
Cepat-cepat tanganku menghapus sisa air mata.
"Sebentar!" teriakku dari dalam.
Aku berjalan ke pintu depan dan mengintip di balik gorden jendela.
Hah?
Debcolecktor?
Astaga! Aku lupa ini tagihan cicilan hutangku.
Aku kembali ke kamar dan mengambil uang di bawah kasurku.
Mas Beni bertanya, "Siapa?"
Padahal tadi berantem. Secepat itu dia lupa?
"Penagih."
"Hutang apa kok, sampai ditagih?" Mas Beni senyum mengejek.
Aku berbalik dan berkata, "Hutang uang untuk bertahan hidup. Karena pria yang di depanku ini tak pernah memberi nafkah untuk anak istri,"
Senyumku tersungging.
Aku melangkah cepat sebelum Mas Beni mencengkeram ku lagi.
"Kau ---," geramnya.
Aku lolos.
Sementara di luar ....
"Kok, cuma segini, Bu?" tanya salah satu debcolecktor.
"Maaf, saya lupa kalau hari ini tagihan. Dua hari lagi saya bayar kekurangannya ...," ucapku memelas.
"Baik. Saya maklumi tapi besok-besok nggak, bisa."
Aku mengangguk lega, "Iya, Mas."
Dua orang debcolecktor itu pergi dan hilang di hadapanku.
Dan aku pun masuk kembali menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda.
Aku lihat Mas Beni berdandan dan meraih kunci mobil pick up miliknya.
"Nggak usah banyak gaya, Laras! Pakai minjam uang segala. Emangnya, kamu bisa bayar?!" sindir Mas Beni.
Aku emosi mendengar ucapan bodoh itu.
"Seandainya, suamiku tak pelit dan kikir untuk anak-anaknya. Aku tak kan berani meminjam uang."
"Alasan!" sergahnya.
Rasanya ingin kutinju wajahnya.
"Aku mau pergi untuk beberapa hari." Ia menyisir rambutnya yang hitam dan pendek.
Aku bergeming. Dan meletakkan Samudera di tempat tidur.
"Kau tuli?" tanyanya.
"Lalu, aku harus apa, Mas." Aku menatapnya sekilas.
Mas Beni pun tak menyahut. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Aaarrrhg!
Manusia pelit itu pergi.
*****
Hoaam ...
Lelah rasanya tubuhku. Aku berbaring di sebelah Samudera.
Sambil berselancar di dunia maya.
Ting!
Notifikasi ponselku berdering ada pesan masuk dari akun berlogo biru.
[Dik. Apa kabarnya?]
Aku klik profilnya yang abu-abu. Nihil!
__ADS_1
Sang pemilik akun tak banyak memposting kehidupannya.
[Siapa?] Send.
Aku menunggu balasan darinya.
Sedang mengetik ....
[Ingat. Keringat kita pernah menyatu,] balasnya lagi.
Deg!
Apa maksudnya? Lalu. Aku memblokir akunya.
Sepuluh menit kemudian ....
Drrrt ....
Notif SMS masuk.
[Kok. Diblokir? Jangan sombong jadi wanita. Btw, apakah anak kita sudah lahir?]
Astaga! Ferdi. Benarkah itu?
Luka lama terbuka kembali perih menusuk kalbuku. Air mata menganak sungai di ujung mata. Mengalir kemudian jatuh dan membasahi bantal.
Tanganku bergetar tak mampu menuliskan pesan balasan untuknya. Dadaku terasa sakit sungguh sakit!
[Anak kita laki-laki atau perempuan?]
Ia mengirimkan pesan kedua.
Bisa-bisanya dengan enteng menanyakan Samudera. Tak ingat kah dulu ia memaksaku menggugurkannya?
Di sisi lain aku merindukanmu, Mas Ferdi. Bisakah kita bertemu dan melihat darah daging mu? Peluk ia satu kali saja.
Astaga! Sadar Laras!
Aku bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Aku menggelengkan kepala.
Tuhan? Bolehkah aku menghubunginya sekali lagi? Aku merindukannya.
Benda pipih itu ku genggam. Menimbang rasa dan sanksi.
Drrt ....
