Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Tuhan Jangan Ambil Anakku


__ADS_3

Mas Beni menghampiri aku yang sedang menangis.


"Kamu kenapa?" tanyanya. Ia duduk di sampingku.


Aku menceritakan semuanya atas perlakuan keluargaku.


"Apa kubilang. Nenek sihir itu tidak tahu berterima kasih." Mas Beni kesal.


"Siapa tahu kan, berubah. Nyatanya aku tak pernah dianggap," ucapku lagi.


"Mulai sekarang tak usah kamu repot ke sana lagi. Kalaupun ke sana ya, harus kuat mental," katanya.


Aku diam tak menanggapinya. Meskipun rumah tanggaku sudah terasa hambar kadang Mas Beni merupakan suami pendengar setia.


Dan ada perubahan darinya. Kini Mas Beni sudah mau menyentuh Samudera. Ia menimang dan membelikan sesuatu.


Bagaimana denganku? Ah. Sudahlah! Tak perlu aku perjelas. Yang penting aku bersama anak-anak.


Dalam diam hanya mampu mendoakan Mas Beni agar cepat sadar dan berhenti dari judi juga mabuknya.


Terlilit hutang Bank keliling.


Selain mantan yang bergentayangan para penagih pun tak luput datang menghantuiku.Gali lubang tutup lubang begitulah kira-kira. Pinjam ke sana-sini untuk makan hari-hari.


Penagih silih berganti seribu jurus aku lakukan termasuk mencari pinjaman untuk setor.


Kapan berakhir kalau begini?


Ada rasa keinginan untuk mengakhiri hidup.Tapi, bagaimana dengan anak-anakku?


Mas Beni tak mau membantuku ataupun tak mau tahu. Bisa dihitung dalam satu bulan ia 3 atau 5 hari di rumah. Pergi entah ke mana seperti sang petualang.


Kesusahan istri dan anak-anaknya ia tak tahu. Tunggu, tunggu, tunggu. Apakah aku masih pantas disebut istri? Ah, Pernikahan macam apa ini!


Disaat keadaan genting begini pun ia tak pernah turun tangan. Dikala anak-anaknya sakit aku yang berjuang untuk mereka.


Seperti hari ini Samudera sedang demam. Ia hanya bisa merengek. Dengan percaya diri aku meminjam uang ke mertuaku untuk biaya berobat.


Dengan langkah tertatih aku gendong ia menuju klinik terdekat.


Sudah beberapa jam tak juga reda panasnya. Obat yang diberikan bidan tak bereaksi. Aku bingung dan menangis. Inisiatif aku bawa Samudera ke tempat dukun kampung.


Hasilnya pun sama tak juga terlihat membaik. Rintihan tangisnya membuat hatiku sakit.


Justru demamnya semakin tinggi. Aku bawa ia ke RS dengan menyewa ojek. Sesampainya di sana ....


"Suster, tolong, Sus!" teriakku panik. Tubuhku bergetar.


"Kenapa si Dedek, Bu?" tanya suster. Tangannya cekatan memindahkan Samudera ke ranjang.


"Demam." Napasku terengah-engah.


Samudera diambil alih oleh petugas kesehatan. Di letakkan di brankar RS.


"Apakah ada gejala kejang?" tanya dokter.

__ADS_1


"Tidak, Dok. Hanya saja panasnya tak juga reda ," sahutku.


"Baik. Kami akan periksa ya, Bu. Ibu tolong urus administrasinya ke lorong sebelah kanan," ujar suster memberi arahan.


Sementara itu aku mengurus administrasi. Sekembalinya aku mengurus administrasi aku merasa lega anakku sudah ditangani dokter. Aku duduk di sampingnya. Hatiku sakit melihat tubuhnya terpasang jarum infus.


Kemudian Samudera mengalami kejang tubuhnya kaku, kedua mata mendelik-delik ke atas, bibirnya membiru.


Ya Allah! Jangan kau ambil dia.


