
Hesti menemaniku. Ia dengan setia mendengarkan curahan hatiku.
"Apa kabar si Beni?" tanya Hesti tiba-tiba.
Aku menatapnya sekilas.
"Dia baik. Sama seperti dulu pemabuk dan penjudi," sahutku datar.
"Lalu, kenapa kamu masih bertahan dengannya?"
Aku atur napas dan berusaha meredam rasa nyeri di dada.
"Demi anak-anak, aku tak ingin berpisah dari mereka. Jangan sampai anak-anak merasakan kekurangan kasih sayang dari kedua orangtua yang kurang lengkap. Cukup aku saja yang mengalami." Air mataku berlinang. Menahan luka yang masih basah.
Aku hapus air mata yang mengalir. "Meskipun cacian yang kuterima. Dan dibilang tak tahu malu. Aku rela bertahan."
"Terus, apa artinya rumah tangga kamu sama Beni?"
"Ada. Meskipun sudah hambar," lirihku. Dan menatap hampa jalanan.
Sebenarnya, hatiku ini sudah tak sanggup menjalani rumah tangga dengan Beni. Di sisi lain aku tak boleh egois demi anak-anak dan tempatku berteduh. Jangan sampai anak-anak menderita seperti yang dialami ibunya.
"Lalu bagaimana dengan Ferdi?" tanya Hesti mengintrogasi.
"Tidak gimana-gimana."
"Kamu masih mencintainya?" tanyanya lagi.
Pertanyaan Hesti bagai pedang menancap dalam tepat di jantungku.
"Entahlah ...," Suaraku bergetar. Menepis rasa rindu masih ada di dalam hatiku.
Mungkin kah masih ada cinta? Tapi, jika diingat dia adalah laki-laki bajingan yang tak bertanggung jawab rasanya muak dan sakit hati.
"Kok, bengong." Hesti menepuk pundak ku.
Hesti berdiri dia bersiap-siap pulang.
"Lupakan, Ferdi. Tak usah diingat lagi. Perbaiki hubunganmu dengan Beni. Meskipun, pendosa. Setidaknya, kamu menjadi ibu yang baik untuk anak-anak."
Hesti pamit pulang. Nasihatnya akan kuingat.
"Oh, ya." Hesti membalik tubuhnya.
"Aku dengar ibumu sedang sakit,"
"Benarkah?"
Hesti mengangguk dan melambaikan tangan. "Bye."
Aku bersedih bagaimana ini? Ibu sakit. Aku biarkan atau ....,
Perlakuan ibu jahat denganku tapi, aku sebagai anak merasa terpukul hatiku.
__ADS_1
*****
Mobil truk berhenti dan sang supir memarkirkan di bawah pohon.
Jantungku berdegup kencang. Momen ini kuingat jika menanti Ferdi. Kali ini sangat berbeda.
"Makan, Mbak." Supir truk itu duduk di bangku panjang.
"Siap, Mas." Aku mulai mengambil piring dan menuangkan nasi.
"Makan sama apa?" tanyaku.
"Nasi rawon dan es teh," sahutnya. Ia melihat menu di lemari etalase.
"Ini silakan." Aku sodorkan piring berisi nasi dan lauk pauk padanya.
Pria gemuk itu mencekal tanganku. "Berapa, Mbak kalau melayani plus-plus?"
Aku tepis cekalannya dengan kasar.
"Jangan sembarangan kalau ngomong, Mas!" bentak ku tak terima.
Dia mengangkat kedua tangannya. "Ooo ... Maaf,"
Aku menjauh dan menenangkan Samudera yang mulai merengek.
Dasar laki-laki! Emangnya, aku perempuan apaan.
"Berapa, Mbak." Ia membuka dompet lusuhnya. Mengambil uang selembar bewarna biru.
"Dua puluh lima," sahutku. Mengambil uang itu dan memberi kembaliannya.
Supir truk itu menatapku dari bawah sampai atas.
"Dulu waktu sama Ferdi. Dibayar berapa? Aku bisa membayarmu mahal." Ia mencolek daguku.
Dengan marah aku lempar ia dengan asbak rokok di dekatku.
Prang!
Hahahaha!
Pria aneh itu tertawa dan berlari sambil menampakkan wajah mesumnya.
Ya Allah, apa aku terlihat serendah itu?
*****
Mas Beni telah pulang.
Aku titipkan anak-anak padanya. Kecuali Samudera ia aku bawa. Aku mau merawat ibu yang sedang sakit.
"Titip anak-anak, Mas. Aku mau ngurus ibu." Aku berpamitan.
__ADS_1
"Nanti berantem lagi. Kebiasaan ibumu kan, gitu," kata Mas Beni. Ia sedang asik main game di benda pipihnya.
"Mudah-mudahan tidak. Dia kan sedang sakit." Aku meninggalkan mas Beni.
Di tempat ibu ....
Ibu terbaring di atas ranjang dengan kondisi lemah tubuhnya mulai terlihat kurus.
"Bu ...," sapaku.
"Laras."
Aku kompres dan memberi ibu obat. Semua pekerjaan ku selesai kan tanpa diminta.
Dua jam kemudian ....
Adikku dan Bude Mira datang. Mereka turun dari mobil milik adikku--Lisa.
Lisa sudah mempunyai suami seorang ASN. Hidupnya enak daripada aku.
Ketika tengah asik menyuapi ibuku ....
"Laras kok, nambah jelek aja kamu ...," ucap Bude Mira.
"Iya, makin hitam dan gemuk." Lisa menimpali sambil memainkan ponselnya. "Cocok jadi pembantu, Mbak."
"Sudah jelek, hitam, susah lagi," sahut ibuku menyambar pembicaraan Lisa.
Aku terdiam dengan hinaan mereka. Menyudahi kegiatan ku.
Prang!
Piring yang ada di tanganku. Aku banting.
"Jadi, jauh-jauh kalian cuma menghinaku?"
Aku berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Dan ibu apakah aku tak terlihat di mata ibu? Siapa yang merawat dan mengurus kalau bukan aku?!"
"Jangan tersinggung lah, Laras. Kami bercanda." Bude Mira menghampiriku.
"Bercanda kalian keterlaluan!"
Aku pun keluar dari kamar ibu.
"Mbak Laras!" panggil Lisa.
Aku berpaling, "Mau apa? Menghina lagi,"
"B---bukan begitu ...."
Aku pun pergi dan kembali pulang. Hatiku sakit bukan ini yang kuinginkan. Benar kata Mas Beni apa yang ia khawatir kan terjadi.
__ADS_1