
Di tempat lain, seorang pria dan wanita tertawa puas di sebuah bar yang cukup terkenal di kota itu
''Ingat nona manis jangan lupakan apa yang kau janjikan padaku'' ucap pria itu
''Tidak masalah, aku pasti akan memberikannya padamu sesuai perjanjian kita'' ucapnya dengan meraba paha pria itu
''Apa kau yakin tidak akan ketahuan??'' tanyanya lagi
''Semua aman sayang, aku sudah menghapus semua rekaman cctv yang merekam kejadian itu'' ucapnya lagi mencium pipi wanita itu
''Kau memang gadis nakal'' ucap pria itu lagi dengan mencium tangan wanita itu
**
''Aku sudah menemukan orang itu'' ucap Rainer
"Siapa dia?" tanya Darren
"Aku tidak tau namanya, tapi yang jelas dia dari devisi perencanaan" ucap Rainer
"Tapi dari rekaman sebelumnya dia bertemu dengan Mona" ucap Rainer
"Lakukan seperti biasa pada pria itu" ucap Darren
"Lalu bagaimana dengan Nona?" tanya Evan
"Mona, dia akan mendapatkan hukuman yang lain" ucap Darren dingin
Semua yang ada disana merasa bingung, dengan peekataan Darren
Namun mereka tak bertanya kembali, mereka tau jika Darren berkata hukuman lain dia tidak akan bisa hidup dengan tenang
"Bik Ning, apa makan malamnya sudah siap?" tanya Ardie
"Sudah tuan" ucap Bik Ning
"Semua kita makan malam dulu" ajak Ardie
"Baik om tan" jawab Evan dan Rainer, Sedangkan Darren langsung saja duduk di meja makan
"Ini mas" ucap Rani yang sudah mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk suaminya
Sesaat setelah mereka makan, tiba-tiba bik Ning membuka pintu utama
"Selamat malam nyonya, tuan" sapa bu Ima sopan
"Bu Ima, jangan panggil kami seperti itu bu. Amggap saja saya ini adik bu Ima" ucap Ardie yang dapat anggukan dari Rani
"Maaf, tapi saya sudah terbiasa dengan panggilan itu" ucap bu Ima
"Pelan-pelan ibu akan terbiasa" ucap Rani lembut
"Bagaimana keadaan Hanin?" tanya bu Ima
"Demamnya masih belum turun bu, dan dia terus memanggil nama ibu" ucap Rani
"Bisakah saya melihat Hanin?" tanya bu Ima
"Mari bu saya antar" ucap Rani menuntun bu Ima
Tak berapa lama, Ardie dan yang lain juga ikut naik menyusul bu Ima dan Rani
__ADS_1
"Bu, apa sebelumnya Hanin pernah mengalami trauma?" tanya Ardie
"Saya tidak tau tuan, tapi yang saya tau Hanin sangat takut dengan kegelapan" ucap bu Ima
"Maksudnya ibu, Hanin berada di panti sudah besar?" tanya Rani
"Apakah aku harus memberi tau semua tentang Hanin. Mungkin dengan aku memberi tau mereka, mereka bisa menemukan siapa keluarga Hanin yang sebenarnya" batin bu Ima
Bu Ima menarik nafasnya panjang, lalu mulai menceritakan semuanya
Flashback On
15 tahun yang lalu, bu Ima yang saat itu habis berbelanja keperluan untuk anak yatim, tiba-tiba mendengar suara ledakan
Bu Ima yang saat itu ingin segera berlari mengurungkan niatnya karna mendengar suara tangisan anak kecil dan segera mencarinya
"Astaga nak, kasian sekali kamu" ucap bu Ima yang melihat anak itu sudah bermandikan darah. Anak itu pun terus memanggil mamanya
Saat bu Ima akan membawa anak itu, tiba-tiba tangan bu Ima di pegang oleh seseorang
"To...tolong, tolong jaga dia" ucapnya dengan menahan sakit
"Ibu bertahan, saya akan meminta bantuan" ucap bu Ima
"Jangan selamatkan aku, selamatkan saja dia, bawa dia pergi dari sini" ucapnya
"Berikan ini padanya jika dia sudah dewasa, ini adalah simbol dari keluarganya. Jangan sampai ada yang tau siapa nama lengkapnya" ucapnya lagi memberikan kalung batu giok merah
"Cepat bawa dia pergi dan tinggalkan tempat ini" ucapnya sambil memberikan uang pada bu Ima