"Bagaimana, Dok?" tanyaku cemas. Seraya memegang jemari Samudera. Air mataku luruh.


"Tenang ya, Bu ...,"


Dokter dengan sigap menanganinya. Lima menit kemudian Samudera tak lagi kejang.


"Alhamdulillah, Bu. Sudah terlewati." Dokter nampak lega.


"Untungnya, Bu. Cepat-cepat dibawa ke mari." Suster di sampingku menenangkan ku.


Aku peluk Samudera dan menciumnya bertubi-tubi.


"Mama sayang kamu. Jangan tinggalkan, Mama ya, Nak."


Dalam kepiluanku terlintas memikirkan Ferdi. Tak ada salahnya 'kan?


"Mas. Anak kita baru saja mengalami kritis," ujarku lirih. Aku berkata pada diriku sendiri. Seandainya ada dia di sini mungkin aku sedikit lega.


Se-benci apapun aku terhadapnya kisah kita tak pernah aku lupa. Rindu menyeruak cinta kian dalam entah kapan akan hilang.


Tuhan tolong hapus ingatanku tentang dirinya.


Samudera sudah bisa dibawa pulang. Alhamdulillah, ia sehat kembali. Sampai di rumah dilanda kebingungan. Hari ini makan apa untuk aku dan anak-anak?


Setiap hari bingung memikirkannya. Seandainya ibuku memiliki hati mungkin ia bisa menolongku.


Pikirku ruwet duduk termenung di teras rumah.


"Lagi apa, Tante?" tanya Dela--keponakan Mas Beni.


"Eh, kamu bikin kaget saja." Aku menengok ke arahnya.


"Habis aku lihat bengong saja." Dela melihat sederet giginya yang putih.


"Lagi bingung." Aku berusaha menahan air mata yang hampir terjun. "Mumpung ada kamu. Antar Tante yuk, ke sana!"


Dela duduk di bangku sebelahku.


"Ke tempat neneknya Samudera," terangku.


"Ayuk!"


"Bu!" panggilku.


"Kamu. Mau apa," tanya ibu datar.

__ADS_1


Aku masuk tanpa diminta dan Dela mengikuti di belakangku.


"Bolehkah, Laras pinjam beras dan lain-lain?"


"Pinjam? Mau ngutang?"


Aku mengangguk.


"Tidak, tidak, tidak!" Ibu menolak.


"Laras mohon ..,"


"Ke luar dari rumah ibu. Ngutang aja kerjaanmu. Mana si Beni huh?!"


Akupun ke luar dan malu pada Dila.


"Nggak punya malu ngutang ke sini!" repet ibu.


Aku pulang tanpa membawa beras. Sungguh kecewa!


"Tante kenapa nggak bilang kalau belum masak?" tanya Dila iba.


"Malu." Aku hapus air mataku dengan jarik gendongan.


"Om Beni keterlaluan." Dela tahu betul dengan omnya.


Dela mengantarku pulang dan ia tak mau masuk ke rumah.


"Tante tunggu dulu ya. Nanti Dela balik lagi," ucapnya.


Suara deru motor di halaman rumah.


Dela dan ibu mertuaku ada apa?


"Assalamualaikum ...," sapa Dela dan menenteng beras 10kg.


"Waalaikum salam ...." Aku berdiri menyambutnya.


"Kamu tuh, gimana, Laras. Nggak ada apa-apa diam saja," omel ibu Nur--mertuaku.


Aku menggaruk tak gatal.


"Maaf, Bu merepotkan."


Aku silakan duduk.


"Kalau ada apa-apa ngomong. Beni juga keterlaluan jadi laki-laki. Oh, ya. Ibu cuma sebentar. Kamu masak dulu ya. Ibu pulang," katanya.


"Iya, Bu." Aku lega hari ini bisa makan.


"Terima kasih, Bu dan Dela."


"Iya, sama-sama."


Terima kasih, Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2