Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Awal perselingkuhanku


__ADS_3

Bangun pagi rasanya seluruh tubuhku sakit semua.


Tak kudapati pria beringas di kamarku, ke mana dia.


Mas Beni sudah bangun, tumben?


Eh, tunggu! Ku dengar suara perempuan ada di dapur.


"Kamu kok, mau-maunya nikah sama perempuan jelek itu, Ben," ucap Kak Monik--iparku.


Pagi-pagi buta sudah bertamu, cuma menghinaku?


"Sudah jelek, gemuk, nggak pinter masak!"


Kak Monik terus saja menghinaku. Hati ini sakit. Lebih baik kutinggalkan saja untuk pergi mandi.


******


Selesai mandi kupikir Kak Monik sudah pergi, rupanya masih di sini.


Aku menuju dapur dan menghampiri mereka yang berbincang-bincang.


"Kok, baru bangun kamu?" tanyanya sinis.


"Lagi nggak enak badan, Kak," aku memberi alasan.


Aku bersiap membuat sarapan.


"Alasan! Kamu tuh, bukan ratu. Punya suami harus pintar mengurusnya, ngerti kamu!"


"Kakak pulang dulu, Ben. Nggak betah di sini."


Kak Monik berlalu meninggalkan kami di dapur. Selang beberapa saat ....


"Aku mau pergi dulu," pamit Mas Beni.


"Nggak nunggu sarapan, Mas?"


"Kelamaan!" bentaknya.


Astaghfirullah, Ya Allah...


****


Cinta bertepuk sebelah tangan aku yang cinta, dia-nya tidak. Umpatan dan cacian yang kuterima.


Padahal, aku ingin merasakan belaian kasih sayang yang lembut dari suamiku sendiri.


Kata orang ngidam itu enak, diperhatikan suami. Dibelikan ini dan itu. Nyatanya, uangnya untuk berjudi dan mabuk-mabukan.


Pulang larut malam bahkan sampai pagi.

__ADS_1


Dor! Dor! Dor!


"Buka pintunya, cepetan!" Suar nyaring Mas Beni. Memekakkan telinga di tengah malam.


Aku yang pulas langsung berlari segera membuka pintu.


Ceklek!


"Ya Allah, Mas. Kenapa mabuk setiap hari sih?!"


"Bukan urusan kamu! Aku muak lihat kamu. Minggir!"


Bruk!


Mas Beni tersungkur kakinya tersandung.


Hoek ... Hoek ...


Seluruh isi perutnya ia muntahkan di lantai.


Astaghfirullah, Mas Beni. Kapan kamu tobat?


Semakin hari Mas Beni tidak ada perubahan. Nafkah tak pernah ia berikan hingga terdengar ke telinga Kak Farhan. Kak Farhan memberiku modal untuk membuka usaha warung makan kecil-kecilan.


Mas Beni akan bekerja bila uang di tangannya habis. Ia supir pengantar sayuran ke kabupaten lain. Berhari-hari tak pulang ke rumah. Bahkan bisa berbulan-bulan.


Sembilan bulan kemudian ....


Mas Beni mulai memberiku nafkah walaupun sedikit, itupun untuk keperluan Faisal. Lama-lama aku semakin jatuh cinta dengannya.


Genap usia Faisal 2,5 tahun aku melahirkan kembali anak kedua. Bersyukur ia perempuan kuberi nama Cahya.


Akan tetapi, Mas Beni sikapnya berubah kembali. Jarang pulang hingga berminggu-minggu. Aku yang merasa kesepian haus belaian dan kasih sayang dari seorang suami. Membutuhkan sesosok laki-laki di sampingku.


Hingga aku jatuh cinta kepada pelanggan di warung ku. Aku merasa nyaman dengannya.


"Aku mencintaimu, Dik."


"Sama, Mas. Aku juga," sahutku malu-malu.


"Tapi hubungan ini tak akan bertahan lama. Aku memiliki suami, dan Mas memiliki istri. Kita sama-sama sudah berkeluarga,"


"Tak mengapa, Dik. Sungguh Mas mencintaimu jangan pernah tinggalkan Mas, ya."


Mas Ferdi ia selalu menyempatkan singgah di warung makan milikku. Membawa oleh-oleh untuk Cahya. Kadang Cahya digendong dan tidur di pangkuan Ferdi.


Perselingkuhanku dengan Mas Ferdi berjalan jauh. Dan suamiku ia tak tahu bahwa aku berbuat serong.


****


Mas Beni pun pulang sebagai suami yang jarang di rumah, ia meminta haknya terpenuhi. Tapi aku selalu menolaknya dengan alasan sedang datang bulan.

__ADS_1


"Dik, apakah sudah selesai haidnya?" tanya Mas Beni disela sarapannya.


"S--sudah Mas. Tadi subuh."


Tak tega aku membohonginya. Ketika aku dan Mas Beni melakukan hubungan intim selalu terbayang wajah Ferdi kekasihku.


Aku sangat mencintainya, sungguh! Sikapnya berbanding kebalik dengan Mas Beni. Ia penyayang dan lembut. Tiap hari aku merindukan kehadirannya.


Mas Beni berangkat ke luar daerah untuk mengantarkan pesanan milik pelanggan. Kesempatan ku untuk bertemu Mas Ferdi.


Ah, rupanya tampan jika dilihat dari jauh.


"Halo, Sayang ... Lama nunggu ya?" sapa Ferdi. Ia duduk di bangku yang kusediakan.


"Iya, kangen tau!" rajukku.


"Biasa muatan banyak jadi nggak sempat mampir," kata kekasihku.


Aku seduhkan segelas kopi seperti biasanya.


"Mas, aku takut hubungan kita ketahuan sama pasangan kita. Kita akhiri saja ya, Mas,"


"Kamu ngomong apa sih, Dik?"


Sedikit terkejut pria di hadapanku ini.


"Aku takut perasaanku sama Mas semakin dalam. Yang kita lakukan ini salah, Mas!" Aku berusaha mengingatkannya.


"Ayolah, Dik. Kamu berjanji tak akan meninggalkan ku." Ia menggenggam erat tanganku.


Air mataku berlinang membasahi pipiku. Tak pernah kurasakan sesakit ini.


"Kita berteman saja, Mas. Antara penjual dan pembeli itu saja. Kita akhiri sampai di sini. Aku mohon mas mengertilah ...,"


"Dik. Hanya kamu wanita yang menggetarkan hatiku. Tolong jangan putus!"


Mas Ferdi berusaha memelukku. Tapi, aku menolaknya.


"Tolong pergi dari sini, Mas!"


Gegas kututup warung dengan hati yang begitu sakit. Aku mencintainya sangat-sangat!


"Dik, Mas mohon. Kita menjalin hubungan ini sudah lama,"


Dia berdiri seakan-akan enggan beranjak. Ah memang tak mau pergi.


Warung kututup dan pergi meninggalkan kekasihku.


"Dik!" panggilnya masih kudengar.


Sampai rumah aku menangis pilu. Tuhan aku mencintai orang yang salah. Tapi mengapa ia yang mampu menggetarkan relung hatiku?

__ADS_1


__ADS_2