'' ucap Ardie


''Apa kau mencoba memfitnah orang yang sudah meninggal?'' tanya Bryan


''Jika kau tak percaya lihatlah ini, ini adalah bukti semua kekuasaan ayahmu. Tapi ayahmu sendiri yang menghancurkan kekuasaannya sendiri'' ucap Ardie


''Kau bohong, ayahku adalah orang yang baik'' ucap Bryan


''Aku adalah sahabat Bayu, tapi dengan teganya dia mengkhianatiku'' ucap Ardie


''Apa kau sedang berusaha menghasutku?' tanya Bryan


''Apa pernah kau di anggap anak oleh Bayu? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?'' tanya Ardie


Bryan diam sejenak, dia mengingat bagaiamana perlakuan Bayu padanya. Siksaan demi siksaan dia alami selama bersama Bayu


''Bagiamana pun, seburuk apa pun dia tetaplah ayahku. Jadi aku ingin kau juga mati seperti ayahku'' ucap Bryan mengarahkan pistolnya pada Ardie


''Jika kau berani melukai papaku aku akan membuatmu mati mengenaskan'' ucap Darren menatap tajam Bryan


Perlahan Bryan menundukkan langkahnya dan meninggalkan kediamannya


Tiba-tiba terdengar bunyi suara yang tidak asing bagi Darren Ardie dan yang lain


''Tit....tit...tit...''


''Suara itu, segera tinggalkan tempat ini'' ucap Darren mengangkat tubuh Hanin dan segera membawa pergi


Baru saja mereka sampai di depan pintu gerbang dan


''Boom''...

__ADS_1


.


.


.


Malam itu, Evan yang sedang menjaga Gavin, tiba-tiba mendapat kabar dari Dani ada ledakan di kediaman Axel


Saat itu juga ada ketiga sahabat Hanin dan juga Yuda mengunjungi Gavin dan juga mencari kabar tentang Hanin


Begitupun dengan Angga dan Juan yang ingin tau kabar adiknya itu


''Apa kau bilang, kediaman Axel terjadi ledakan?'' tanya Evan terkejut


''Lalu bagaimana dengan Darren dan yang lain?'' tanya Evan


''Saat ledakan terjadi, mereka masih berada di dalam rumah itu, tapi ada yang melihat Axel keluar dari kediamannya'' ucap Dani


''Sial, kenapa ini harus terjadi'' ucap Angga memukul dinding rumah sakit itu


''Heh tidak mungkin, Darren dan yang lain pasti akan selamat'' ucap Evan terlihat lemas


''Kak, siapa saja yang di sana?'' tanya Nisa


''Darren, Rainer dan Agra juga beberapa anak buah mereka'' ucap Evan


''Apa Rainer juga disana?'' tanya Risa yang tiba-tiba ambruk, untung saja Yuda dengan segera menangkap tubuh Risa


''Risa'' pekik Nisa dan Jesi


''Suster tolong'' ucap Jesi dan salah satu suster meminta Yuda membawa Risa ke ruang perawatan


''Bodoh, seharusnya aku juga ikut mereka'' ucap Evan menyesal


''Tuan, Tuan besar Pramana dan nyonya juga disana'' ucap Dani lagi


''Nara, Jesi kalian tetap disini, aku akan pergi menyusul mereka'' ucap Evan


''Arya kau juga disini jaga mereka'' ucap Evan


''Evan kami ikut'' ucap Angga, Evan hanya mengangguk


''Aku berharap tidak akan terjadi apa-apa pada mereka'' ucap Evan terlihat lesu


''Saya yakin mereka akan selamat, tuan Darren bukan orang yang ceroboh'' ucap Dani mencoba menenangkan tuannya itu


Saat sampai di tempat tujuan, Evan melihat bangunan itu sudah hancur tak tersisa


''Jika ini bener mimpi, tolong segera bangunkan aku'' ucap Angga


''Aku berharap ini hanya mimpi, tapi sayangnya ini bukanlah mimpi'' ucap Evan yang mulai tak imbang


