Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Dia bukan anak haram, Mas!


__ADS_3

Sepanjang perjalanan aku mengutuk ibuku tak henti. Kenapa ia tega merampas uang milikku?


Untungnya masih ada tersisa uang di saku. Lumayan untuk keperluan hari-hari.


Tapi tak cukup untuk memodali warung. Bagaimana cara untuk memutar uang sedikit menjadi banyak?


Kurasakan nyilu bagian perutku. Inikan belum saatnya melahirkan?


Apakah aku terlalu letih ....


Aku genggam sisa uang sedikit itu terlintas ide untuk kujadikan usaha kecil-kecilan menjual makanan ala kadarnya.


Dan hasilnya aku tabung untuk biaya persalinan ku nanti.


Tiga hari kemudian Mas Beni pulang. Pulang dalam keadaan mabuk. Sedikit ingatannya masih tersadar.


Tok!


Tok!


Tok!


"Laras! Buka pintunya,"


Aku lihat jam di dinding pukul 02:00. Mengganggu tidurku saja.


Dengan langkah gontai kubuka pintu.


"Iya sebentar, Mas."


"Lama amat!" bentaknya.


Bau alkohol menguar di udara.


"Tolong kerik aku," katanya.


Aku meraih balsam dan koin di dalam laci lemari bajuku.


Mas Beni berbaring di atas sofa. Aku bingung duduk di sebelah mana. Ya, kan?


Aneh. Kok, jadi keki sendiri.


"Ribet amat sih, kamu." Ia menarik lenganku. Membuatku terduduk di sebelahnya.


Selesai mengerik badannya. Ia duduk dan menepuk sofa menyuruhku duduk di sebelahnya.


Mas Beni dengan lembut membelaiku. Ada angin apa?


Aku menunduk tak berani menatap matanya. Kemudian ia mengangkat daguku. Dan ....


Cup!


Bersatunya bibir dua insan. Eh, tunggu! Apakah Mas Beni sudah melupakan dan memaafkan, ku?


Perlahan tangannya dengan lihai membuka kancing daster di dadaku satu per satu. Nafasnya kian memburu.


Jantungku hampir keluar dari tempatnya. Deg-degan seperti saat malam pertama. Aiish .... Indahnya.


Aku dan Mas Beni saling bercumbu. Ketika suasana kian memanas.


Arghhh!


Bugh!

__ADS_1


Aku terjatuh karena Mas Beni mendorongku.


"Sial!" pekiknya.


Mas Beni meremas rambutnya frustasi.


"Aku tak sudi menjamah mu, Laras." Ia menangis. "Laki-laki mana yang menidurimu hah?"


Aku hanya menunduk dengan deraian air mata.


Aku tahu ia tak bisa menahan hasratnya untuk bercinta. Naluri laki-laki yang terpendam berbulan-bulan mana ia akan tahan.


Aku masih terduduk di lantai dalam keadaan lemas karena sikapnya barusan.


Mas Beni bangkit dari duduknya. Ia menuju kamar mandi.


Dgum!


Bantingan pintu itu membuatku merasa takut. Aku segera berlari ke kamar dan mengunci pintu.


Tubuhku merosot lemas menangis dan menyesal. Tiada guna ini sudah terlambat. Kini tinggallah puing-puingnya.


Pernikahan macam apa ini?


Aku terus saja merutuki diri ini yang hina dan kotor.


****


Sembilan bulan kemudian ....


Aku sudah menghitung tanggal di kalender. Getir rasanya tak memegang uang sepeser pun. Takut jika bayiku lahir aku tak memiliki biaya.


Ada satu cara yaitu aku harus meminjam uang Bank keliling. Persetan dengan cicilannya!


Hari yang ditunggu pun tiba. Aku merasakan mulas yang hebat. Dan mengeluarkan tanda-tanda akan melahirkan.


Dan ....


Oek ... Oek ...


Bayi laki-laki telah lahir ke dunia dengan sehat dan selamat. Ia yang mau kubunuh dulu rupanya malaikat kecil nan tampan.


Aku memberinya nama Samudera.


Sesuai dengan janji Mas Beni ia takkan membiayai kebutuhan lainnya. Tak apa aku bisa!


Selamat datang ke dunia tampan! Mama akan merawat mu.


****


Hari-hari aku lalui tanpa seorang suami. Suami? Ada kok. Hanya saja tak berfungsi perannya.


40 hari berlalu ....


Samudera mirip sekali wajahnya dengan Mas Ferdi. Hal ini terlihat dari hidung, bola mata yang besar , kulit putih dan badan yang montok.


Berbeda dengan Faisal dan Cahya mereka memiliki kulit bewarna cokelat seperti Mas Beni dan aku. Jauh berbeda bukan?


Mas Beni sama sekali tidak mau menyentuh dan menggendongnya. Walaupun Samudera menangis kencang.


Aku sedih? Tidak. Biarlah apa maunya Mas Beni. Aku yakin seiiringnya waktu pasti berubah.


Kehadiran Samudera di tengah-tengahku segelincir orang sibuk menebak siapa bapaknya. Karena sebelumnya mereka sudah mendengar kabar perselingkuhanku dengan Mas Ferdi.

__ADS_1


"Mirip siapa bayinya?"


"Kok, nggak mirip Beni ya?


"Tampan bayinya. Kok, jauh beda dengan ayahnya?"


"Jelaslah beda. Bukan bapaknya,"


Dan banyak lagi celoteh orang-orang di sekitarku.


Berbeda lagi jika di dalam rumah.


"Coba kau diamkan anak itu!"


Mas Beni menutup telinganya dengan bantal.


Aku yang masih mencuci pakaian bergegas menghampiri Samudera di dalam kamar.


"Mas kan, bisa menggendongnya barang sebentar."


Ia berbalik ke arahku dengan mata mendelik. Kemudian bangun dari tidurnya dan berjalan mendekati ku.


"Apa katamu? Menggendong anak haram itu?!"


Cuih!


"Tak Sudi,"


Hatiku berdenyut nyeri mendengar ucapan Mas Beni.


"Tolong jangan benci anak ini, Mas. Dia tak mengerti apa-apa."


Aku menggendong Samudera dengan menimang-nimangnya.


"Apa kau ingat, Laras? Kita harus melakukan tes DNA," ucap Mas Beni.


Tiba-tiba napasku tercekat.


"Tak perlu tes DNA, Mas. Dilihat dari Samudera saja sudah berbeda dengan kakak-kakaknya."


Aku pasrah ....


"Oh, baik. Kau boleh pergi dari rumahku sekarang juga!"


Tubuhku lemas seperti tak bertulang.


Dengan sekuat tenaga aku berusaha menopang tubuh ini agar tak limbung.


"Mas jangan egois! Lihat anak-anak kita masih kecil. Belum puaskah memperlakukan aku seperti ini? Nafkah tak pernah Mas beri untukku. Aku sabar dan sabar."


Suaraku gemetar. "Izinkan aku di sini, Mas. Aku ikhlas meski tak pernah Mas beri nafkah,"


Aarghhh!


Brak!


Mas Beni berjalan ke arahku dan menggebrak meja.


Tok!


Tok!


Tok!

__ADS_1


"Permisi ...,"


Alhamdulillah lega. Siapa tamu yang datang?


__ADS_2