Aku gengsi membalasnya. Lebih baik diamkan saja.
Satu jam berlalu ....
Jam dinding menunjukkan pukul 23 :00.
Mataku tak kunjung terpejam padahal sudah mengantuk.
Ada yang mengganjal di hatiku. Sebaiknya, aku telpon saja dia biar tak penasaran.
Tuuut ....
"Halo ... Siapa ini?" tanya seseorang di ujung telpon.
Suara perempuan? Oh, tidak!
Klik.
Aku matikan saluran telpon. Jantungku berdegup kencang ada yang nyeri tak dapat digambarkan.
Aduh, gimana ini?
Sebaiknya aku matikan saja ponselku. Biar aman.
****
Dua hari kemudian ....
Aku berharap dengan membuka warung hari ini bisa bertemu Mas Ferdi lagi.
Setengah hari ....
Banyak truk singgah di warung ku.
"Wah, sudah lahiran ya, Mbak?" tanya supir berbaju hijau.
"Sudah."
"Laki-laki apa perempuan?"
"Coba lihat sini!"
__ADS_1
"Ini mah, mirip dengan yang sana---," kelakar seseorang.
Gosip sudah menyebar luas tak heran jika mereka pun tahu.
Orang yang kutunggu tak juga muncul. Apakah kau benar-benar pergi, Mas?
Aku hampir lupa kalau dua hari ini mematikan ponselku. Cepat-cepat kucari ponsel kesayangan ku itu.
Aku klik tombol on untuk menghidupkan ponselku.
Drrt ....
Notifikasi SMS masuk memberondong dari nomor yang berbeda.
[Kau perempuan penggoda suami orang, ya?]
[Dasar perempuan gatal! Aku tahu siapa kamu,]
[Jauhi suamiku.]
Astaghfirullah ....
Mataku memanas. Aku masih saja memikirkan laki-laki bej*t. Bodoh, bodoh, bodoh!
"Ke mana sekarang Ferdi, Mbak? Kok nggak pernah kelihatan lagi," tanya pria berkumis itu.
Aku terkesiap. Lamunanku terhenti.
"Nggak tahu," jawabku sekenanya.
"Hmm, bukankah kalian dekat ya?"
"Sudahlah, Mas. Jangan dibahas!" ketusku.
"Sorry."
Kemudian mereka membubarkan diri
Mobil angkutan umum berhenti di depan warung.
Hesti? Apakah dia mau menagih ku.
Mati aku!
Aku menepuk jidatku.
"Hai, Laras. Apa kabarnya?" sapa Hesti melambaikan tangannya.
"Alhamdulillah, baik. Ayuk, duduk!"
Aku mempersilakan dia masuk.
"Mau minum apa?" tanyaku basa-basi.
"Nggak usah repot-repot. Cuma mau mampir saja." Hesti duduk di kursi plastik yang kusediakan.
"Gimana jualannya lancar nggak, Laras?"
"Yaah. Seperti ini kadang rame kadang sepi."
Hesti manggut-manggut. Sepertinya ia memahami kondisi ku.
"Kamu sudah ada uangnya, belum? Aku lagi perlu nih."
Aduh!
Aku membuka laci meja dalam warung. Menghitung jumlah lembaran uang yang ku simpan. Lima lembar uang ratusan ribu.
Aku menyerahkannya. Sedikit gugup takut Hesti kecewa. "Adanya cuma segini ...,"
Aku ulurkan uang di tanganku.
"Permisi, Mbak." sapa debcolecktor.
Gagal aku berikan pada Hesti. Kenapa mereka datang sekarang sih? Setelah selesai urusannya mereka pergi
"Yah," dengusku. Aku memberinya tiga lembar uang bewarna bmerah itu.
"Kamu kok, jadi ngutang sama debcolecktor?" tanya Hesti bingung. Ia pun meraih uang di tanganku.
"Maaf. Uang dari kamu tempo hari dirampas ibuku." Aku menunduk. "Maaf ya, cuma segitu,"
"Tak apa-apa." Raut wajahnya berubah lesu. "Jahat sekali ibumu."
Huuft ....
Entahlah aku juga pusing memikirkannya.
__ADS_1