Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Pergi dari rumah


__ADS_3

"Maaas!"


Aku meraung menangisi kebodohan ku.


Cahya berdiri menyaksikan aku menangis seperti anak kecil yang meminta permen.


****


Sebelum benar-benar diusir aku lebih dahulu pergi meninggalkan rumah. Tujuan pertamaku adalah rumah ibu. Ya, aku harap di sana ibu mau menolongku. Dan Mas Ferdi membawaku.


Aku tinggal Faisal bersama mertuaku. Cahya kubawa dalam gendonganku.


Sepuluh menit sampai di depan rumah ibuku.


"Assalamualaikum, Bu ...,"


Tak kuasa ku simpan air mataku. Biarlah mengalir begitu saja.


"Waalaikum salam, Laras. Loh, tumben pagi-pagi ke sini?" tanyanya.


Wanita 45 tahun itu sedikit tidak suka dengan kehadiranku. Tapi, apa boleh buat aku terpaksa dan harus pergi ke mana.


Aku duduk di ruang tamu dan ibu melayani pembeli.


Ibu menghampiriku.


"Bu boleh ya, aku tinggal di sini sementara waktu," pintaku.


"Emangnya, kenapa? Berantem kamu sama Beni,"


"Iya."


"Berantem terus!"


Air mata tak berhenti berlinang. Seirama dengan sakit yang kurasa.


"Go**ok!" maki ibu kemudian.


Ibu berlalu meninggalkan aku dan Cahya. Hatiku sakit tak terhingga.


Perselingkuhanku dengan Mas Ferdi, ibu tahu bahkan ia orang yang pertama menyetujui hubungan ini. Dia pun berharap kami bisa menikah. Tapi, jika kuberi tahu bahwa aku hamil anak Ferdi marah tidak ya? Sebaiknya kurahasiakan dulu.


Air mataku mulai mengering oh, ya. Aku baru ingat. Mas Ferdi!


Segera aku rogoh saku tas mencari benda pipih persegi itu.


Ku ketik pesan ....


"Mas Ferdi, aku sudah keluar dari rumah. Mas benarkah, mau menjemputku?"


Tak ada balasan darinya. Lama kutunggu tak kunjung jua dibalas.


****


Dua bulan tinggal bersama ibuku Mas Beni tak mencari ku sama sekali. Mas Ferdi pun sama. Ia bilang nanti, nanti, dan nanti! Ibu mulai menunjukkan tidak suka dan jarang memberiku makan.


"Mama, Aya lapar," rengek Cahya. Ia memegangi perutnya.


"Sabar ya, Nduk. Nanti juga kita makan." Aku belai rambut keritingnya.


Ibuku seperti patung tak mau bicara padaku. Wajahnya cemberut.


"Kamu sampai kapan di sini?" tanya ibu. Nampaknya ia merasa jengah.


"Sampai Mas Ferdi menjemputku."


Tiba-tiba ibu tersenyum.


"Oh, itu rupanya. Ibu tahu kok, di mana rumah Ferdi. Nanti ibu pesankan tiket travel ke rumahnya," katanya.


Aku berbinar, "Benarkah, Bu?"


"Iya, benar dong!"


Akhirnya ibu mau membantuku. Mas Ferdi aku datang ....


"Bersiaplah, Laras."


"Baik, Bu!"


****


Pukul 5 sore travel berhenti di depan rumah ibuku. Aku berpamitan dan mencium tangannya.


"Kalau supir belum berhenti kan, kamu. Jangan turun ya. Supir tahu kok, rumah Ferdi,"


"Iya, Bu."


Daaah!


Lambaian tanganku di kaca jendela mobil. Melesat menjauh dan ibu tak terlihat lagi.


Dua jam perjalanan hari mulai gelap tak lagi kulihat dan kuhapal jalan-jalannya.

__ADS_1


Hemm ....


Aku bahagia bisa bertemu Mas Ferdi. Mas aku datang ....


Satu jam kemudian ....


Ciiit!


Mobil yang aku tumpangi berhenti di depan rumah. Eh, tunggu. Aku kenal tempat ini.


Ini bukan rumah Mas Ferdi!


Ini di mana?


Ya Tuhan tolong!


Aku pijakkan kaki kananku dan keluar dari mobil silver yang kutumpangi.


Ini kan rumahnya, Bude Mira? Ya, Allah. Ibuku tega mengirim ku kesini.


Brak!


Pintu mobil ditutup. Satu tas sudah di dekat kakiku.


Hatiku menimbang-nimbang masuk atau tidak? Jika tak masuk aku harus ke mana?


Perihnya perutku meminta diisi. Ah, aku tak peduli diterima atau tidak yang penting aku masuk dulu. Lagipula, ini sudah tengah malam.


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamualaikum, Bude ...," ucapku lirih.


Aku sembari celingukan melihat sekeliling takut ada orang jahil menghampiriku dan Cahya.


