
Keesokan harinya aku sudah siap dengan barang bawaan ku.
"Sudah kau kemasi barang-barang mu?" tanya mas Beni. Ia berdiri diambang pintu kamarku.
"Sudah." Aku menunduk.
Cahya dan Faisal memegangi tanganku.
"Jangan pergi, Ma!" Mereka merengek.
Mas Beni membalikan tubuhnya dan berucap, "Sudah jangan lama-lama."
Aku menyeret tasku dan sebagian ku jinjing.
Samudra memegangi ujung bajuku Ia pun tak rela berpisah dengan kakak-kakaknya.
Air mata mengalir di kedua pipi anak-anak. Aku pun demikian begitu perih berpisah dengan buah hati tega kamu Mas memisahkan aku dengan anak-anak.
"Nih, ambil." Mas Beni memberiku dua lembar uang warna merah.
Aku mengambilnya dengan berlinang air mata dan berucap, "Mas kumohon tarik kata-katamu,"
Mas Beni bergeming ia tak menyahut.
"Secepatnya akan ku urus surat perceraian kita,"
Semakin sesak dadaku mendengar kata cerai.
Dengan langkah gontai Aku seret kedua kakiku dengan paksa begitu pilu mendengarkan anak-anak menangis dan menyebut namaku.
"Mama!" Faisal memanggil ia tertahan karena dipegang Mas Beni.
"Mama!"
"Abang Faisal!" Samudra memanggilnya.
"Dek Sam!" teriak Cahya ia pun berlari mengejar Samudra dan aku. Tapi dengan cepat Mas Beni menutup pintu.
Brak!
Cahya, Faisal. Maafkan, Mama.
Cepat-cepat kutarik tangan Samudera dan bergegas keluar mencari angkot.
Sementara di dalam angkot Samudera tak berhenti menangis. Kupeluk ia untuk menenangkannya. Aku tahu jiwanya terganggu.
Aku mengambil ponselku mencari di dalam tas. Setelah ku cek ada pesan masuk.
[Aku tunggu kamu di taman tempat biasa kita bertemu.]
Urung aku membalas pesannya ada keinginan lain setelah aku timbang dan ku pikirkan matang-matang.
Aku tak ingin menemui Ferdi Aku harus pergi jauh-jauh agar tak bertemu dengannya lagi. Ingin kubuka lembar baru menjalani hari-hari tanpa Ferdi si masa laluku. Biarlah, aku sendiri bersama Samudera menghadapi kehidupan yang lain.
Jauh perjalanan memakan waktu 1 jam aku menemukan tempat baru padahal Ferdi sudah mencarikan untukku.
Bismillah dengan membuka lembaran baru aku harus melupakan Ferdi juga Beni.
Ponselku berdiri tak ada hentinya.
Berderet pesan masuk ke benda pipih ini.
[Kamu di mana, Dek?]
[Angkat teleponku.]
[Dek]
[Angkat teleponnya, Dek. Aku mau bicara.]
Aku menonaktifkan ponselku mengambil chip itu lalu mematah nya menjadi dua bagian.
*
*
__ADS_1
*
Sebulan sudah terlewati aku sudah terbiasa tanpa kedua anak-anak. Ya, meskipun rindu menyeruak. Kami tinggal di sebuah bangunan rumah yang kosong sang pemilik rumah menitipkannya padaku asalkan rumah ini dirawat dengan baik.
Kuisi hari-hariku dengan berjualan kue keliling sambil mengantar Samudera sekolah dan bekerja serabutan ke rumah-rumah warga.
Hari ini aku mendapatkan uang banyak hasil penjualan kue dan gaji dari mencuci baju. Aku mengajak samudra berjalan-jalan dan berkeliling ke taman taman untuk menghibur diri tentunya Samudera senang.
"Larasati!" Seseorang memanggil namaku.
Aku pun menoleh astaga! Itu adalah Ferdi.
Kupercepat langkah kakiku dan menarik tangan Samudera.
"Larasati tunggu!"
Ferdi berlari mengejarku hingga ia menarik tangan Samudera.
"Lepaskan, Mas. Jangan sentuh dia!" hardik ku. Dengan cepat kutarik Samudra kepelukanku.
"Larasati Aku ingin berbicara tolong dengarkan aku,"
"Baiklah, 5 menit saja."
Aku pun luluh dan membiarkan dia berbicara kami pun memilih tempat duduk di taman.
"Laras ayo kita menikah membina keluarga dan rumah tangga."
"Apakah Mas sudah gila? Istri mas mau diapakan? Aku tak mau menyakiti hati sesama wanita," kataku.
"Akan ku ceraikan dia jika kau mau."
Aku terkejut mendengar idenya.
"Tidak. Aku tidak mau menikah denganmu, Mas. Jangan ganggu aku biarkan aku dan Samudera hidup tanpamu,"
"Jika tidak kuceraikan maukah, kau menjadi istri simpananku, Laras?"
