
Aku melihat Samudera telah keluar dari kamarnya ia lelah seharian mengurung diri di kamar.
"Makan dulu, Sayang." Aku membujuknya.
Tanpa menjawab ia pun berlalu jalan menuju dapur.
"Faisal pergi main dulu ya, Ma." Faisal meraih tanganku lalu mencium punggung telapak tanganku.
"Adikmu tak kau ajak. Ajak Samudera bermain bersama," ucapku.
Faisal pun menuju dapur mencari Samudera.
"Adek mau ikut nggak, main bersama Abang?"
"Mau tunggu sebentar ya, Bang."
Anak-anakku pun keluar dan berpamitan ingin bermain.
Aku intip di balik gorden jendela di sana banyak teman Faisal.
"Kok kamu ngajak anak haram itu," celetuk teman Faisal yang gemuk.
Faisal sedikit kebingungan ia menatap Samudera.
Aku yang mendengarkan pembicaraan itu sedikit teriris rasanya hati ini.
"Kalau anak haram itu ikut bermain, aku lebih baik pulang!" kata teman Faisal satu lagi.
Faisal masih berdiam sedangkan Samudera menunduk tak berani menatap teman-temannya Faisal.
"Jangan seperti itu dia adikku biarkan dia bermain bersama kita." Faisal membela Samudera.
Teman-teman Faisal merasa kesal dan berkata, "Kata ibuku anak haram itu pembawa sial, jadi jangan bermain dengannya bisa-bisa kita kena sial juga."
Samudra semakin menunduk ia bergeming.
"Adik main di rumah saja ya. Abang mau bermain bersama teman-teman abang." Faisal meninggalkan samudra ia berlari bersama teman-temannya.
Hatiku perih Samudera diperlakukan kakaknya sendiri.
Aku pun menghampiri Samudera kulihat tangannya telah menghapus jejak air mata di pipinya. Samudra menoleh ke arahku.
"Kenapa Abang meninggalkan Samudera, Ma?" tanyanya.
" ...." Aku tak sanggup menjawabnya.
Samudera berlari ia mengurung kembali ke kamarnya.
Perlahan pipiku basah karena air mata ini mengalir tak ku pinta.
*
*
*
Faisal pulang.
"Faisal ke sini sebentar," panggil ku. Ketika Faisal hendak membuka pintu kamarnya.
Faisal duduk di atas sofa dan bertanya, "Ada apa, Ma?"
Aku memegang kedua tangannya dalam berkata, "Tolong jangan kau musuhi Samudera. Jangan katakan dia anak haram,"
Faisal melihatku dan menatapku dalam.
"Anak haram itu apa, Ma?"
__ADS_1
"Mama tak tahu, Nak. Tolong jangan beda-bedakan Samudera dia juga adikmu. Sayangi dan jaga ia. Apakah kamu tak menyayanginya?"
"Faisal sayang sama Samudera."
"Janji ya, jangan seperti tadi,"
Faisal mengangguk lalu tersenyum.
"Janji Faisal tak akan mengulangi lagi."
"Kalian semua adalah anak mama tidak ada yang Mama beda-bedakan." Aku memeluk erat tubuh Faisal.
*
*
*
Mas Beni memberikan uang seratus ribu. Dan menyuruhku berbelanja. Mas memintaku masak makanan kesukaannya. Aku bingung membagi uang yang diberinya uang berwarna merah itu aku pegang erat. Bagaimana caranya membagi rata?
"Kok bengong? bukannya pergi ke pasar," Kata mas Beni mengagetkanku.
"I---iya, sebentar," jawab ku tergagap.
"Kok masih berdiri di situ?" tanya pria dingin itu. Seraya memainkan ponsel di tangannya.
"Kurang?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
"Nih ambil!" Mas Beni menyerahkan kembali uang berwarna merah itu. Dengan senang hati aku pun mengambil uangnya.
"Terima kasih, Mas."
Alhamdulillah mas Beni memberiku uang belanja lebih.
Mataku melirik ke seseorang yang tengah asyik minum kopi di warung kecil. Dan aku merasa pernah melihat mobil truk yang terparkir di depan warung kecil itu.
Mas Ferdi? Benarkah itu Mas Ferdi?tidak, tidak. Aku tidak ingin melihatnya lagi.
Ketika kaki ku hendak melangkah ke tempat lain netra kami tak sengaja saling bertatapan ya, mata itu mata yang ku kagumi namun ku benci.
"Laras," Ia menyebut namaku. Diletakkannya kopi di atas meja yang ia seruput tadi.
Kenapa tiba-tiba kakiku susah bergerak seharusnya aku meninggalkan dia.
Apa dunia sekecil ini sehingga bertemu lagi dengan bajingan itu?
"Tunggu Laras. Aku ingin berbicara!"
Mas Ferdi menghampiriku yang termangu kakiku sulit untuk beranjak padahal aku sangat muak dan membencinya sungguh sangat muak!
"Mau berbicara apa lagi, bukankah kita sudah tidak ada hubungan!" ucapku ketus dan menatap nyalang bagai singa hampir menerkam buruannya.
