
Beban terlalu berat yang ibu pikul. Tiap hari debcolecktor datang menagih hutang-hutang yang menumpuk. Ibu terpaksa pinjam uang untuk membiayai pengobatan almarhum ayah.
"Hahaha! Mas, kapan pulang?" tanya ibu menatap potret ayah satu-satunya.
"Huhu ... Mas, aku ikut denganmu. Jemput aku, Mas."
****
Suatu hari ....
Perutku terasa lapar ibu tak membuatkan ku makanan.
Ku hampiri ibu di dalam kamar, ia sedang memeluk figuran photo ayah.
"Bu, aku lapar. Ibu tidak masak?" tanyaku hati-hati.
Ibu menatapku dengan mata melotot. Kemudian menangis lagi.
Tubuh kurus, rambut acak-acakan, kulit kusam dan bau. Kondisi ibu sangat memperihatinkan.
"Bu, aku lapar," rengek ku. Aku pegang perut yang mulai terasa perih.
"Makan sendiri!" bentaknya.
Aku mundur satu langkah karena takut.
"Huhuhu ...."
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum ...," Suara Bude Mira dari luar.
Aku segera berlari menghampirinya. Bude menggendong adikku Lisa. Setiap hari Bude mengasuh adikku.
"Kenapa, Nduk?" tanya Bude. Ia menurunkan Lisa dari gendongan.
__ADS_1
"Lapar, Bude," sahutku.
"Kalian belum makan? Bude masakan ya, buat Larasati sama Mas Farhan."
Dipeluknya aku dengan kasihan.
****
"Mas Budi, kapan pulang?" tanya ibu. Ibu sedang duduk di teras. Menanti ayah, seperti dulu. Jika ayah belum pulang kerja.
Bude Mira hanya menghela nafas dengan berat. Ia merasa terpukul melihat adiknya depresi. Bude takut ibuku akan gila.
"Sadar, Halimah! Kamu punya anak-anak yang membutuhkan kasih sayangmu. Bangkit dari keterpurukan, kasihan mereka." Bude membelai rambut ibu.
"Huhuhu ...." Tangisan lah jawabannya.
"Kalau kamu begini terus, nanti Lastri aku bawa pergi!" ucap Bude Mira mengancam.
"Bawa saja! Aku nggak sanggup ngurus mereka seorang diri. Aku maunya Mas Budi pulang!"
Ibu menjambak rambutnya dengan kedua tangannya.
"Mas Budi ...," rintih ibu.
"Mas Budi ...," rintih ibu.
"Jangan Larasati saja yang dibawa, Bu. Kasian terpisah dari kakak dan adiknya. Kita bawa semua, Halimah juga ikut. Biar melupakan almarhum. Bapak takut Halimah semakin parah," ucap Pakde Tiar, suami Bude.
"Iya, Pak. Kita rundingan bagaimana jalan keluarnya." Bude menatap adiknya.
Suami Bude Mira memberi usulan, bahwa mereka akan pindah memboyong serta adik dan anak-anaknya. Berharap dengan cara ini ibuku melupakan kenangan almarhum ayah.
Khawatir ibu menjadi gila. Sebelum kami pindah, Bude dan Pakde membantu melunasi hutang-hutang almarhum ayah dan ibu. Dibantu dengan saudara lain.
****
__ADS_1
Kami pindah ke kota Palangkaraya, memulai hidup baru tanpa ayah.
Beberapa bulan tinggal bersama, ibuku mengalami perubahan. Tidak lagi menangis dan berteriak-teriak.
Ibuku sudah mulai melupakan almarhum ayah. Dan menikah dengan pilihan hatinya.
Ibu tak membawaku ikut bersama keluarga barunya. Aku? Sedih tentunya.
Hingga ....
"Nduk, kamu Bude pesantren, kan, ya. Sekolah di sana, tinggalnya juga di sana. Kalau kangen bisa pulang. Kan, rumah Bude dekat dengan pesantrennya," kata Bude.
Aku semakin sedih, kenapa aku dibuang? Apakah mereka tak menyayangiku?
Aku butuh ibu ....
"Tapi, Bude ...," ucapku menggantung.
"Di sana banyak temannya, Nduk. Kalau kamu kangen atau libur kan, bisa pulang. Cuma naik angkot satu kali, atau Bude dan ibu yang nengok ke sana," bujuk Bude sambil membelai rambutku.
Setelah kupikirkan ucapan Bude, aku mengangguk tanda setuju.
*****
Diusia ku yang keenam tahun, aku mondok di pondok pesantren yang ada di kotaku.
Di tempat ini aku mendapatkan kasih sayang dari teman-teman yang bernasib sama. Ustadzah dan Ustadz mengasihi dan menyayangiku.
Setiap liburan ataupun ada kesempatan aku pulang menengok ibu dan Bude. Biasanya kulakukan ketika pulang sekolah, karena satu arah menuju pesantren.
Tak terasa waktu begitu cepat. Kini, usiaku enam belas tahun. Memasuki kelas satu SMA.
Seluruh hidupku sepenuhnya di pesantren. Ada bosan menyelimuti jiwaku.
Aku ingin bersama keluarga kecilku.
__ADS_1
Lambat laun aku tak betah tinggal di pesantren, banyak aturan-aturan dan larangan yang tak boleh dilanggar.
Apa aku kabur saja, ya?