Lama tak kunjung dibukakan pintu. Aku ketuk kembali.


Tok!


Tok!


Tok!


"Bude Mira," kataku.


Kali ini aku ketuk di jendela.


Tok!


Tok!


Suara pintu dibuka cepat-cepat ku hampiri wanita bedaster itu.


"Laras?!" Bude setengah terkejut.


"Iya, Bude. Ini Laras,"


"Kok, malam-malam ke sini?"


"Hehehe. Travelnya kemalaman."


"Masuk sini!" perintah Bude.


Lima belas menit kemudian Bude menyuruhku dan Cahya makan.


Alhamdulillah ... Akhirnya makan juga.


*****


Di ruangan kamar sederhana ini aku bisa merebahkan tubuhku.


[Mas, aku sudah pergi jauh dari rumah. Kapan mau menjemputku?] Kutulis pesan SMS untuk Ferdi.


Send.


Pesan terkirim tapi tak juga dibalas.


Huuuft ....


Ya, Allah. Kuatkan hati ini ampuni dosaku. Tolong beri petunjuk-Mu.


Rasa kantukku kian mendera aku tak sanggup berlama-lama menunggu balasan darinya.


Samar-samar kudengar suara notif SMS. Mataku enggan terbuka.


Ayam jantan berkokok aku pun bangun. Sebelum keluar kamar ku cek ponselku.


Sederet pesan dari kekasihku.


[Kamu di mana, Dek?]

__ADS_1


[Untuk saat ini aku tak bisa menemuimu dulu. Perusahaan tak mengizinkanku keluar.]


[Kamu sudah di Jawa?]


Apa-apaan ini? Mas tak kah, kau merindukanku?


Air mataku berlinang. Dengan bergetar tanganku berusaha membalas pesannya.


Aku ketik [Belom, Mas] send.


Kutaruh benda pipih itu di kasur. Langkah ku menuju kamar mandi.


Lima menit kemudian ...


Drrt ... Drrtt ...


"Halo ...,"


"Halo, Laras! Aku kan sudah bilang pergi yang jauh. Ke Jawa gitu, sampai kamu melahirkan. Kok, masih di sini-sini aja?! ucapnya setengah membentak di ujung sambungan telpon.


"Corona, Mas. Nggak bisa semudah itu pergi,"


"Lelet kamu! Dari kemarin-kemarin kusuruh pergi yang jauh masih disini!"


"Mas ngusir aku? Lepas tanggung jawab gitu?" tanyaku balik.


"B---bukan begitu. Maksudnya jangan sampai ketahuan orang kalau kamu hamil anakku."


Aku tutup mulutku dengan separuh telapak tangan. Agar tangisku tak terdengar Bude.


"Mana janjimu yang akan menikahiku? Hidup bersama dan memiliki keluarga!"


Aku frustasi begitu sakit hati ini. Tubuhku lemas dan bergetar.


"Maaf, Laras. Untuk sekarang aku tak bisa menemui mu. Kamu sabar dulu ya. Love you."


Klik!


"Halo, halo,"


Brengsek!


Aku banting ponselku ke sembarang arah.


Prak!


Bercecer dan pecah layar ponselku.


****


Manis madu yang kita teguk bersama kini terasa pahit yang kurasa.


Setiap menghubungi melalui telpon pasti istrinya yang menerima telpon. SMS tak pernah dibalas.


Ferdi ke mana kamu?


Jangan lari dari kenyataan ini. Hadapi bersama-sama.


Maaaaaas!


Lihat tubuhku kian hari semakin kurus muka kusut bagai benang. Benih yang kau beri semakin membesar.


Dan kau?


Lari!


Pengecut!


Bang**t!


*****


Dua bulan di rumah Bude. Bude merasa berat hati. Raut wajahnya berubah menjadi monster. Aku tahu itu!


Aku harus ke mana? Seperti orang gila.


Aku punya teman di sini. Ya, aku akan menemuinya.


"Maaf ya, Laras. Aku nggak bisa menerima kamu di sini. Apalagi, pandemi."


"Maaf, Laras. Aku nggak bekerja belum bisa menampung kamu dan Cahya. Hidup kami pas-pasan."


"Sekarang lagi pandemi tamu wajib lapor dan tes swab."


Itu kata teman-teman ku. Mana janji mereka dulu? Kita adalah sahabat sampai kapanpun. Tapi?


Aku seperti seonggok daging busuk yang tak diinginkan.


"Aku punya kenalan orang pintar (dukun). Kamu bisa ke sana minta tolong guna-guna Ferdi. Atau kamu bisa minta apapun,"


Ide yang bagus!


Tak ku pikir lagi ini kesempatan bagus aku harus menemui dukun itu.

__ADS_1


Bagaimana? Boleh nggak nih, Larasati ke dukun?


__ADS_2