"Jangan begitu Laras Aku merindukanmu." Ferdi memegang tanganku.
Buliran air mata hampir saja terjatuh tapi sungguh pertemuan ini adalah menyakitkan bagiku.
"Rindu kamu bilang?" tanyaku sinis.
Ferdi mengangguk dan tersenyum kumis tipisnya dulu yang aku rindukan masih menghias di atas bibirnya.
"Rindu sebagai apa? Sebagai pelampiasan mu atau sebagai seseorang yang sangat berarti untukmu,"
Mas Ferdi terdiam.
Kami berdiri di tengah-tengah keramaian orang berlalu-lalang untuk berbelanja berpasang-pasang mata memperhatikan kami malu? tidak. Biarkan saja orang tahu bahwa kami sedang bertikai.
__ADS_1
"Sungguh aku merindukanmu, Dek tolong aku ingin berbicara serius kepadamu. Masalah aku tak bisa menghubungimu atau kau anggap aku meninggalkanmu itu salah,"
"Salah? Apa aku tak salah dengar Mas. Kau meninggalkanku bersama bayi yang kau tanam di benih ku. Mas bilang bertanggungjawab nyatanya kau memintaku untuk menggugurkannya perlu Mas tahu bayi itu kini telah tumbuh menjadi anak yang cerdas, penyayang, ceria tentunya penyemangat untukku," geram ku.
"Anak kita? Di mana dia sekarang Aku ingin menemuinya, Laras." Raut Mas Ferdi memancarkan kebahagiaan apakah aku egois sebagai ibu memisahkan dirinya dengan anaknya.
Cengkraman Mas Ferdi kutepis dengan kasar lalu beranjak pergi meninggalkannya yang masih terpaku.
Lima langkah kemudian aku berpaling ke arahnya.
"Jangan harap kau akan menemui anakmu Mas. Ingat kita sudah tak ada apa-apa lagi," lirihku.
Lalu aku naik ojek dan meninggalkan pria yang dulu menghancurkan hidupku.
*
*
*
Air mataku mengalir deras sungguh perih tak terkira hati ini tertusuk jarum beribu jarum. Tuhan mengapa kau pertemukan aku dengan laki-laki itu bukankah aku berdoa agar dia cepat mati?
Ketika di jalan yang sepi tiba-tiba mobil truk menghadang perjalanan kami.
Mobil Mas Ferdi untuk apa ia mengikuti ku?
Tin!
Mobil truk itu berhenti tepat di depan kendaraan yang aku tumpangi.
Mendadak ojek pun rem kendaraannya.
Ojek yang ku tumpangi berhenti. Aku pun turun tentunya aku mengenal pria yang keluar dari mobil truk itu.
Cepat-cepat ku serahkan dua uang 10.000-an untuk tukang ojek. Ini tinggallah kami berdua.
"Ada apa lagi sih, Mas sudah kubilang kita tidak ada apa-apa lagi!" bentak ku.
Laki-laki kumal itu bersimpuh di bawah kakiku dan berkata, "Laras maafkan, Aku. Aku menyesal sungguh aku menyesal tolong maafkan aku. Kita perbaiki hubungan ini bila perlu,"
Aku menyentuh bahunya agar dia berdiri.
"Tidak bisa Mas kamu telah merusak masa depanku merusak kebahagiaanku rasa sakit yang kamu toreh di dalam dadaku tak bisa terobati walaupun aku memaafkan mu."
Akhirnya aku dan Ferdi mencari tempat duduk untuk membicarakan dan mengobrol satu sama lain.
"Hukum saja aku Laras aku berhak kamu hukum. Tapi tolong jangan biarkan dan tinggalkan aku. Biarkan aku menemui anak kita anakmu dan anakku."
Aku menerawang ke beberapa tahun yang lalu ketika Mas Ferdi belum meninggalkanku janji-janji manis yang ia ucap bagai madu di dalam cawan setelah aku teguk nyatanya rasanya pahit ketika mengetahui bahwa Ferdi telah pergi meninggalkanku remuk jantungku tak terpatri.
"Anakku laki-laki atau perempuan?" tanyanya. Membuyarkan lamunanku.
Aku menatapnya sekilas lalu tersenyum dan berkata, "Anakmu laki-laki,Mas."
"Siapa namanya Laras? Bolehkah aku menemuinya?"
Aku menggeleng kemudian mendongak ke atas agar air mataku tak lagi terjatuh membasahi pipi cukup sudah membuang air mata untuk lelaki di sampingku ini.
"Namanya Samudera suatu saat akan ku pertemukan Mas dengannya."
"Kenapa tidak sekarang?"
"Aku belum siap mengatakan bahwa kau adalah ayahnya, Mas,"
"Apa?! Jadi Samudera adalah anaknya, Ferdi!" Seseorang terkejut mendengarkan pembicaraan kami.
Aku dan Mas Ferdi berdiri dan terkejut rupanya seseorang yang mendengarkan pembicaraan kami adalah ....
__ADS_1