Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Kabur


__ADS_3

Berpamitan untuk ke sekolah di dalam tasku berisi baju, ijazah SD dan SMP. Seluruh barang-barang ku tak dibawa semua hanya yang penting saja.


Aku ingin bebas dari pesantren. Saatnya menerbangkan sayap sejauh mungkin yang aku mau.


****


Aku hentikan angkot jurusan ke rumah Bude, hari ini aku bolos sekolah. Melanjutkan misi kabur ku.


Sampai ...


"Loh, kok, pulang? Nggak sekolah, ya?" tanya Bude Mira heran.


Wanita tambun itu sedang menyapu halaman.


"Libur, Bude," jawabku dusta. Kemudian menyalami tangannya.


"Oh."


"Bude, Laras nggak betah di sana. Laras keluar saja, ya, Bude?" tanyaku hati-hati.


Bude Mira berhenti menyapu. Ia menatapku tak suka.


"Kalau kamu keluar pesantren, mau jadi apa kamu!" ucap Bude meninggi.


Aku terkejut dengan reaksi Bude. Apakah Bude marah denganku?


"Ya, sekolahnya, tetap Bude. Tapi, Laras nggak mau ke pesantren lagi," jawabku. Aku menunduk menahan tangis.


"Terserah kamu!" Bude berlalu.


Bude melempar sapu lidinya ke bawah pohon mangga. Dan masuk meninggalkanku yang masih berdiri di halaman.


Aku pun menyusul ke dalam, menaruh barang-barang ku.


"Jadi anak kok, nyusahin saja bisanya."


Bude ngedumel di dapur.


Aku merasa bingung dengan keputusanku saat ini. Kembali ke pesantren atau, tetap di sini seperti orang asing?


Berita kabur ku dari pesantren, tersiar sampai keluarga di Jawa.


Bude Mira berterus-terang tidak mau menampungku karena tak sanggup membiayai kebutuhan lainnya.


Ibu apalagi? Dia bahagia dengan kehidupan barunya. Sungguh malang nasib anakmu, Yah.


Akhirnya, adik ibu--Pak lek Syarif dengan sukarela mau menerimaku. Semua keperluan tiket pesawat ditanggung Pak lek.


Bagai burung tak bertuan hinggap ke pohon satu ke pohon lainnya tanpa tujuan dan keluarga.


*****

__ADS_1


Tiga tahun tinggal bersama Pak lek Syarif akhirnya, aku lulus SMA. Pun, sama adik ibu tak sanggup menerimaku lama-lama. Tiga tahun waktu yang panjang.


Aku harus ke mana? Ibu apa salahku? Siapa aku sebenarnya?


Kenapa tidak ada yang sudi menerimaku.


Pak lek Syarif menyerahkan ku pada kakakku Farhan di Jakarta. Ia sudah beristri ASN perpajakan.


Apakah mereka mau menerimaku?


*****


Welcome to Jakarta!


Dengan senang hati Kak Farhan dan Kak Luna--istrinya menyambut kedatanganku.


Semua kebutuhan dan keperluanku ditanggung mereka. Rumah yang bagus, perabotan mewah, dan dilayani asisten rumah tangga.


Seperti ratu di kerajaan. Tapi, hanya sementara. Nyatanya tak semanis madu dan tak seindah dongeng. Aku tetaplah sampah yang menyusahkan.


"Kamu nggak becus!" hardik Kak Farhan. Ketika aku lalai memasak air. Ceret nya gosong. Bodoh, masak air pun aku tak bisa.


"Seragamku sudah disetrika, Laras?"


"Belum. Maaf Kak Farhan, Laras lupa," sahutku di meja makan.


"Huh! Makanya, jangan makan tidur saja kerjaanya!" celetuk Kak Luna. Ia sudah rapi dengan seragam kerjanya.


Dor! Dor! Dor!


Pintu kamarku digedor nyaring. Biasanya diketuk.


"Bangun, woy!" suara Kak Luna.


"Sudah bangun, Kak. Laras lagi pakai baju."


"Lelet! Siapkan keperluan suamiku. Nanti kesiangan, aku ada rapat," ucapnya.


Ia pergi meninggalkan kamarku. Terdengar dari suara ketukan sepatunya menjauh.


"Iya."


Semua pekerjaan dilimpahkan kepadaku. 'Menumpang harus tahu diri' begitu kata Kak Luna.


****


"Kapan, Sayang. Laras pergi dari rumah ini?" ucap Kak Luna di taman mini belakang.


Aku tak sengaja mendengar obrolan mereka.


"Ya, sabar. Nunggu dia mandiri dan mendapatkan pekerjaan,"

__ADS_1


Kak Farhan sibuk dengan koran yang ia baca. Sementara, Kak Luna menyiram bunga anggrek koleksinya.


"Kelamaan, Sayang! Kerjanya makan tidur doang, mana bisa dapat kerjaan. Lulusan SMA hari gini bisanya jadi pembantu."


"Ya, kan, bisa jadi pembantu di rumah kita?" usul Kak Farhan.


"Alah, nggak becus ini itu!"


Hatiku sakit mendengar ucapan mereka. Seburuk inikah nasibku?


Tolong siapa pun, nikahi aku. Bawa aku pergi dari sini. Aduh, ngomong apa sih, aku.


Baiknya aku kembali ke kamar sebelum ketahuan menguping.


Brak!


Pintu kubanting dengan kesal. Kenapa harus begini sih? Emangnya aku bola. Dioper ke sana-kemari.


Setiap hari dapat omelan pedas, kalau tidak mau menerima keberadaanku harusnya jangan ditampung di sini!


Drt ... Drt ...


Telpon dari ibu? Kok, tumben.


Klik


"Assalamualaikum, Nduk. Bagaimana kabar kamu?" ucap ibu di seberang sana melalui panggilan telpon.


"Waalaikum salam. Sehat, Bu. Ibu bagaimana?" sahutku. Aku duduk di pinggir ranjang berseperai putih.


"Alhamdulillah, Ibu ya, sehat. Bagaimana di sana, betah apa nggak?"


"Betah, Bu. Tapi ...,"


Sengaja kuputuskan supaya ibu penasaran.


"Kenapa, Nduk?"


Kan, benar saja. Ibu penasaran.


"Eh, nggak kok, Bu," jawabku asal.


"Ibu mau ngenalin kamu sama anak temannya ibu. Beni namanya, siapa tahu kamu jodoh."


Apa? Ibu mau menjodohkan ku rupanya. Ya Tuhan! Doaku terkabul.


"Ehm, boleh deh, Bu. Berikan saja, nomor ponsel Laras,"


Ini kesempatan untuk aku pergi dari tempat ini. Semoga saja jodoh dan cocok.


Tapi, apa Mas Beni mau denganku? Wajahku tak cantik.

__ADS_1


__ADS_2