Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Dihajar Istri Orang


__ADS_3

Tubuh gemetar kakiku rasanya lemas ingin segera pergi dari sini.


"Siapa, Bu?"


"Iya. Siapa?"


"Masa ada perempuan perebut suami orang sambil nge-warung?"


Ibuku langkahnya kian dekat.


"Aku pulang dulu ya, ibu-ibu." Aku mulai melangkah.


"Tunggu! Tetap di situ," ujar ibuku. Menatapku tajam.


Wanita cantik itu tak sabar. "Siapa wanita yang menggoda suamiku?!"


"Dia ada di depanmu sekarang." Ibu melirikku.


Ibu-ibu saling pandang.


"Siapa?"


"Laras!" Dengan lantang ibu menyebut namaku.


Aku tak bisa berbuat apa-apa. Sementara Samudera di dalam gendongan ku takut ia dicelakai. Bagaimana ini? Aku takut diamuk.


"Ibu jangan nuduh sembarangan!" Aku membela diri.


"Kamu kan perempuan simpanan Ferdi," kata ibu memanasi suasana.


Wanita cantik itu melangkah dan mendekati ku.


"Apa? Ini perempuan simpanan Ferdi? Apa aku tak salah lihat? Wanita jelek ini?!" ucapnya menghinaku.


Aku malu wajahku mulai memanas rasanya. Dalam dada tak henti-hentinya jantungku diremas-remas.


Aku tak tahan oleh hinaannya.


"Biar jelek begini. Ferdi nyaman berada di sisiku." Senyum culas tersungging di bibirku.


"Kurang ajar! Kau wanita mu****n. Ke sini kau!"


Wanita itu menjambak rambutku. Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga. Dan berusaha melindungi Samudera.


Bugh!


Satu tinjuan mendarat di hidungku dan mengeluarkan darah. Sialan! Harusnya aku bisa melawannya lebih ganas lagi. Demi Samudera aku rela babak belur agar ia aman.


"Eee! Cukup!"


"Sudah, sudah."


"Jangan berantam, malu dilihat orang banyak!"


Ibu-ibu berusaha melerai ku dan wanita itu.


"Aku nggak, malu. Biar wanita mu****n ini yang malu. Sudah menggoda suami orang!" ucapnya emosi.


Ibuku hanya diam menyaksikan anaknya dihajar orang. Ah, ibu. Hatimu terbuat dari apa.


Wanita itu tak terima ditahan ia terus saja menyerang ku.

__ADS_1


"Heh perempuan gatal! Ke sini kau!"


Aku mundur dan mundur karena di depanku dua ibu-ibu menjaga.


"Ke sini kau!" teriaknya lagi.


"Laras kamu pulang saja sana. Cepetan!" perintah Meli.


Tanpa menunggu lama aku berlari meninggalkan keramaian.


"Jangan pergi kau gatal! Aku belum puas menghajar mu!"


Arghhh!


Wanita itu masih dipegangi ibu-ibu. Samar-samar Meli mengoceh.


"Pergi dari sini, Mbak. Bikin onar saja!"


"Bikin keributan saja,"


Wanita itu masih kesal kemudian pergi mengendarai mobilnya.


"Ibu ini gimana sih, anak sendiri dibiarkan dihajar orang,"


"Lah, biarkan saja. Biar tahu rasa!"


"Ibu macam apa,"


"Ya, terserah saya dong!" Ibu pergi melenggangkan kaki.


Suasana mulai kondusif.


Di rumah aku cepat-cepat menghentikan darah yang ke luar dari hidungku. Sambil menangis aku tak menyangka istri Ferdi akan melabrak ku di depan ibu-ibu. Malu sungguh malu. Mau ditaruh di mana muka ini.


Mas Beni pulang ia membawaku sayur mayur. Tumben?


"Dimasak nih," katanya. Sambil menyodorkan satu kantong plastik hitam padaku.


"Iya." Aku ambil dari tangannya.


"Muka kamu kenapa?"


"I--ini kejedot, Mas." Aku memegangi hidungku dan sedikit kututup pakai telapak tangan.


"Benar?"


Aku mengangguk. Mas Beni membuka dompetnya. Lalu menarik selembar uang bewarna merah.


"Nih, ambil buat beli lauk." Mas Beni memberiku uang itu.


Alhamdulillah ....


"Terima kasih, Mas."


Aku pun pergi ke dapur segera masak permintaan Mas Beni.


"Samudera, mana?"


"Ada di dalam, Mas!" suaraku sedikit kutinggikan karena aku sedang memblender bumbu.


Mas Beni menggendong Samudera.

__ADS_1


Aku tersenyum dan terharu.


"Faisal, Cahya. Ikut bapak yuk, jalan-jalan!" seru Mas Beni.


Anak-anak berhamburan ke luar kamar.


"Asik!"


"Kamu masak saja. Aku bawa anak-anak pergi dulu," ucapnya.


"Iya, Mas hati-hati."


Mas Beni dan anak-anak sudah siap. Tapi ....


"Mana Laras?" tanya seseorang.


Aku mengintip dari dapur. Kak Monik ada apa dia ke sini?


"Ada di dapur, Mbak." tunjuk Mas Beni.


"Dia nggak ngasih tahu ke kamu," kata Kak Monik.


"Soal apa?"


"Kemarin dihajar istri orang." Kak Monik sengaja memperkeruh keadaan.


Astaga! Tahu dari mana Kak Monik?


Mati aku! Jangan sampai Mas Beni tahu kalau istri sahabatnya yang melabrak aku. Bisa-bisa runyam urusannya.


Aku pura-pura tak dengar.


"Istrinya siapa, Mbak?" tanya Beni.


"Siapa ya. Mbak lupa siapa. Yang jelas dia marah-marah sama Laras. Karena Laras sudah menggoda suami orang."


"Astaghfirullah ...,"


"Seandainya, Mbak ada di sana sudah mbak kasih tahu kalau suaminya punya anak dengan Laras."


Mas Beni terdiam.


"Pak, ayok berangkat!" seru Faisal iya dan Cahya sudah di dalam mobil.


"Iya,"


Mas Beni berjalan ke arah mobil yang terparkir di depan.


"Aku pergi dulu, Mbak."


"Mau ke mana?"


"Ajak anak-anak,"


"Anak haram itu juga ikut?"


Mas Beni menatap Samudera sekilas. "Dia bukan anak haram. Jangan sebut dia anak haram. Kasihan dia tak tahu apa-apa."


"Alah, kamu aja yang bodoh!" Kak Monik melengos pergi sambil menghentakkan kakinya.


Alhamdulillah nenek lampir itu pergi. Dan Mas Beni tak tahu siapa yang nge-labrak.

__ADS_1


__ADS_2