''Tuan'' ucap Dani menahan tubuh tuannya


''Baru sebentar aku bertemu dengan adikku, apakah aku harus kehilangan adikku lagi?'' ucap Angga tanpa terasa dia menjatuhkan air matanya


''Kenapa kalian disini?'' tanya seorang pria tiba-tiba


''Kau selamat, syukurlah kau selamat'' ucap Evan dan langsung memeluknya dengan erat


''Hei aku bukan Nara, aku Rianer'' ucap Rainer mendorong Evan


''Aku tidak buta, aku tau jelas siapa dirimu'' ucap Evan kesal


''Dimana Hanin dan Darren? Bagaimana kau bisa disini'' tanya Angga


''Ledakan itu terjadi saat kita baru saja keluar dari gerbang ini. Darren memintaku untuk melihat keadaan, karna Bryan pergi tanpa ada pantauan'' ucap Rainer

__ADS_1


''Tapi Hanin... '' ucapan Rainer terhenti


''Ada apa dengannya?'' tanya Angga


''Tiba-tiba dia mengerang kesakitan lagi'' ucap Rainer


''Lalu dimana sekarang Hanin?'' tanya Angga


''Dirumah sakit, sebaiknya kita kesana sekarang'' ucap Rainer dan segera pergi


.


.


Sementara itu di tempat yang sangat sepi dan terpencil seorang pria tertawa penuh kemenangan


''Brengsek, mereka berhasil lolos kurang ajar'' ucapnya kini dia terlihat marah seperti orang gila


''Tapi saya juga dapat kabar, nona Hanin berada di rumah sakit tuan'' ucapnya


''Cari tau rumah sakit mana dia di rawat'' ucap Bryan


''Sudah tuan, saya sudah menemukannya'' ucapnya dan menunjukkan ponselnya


.


.


Di rumah sakit, Hanin langsung saja di bawa ke ruang pemeriksaan


''Darren Hanin pasti baik-baik saja'' ucap Rani mencoba menenangkan anaknya itu


''Aku takut, bagaiamana kalau aku kehilangan Hanin dan anakku'' ucap Darren menangis di pelukan mamanya.


''Seharusnya aku yang menjaga Hanin'' ucap Darren penuh penyesalan


Tak berapa lama dokter keluar dari ruang pemeriksaan


''Dok bagaiamana keadaan istri saya?'' tanya Darren


''Syukurlah, nona Hanin tidak mengalami masalah serius. Dan kandungan nona Hanin pun baik-baik saja'' jawab Dokter


''Lalu kenapa dia bisa mengerang kesakitan di bagian kepala?'' tanya Darren


''Dia akan merasakan sakit, jika dia mengingat hal yang tidak ingin dia ingat'' ucap Dokter


''Jadi untuk sementara jangan memgungkit hal-hal yang terjadi beberapa waktu ini'' ucap Dokter


''Baiklah terima kasih dok'' ucap Darren, sedikit bernafas lega dan dokter pun kembali ke ruangan Hanin


''Apa mama bilang, Hanin baik-baik saja'' ucap Rani


''Rani kenapa saat di hadapan putramu kau sangat tegar, sedang tadi kau hampir pingsan mendengar menantumu di culik'' sindir Ardie


''Justru saat ini aku lah yang harus lebih tegar'' ucap Rani tersenyum lembut


Baru beberapa menit dokter masuk, tiba-tiba perawat menghampiri dokter dengan paniknya


''Dokter, gawat pasien di ruang ICU tiba-tiba mengalami kejang, dan detak jantungnya menurun'' ucap Perawat itu


''Suster cepat siapkan semua alat medis'' ucap Dokter


''Maaf siapa nama pasien itu?'' tanya Darren


''Atas nama Gavin'' jawab perawat dan langsung pergi


''Ga...Gavin''....

__ADS_1


__ADS_2