Aku berdiri dan membentaknya, "Manusia serakah!"
"Maumu apa, Dek?"
Aku berpaling ke arahnya, "Mauku jangan mengganggu aku lagi dan Samudera."
"Tapi ..., Dia juga anakku."
Aku mendekatnya beberapa langkah, " Anakmu? Kemarin-kemarin kemana aja menyuruhku menggugurkannya dan meninggalkan, aku begitu saja. Mencarimu seperti orang gila bahkan hampir saja Aku bunuh diri karena ulah mu!"
Mas Ferdi bersimpuh di bawah kakiku.
"Maafkan, aku Laras. Tolong maafkan aku."
"Baik. Dengan syarat,"
"Apa itu syaratnya aku akan turuti." Ferdi berdiri dan sejajar denganku.
"Jauhi aku dan Samudera," ucapku penuh penekanan.
"Tapi ..., Ayolah, Laras Aku mohon jangan seperti itu."
"Yuk, Samudera kita pergi dari sini!"
Ferdi termangu bibirnya tak bisa berkata apa-apa tangan kanan mengepal.
"Baik aku penuhi syarat darimu tapi kau terima juga syarat dariku."
Aku berhenti beberapa langkah dan menoleh ke arahnya.
"Apa syaratnya?"
"Izinkan aku memeluk Samudera satu kali ini saja." Ferdi mohon.
Tanganku perlahan mengendur dan mendorong Samudera ke arah Ferdi.
"Peluk ayahmu, Nak."
__ADS_1
Perlahan Samudra mendekati Mas Ferdi kemudian memeluknya dengan hangat wajahnya membenam di dada Ferdi.
Ferdi menangis sesunggukan berkali-kali mencium ubun-ubun Samudra dan berucap lirih, "Maafkan ayah, Nak."
Kemudian Samudera ditarik secara perlahan membiarkan Ferdi menangis di taman. Jauh semakin jauh tubuh itu nampak bergetar karena sedang menangis.
Apakah aku tega? Tentu tidak. Biar Mas Ferdi tahu rasanya terpisah dari orang yang disayangi mungkin dia tidak ingat ketika dia menyuruhku menggugurkan Samudra ketika didalam kandungan dulu.
Air mataku sudah kering lelah rasanya menangis menahan kecewa dan rasa sakit hati yang tak terpatri biar Tuhan yang membalas karma.
*
*
*
"Ma. Om yang di taman itu kemarin siapa apakah dia ayahku?"
Samudra mendekatiku yang sedang mengupas bawang di dapur aku tersenyum lalu menjawabnya, "Dia ayah kandungmu."
Bibir Samudra mengerucut ber-oh ria.
"Aku merindukan Bang Faisal dan Kak Cahya."
Tiba-tiba dalam dadaku terasa nyeri seperti ribuan jarum menusuk-nusuk jantungku.
"Iya. Nanti Mama antar ke sana, ya. Kita mengunjungi Kak Cahya dan Bang Faisal."
"Asik!"
Sesuai dengan janjiku aku mengantar Samudera ke rumah mas Beni.
Rumah tampak sepi halaman kotor tak terurus. Aku merindukan suasana di sini suara riuh anak-anak yang aku rindukan.
" Assalamualaikum!"
Tok tok tok!
Pintu Aku ketuk.
"Waalaikumsalam," sahut Cahya dan Faisal berbarengan.
Begitu pintu dibuka ....
"Mama!"
Faisal dan Cahya memelukku dan memeluk Samudera secara bergantian.
"Mama aku kangen,"
"Iya, Sayang Mama juga kangen." Aku cium anak-anakku satu persatu.
Air mata berlinang terharu padahal baru 1 bulan tak berjumpa rasa sewindu tak bertemu.
"Siapa itu Faisal?" Suara bariton itu memecahkan keheningan.
"Mama.Yah."
Mas Beni keluar wajahnya kusut dan bau minuman.
"Oh, kamu rupanya sudah bahagia, ya di luar sana?" sindir mas Beni.
"Aku ke mari merindukan anak-anaku Mas. Tak bisakah kau melupakan permasalahan kita?"
"Melupakan? Tak semudah itu Laras. Penghianatan yang kamu lakukan untukku itu sungguh sangat menyakitkan."
Aku terdiam seribu bahasa ya memang aku yang salah pantas jika mas Beni menyalahkanku dan menyudutkan terus.
"Ada baiknya juga kamu ke sini aku tak susah-susah mencarimu." Mas Beni melangkah ke dalam ia mencari sesuatu entah itu apa.
"Nih, ambil tolong tanda tangani di surat ini." Ia menyerahkan lembaran putih itu kepadaku.
Dengan tegar dan kuat coretan tanda tanganku di atas kertas bermaterai terlukis di sana sebagai tanda aku menyetujui perpisahan ini.
Akun resmi bercerai dan bukan lagi menjadi istri mas Beni.
__ADS_1