Bu Ima pun segera pergi dan membawa Hanin kerumah sakit
Bu Ima pun melihat kalung itu dan tertulis nama lengkap Hanin disana
''Jadi identitas Hanin bukanlah orang sembarangan'' ucap Ardie
''Om biar Evan dan Rainer akan membantu mencari tau siapa keluarga Hanin'' ucap Evan
''Iya, tapi jika pemyelidikan ini membahayakan Hanin, kita tunda dulu. Karna keluarga Allaric bukanlah kekuarga sembarangan'' ucap Ardie
''Baik Om'' ucap Rainer
''Darren mulai sekarang kau harus menjaga Hanin dengan hati-hati'' ucap Ardie, Darren mengangguk mengerti
Melihat Hanin sudah jauh lebih tenang, bu Ima memutuskan untuk kembali ke panti. Bu Ima akan kembali lagi besok saat Hanin sudah bangun
Setelah kepergian bu Ima, Darren kembali ke kamarnya menemani Hanin
''Hanin siapa kamu sebenarnya?'' tanya Darren pada Hanin yang masih memejamkan matanya
**
Tepat jam 12 malam, beberapa orang pria berpakaian hitam menangkap seorang pria yang baru keluar dari hotel
"Apa-apaan ini lepaskan aku, siapa kalian?" tanya pria itu memberontak
"Lepaskan dia, kalau tidak akan aku laporkan pada polisi" ancam si wanita namun tak dihiraukan oleh pria itu
"Bawa dia ketempat tuan" ucap salah satu pria itu
"Apa mau kalian?" tanya pria itu
__ADS_1
"Duamlah, jika kau masih ingin hidup maka ikuti saja kami" ucapnya
**
''Nona pergilah jangan perdulikan kami, pergilah nona'' ucap wanita itu
Hanin pun berlari sampai dia terjebak di tebing
''Kamu harus mati, aku akan membunuhmu sekarang'' ucap pria itu sambil terus mendekat pada Hanin
''Tidaaak jaangaaan'' teriak Hanin dan langsung terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi wajahnya
Darren yang baru selesai mandi langsung menghampiri Hanin
''Hanin, apa kamu bermimpi buruk?'' tanya Darren memeluk tubuh Hanin yang gemetar
''Aku takut, dia akan membunuhku'' ucap Hanin memeluk tubuh Darren erat
''Tidak akan ada yang berani menyentuhmu, aku akan melindungimu'' ucap Darren lalu menyentuh dahi Hanin yang masih sedikit demam
Pelukan dan ucapan Darren membuat Hanin merasa tenang
''Aku, kenapa ada di kamar kamu?'' tanya Hanin
''Iya, aku sengaja agar aku lebih mudah menjagamu'' ucap Darren lembut
''Pergilah mandi, sebentar lagi bik Ning akan memyiapkan pakaian untukmu'' ucap Darren
Hanin langsung menuju kamar mandi, dengan membawa handuk kimono
''Aku akan menunggu di meja makan'' ucap Darren, Hanin hanya menganggukkan kepalanya
''Darren, apa Hanin sudah bangun?'' tanya Rani
''Sudah, dia sedang mandi'' ucap Darren
Tak berapa lama ponsel Darren berdering dan tertulis nama Evan disana
"Bagaimana?" tanya Darren
"Dia sudah ada di tanganku" ucap Evan
"Aku akan kesana satu jam lagi" ucap Darren
"Baiklah aku akan menunggumu" ucap Evan
Setelah mandi Hanin langsung turun untuk sarapan
"Hanin beberapa hari kedepan kamu tidak perlu ke kantor" ucap Darren
"Iya mas" jawab Hanin
"Di depan sudah ada Fero dan Beni, jika kau butuh sesuatu katakan pada mereka" ucap Darren
"Kenapa rumah ini di jaga begiti ketat?" tanya Hanin yang melihat beberapa pengawal berbaju hitam
"Tidak apa Hanin, papa dengar beberapa hari ini sering ada orang asing masuk kawasan ini" ucap Ardie
"Rani lebih baik kau juga disini, nanti setelah dari kantor aku akan langsung kemari" ucap Ardie
"Iya mas" jawab Rani
__ADS_1
Namun, dari kejauhan ada seorang yang terus mengawasi rumah Darren
"Darren, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang bersamanya" ucapnya dengan mata penuh dendam