Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Kembali Pulang atau luntang-lantung?


__ADS_3

Aku bersiap-siap dalam keadaan masih bingung. Langkah selanjutnya akan aku pikirkan lagi.


Aku gendong Cahya ia girang karena akan bepergian. Tapi, ia tak tahu remuknya hatiku.


Langkah kaki ini gontai menuju pintu keluar. Semua mata memandangku geram. Ya, aku salah. Pantas ini kuterima.


Tidak ada salam perpisahan.


Sepanjang perjalanan aku linglung tak tahu harus ke mana.


Ponselku berdering cepat-cepat kulihat nama yang tertera.


Huuft!


Aku pikir Mas Ferdi!


"Halo, assalamu'alaikum ...," sapa Kak Farhan dalam telpon.


"Waalaikum salam, Kak." Aku singgah di pos ronda. Dan duduk sambil menerima telpon.


Aku menangis sejadinya. Biar dikata orang gila. Hanya itu yang bisa aku lakukan.


"Kenapa, Dek?" kata Kak Farhan cemas. Aku pikir begitu, karena dari nada suaranya.


"Aku ...."


Semua aku ceritakan pada Kak Farhan.


"Astaghfirullah, Dek. Taubat kamu! Sekarang kembali ke suamimu,"


"Tapi ... Laras takut Mas Beni marah."

__ADS_1


"Itu resiko kamu!" bentak Kak Farhan.


Aku terdiam merasakan hati yang hancur.


"Selesaikan urusan kamu jangan lari dari masalah. Apapun keputusan suami ya, diterima karena ulahmu." sambungnya lagi.


"Iya, Kak."


"Mas transfer kamu ongkos. Terus pulang dan jangan ulangi kesalahan ini."


*****


Tubuh ini letih remuk redam. Hancurnya hatiku juga kewarasanku. Begitu teganya Mas Ferdi menjanjikan seteguk madu. Setelah tahu aku hamil ia pergi tak tahu rimbanya.


Biar Tuhan yang balas ini semua!


Sekarang aku harus ke mana? Ke tempat ibu tidak mungkin. Ia saja mengusirku dan mengirimku.


Travel yang kutumpangi berhenti di depan rumah Hesti--temanku.


Ia menyambut dengan pelukan. Aku menangis dalam pelukannya.


Hesti menuntun ku kedalam.


"Kamu ke mana saja, Laras?"


Aku duduk dan ku lepas gendonganku lalu, dengan memeluk kedua lutut aku menangis histeris. Meluapkan perih yang kutampung di hati.


Semua kuceritakan. Hesti hanya mengusap punggungku. Ia pun menangis.


"Bagaimana caranya, menggugurkan bayi dalam janinku, Hes?"

__ADS_1


"Astaghfirullah! Jangan gila kamu. Kasihan dia. Jangan menambah dosa. Bayimu tak bersalah. Tolong biarkan dia hidup," Hesti memelukku erat.


"Aku nggak sanggup seperti ini. Huhuhu ...,"


"Kamu perempuan harus kuat! Angkat harga dirimu jangan mengharapkan Ferdi lagi. Jauhi buang semua yang bersangkutan dengan Ferdi. Buka lembaran baru, Laras."


Hesti menghapus air mataku. Dia bilang, "Kembali ke rumah Beni. Perbaiki semua meskipun tak bisa mengembalikan yang retak, paling tidak bertahan demi anak-anak. Istirahat di sini jika sudah tenang kamu pulang atau kamu tinggal beberapa waktu di sini. Kasihan Faisal, apa kamu tidak merindukannya?"


Oh, iya. Sulungku apa kabarnya? Benar juga kata Hesti.


"Terima kasih, nasihatnya."


"Taubatlah. Kamu masih punya Tuhan,"


Aku mengangguk dan memeluknya lagi.


Sebulan tinggal bersama Hesti aku telah siap kembali ke rumah Mas Beni.


Aku telah bertaubat ya, Tuhan. Terimalah taubat ku.


Aku siap, benar-benar siap.


Apapun akan kuterima. Asalkan aku mendapatkan tempat untuk berteduh dan bertemu anak-anakku.


Hesti memberi dukungan dan ia berucap, "Bismillah. Kamu bisa melewati semua ini."


Perlahan meninggalkan rumah Hesti dan menjauh.


Ku lambaikan tangan tanda perpisahan.


Satu jam kemudian aku dan Cahya telah sampai di halaman rumah Mas Beni. Ah, aku merindukannya. Meskipun aku tak tahu ia merindukan ku atau tidak.

__ADS_1


Mas Beni maafkan aku.


__ADS_2