Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Flashback off (Rujuk)


__ADS_3

Enam bulan usia kandunganku sudah terlihat membuncit. Aku tak bisa menutupinya. Lambat laun orang akan mengetahui kehamilanku.


Dengan mantap hati dan langkah ini aku menemui Mas Beni. Apapun yang terjadi aku tak perduli. Tujuan ku adalah agar bisa bertemu anak sulungku dan tempat tinggal.


Siapa lagi yang akan menerimaku selain Mas Beni? Ya, meskipun dia sesosok laki-laki yang kasar.


Dan sekarang aku berada di depan bangunan rumah yang aku rindukan di dalamnya.


Degup jantungku begitu kencang. Hembusan nafasku terasa dingin. Tuhan beri aku jalan yang terbaik.


Cahya dalam gendonganku dia satu-satunya yang kupunya jika memang sesuatu terjadi tak sesuai harapanku.


Aku tatap sepersekian detik tiba-tiba Mas Beni muncul dari pintu.


"Mau ngapain, ke sini? Hah! Masih punya nyali kamu!" bentak Mas Beni --suamiku.


Suaranya mengundang tetangga untuk mendengarkan keributan.


Wajar saja suamiku marah besar, karena aku pergi dari rumah selama 6 bulan lamanya menuruti rayuan kekasih gelapku --Ferdi.


Ia mendekatiku dengan napas yang memburu. Seperti gunung berapi yang siap meletus.


"Mas, maafkan aku. Aku hilaf dan menyesal. Tolong terima aku kembali."


Aku bersimpuh di kedua kakinya. Sambil menggendong Cahya dalam dekapanku.


"Kamu dari mana saja, hah! Selingkuh?" tanya Beni. Ia menjambak kerudungku.


"Ampun, Mas! Lepaskan ...," ucapku memohon. Aku pegang kerudung yang hampir terlepas.


"Perempuan nggak, tahu malu!"


Mas Beni mendorong kepalaku dan kemudian ia beranjak pergi meninggalkan kami berdua di teras.


Ku kejar langkahnya ....


"Mas, aku mohon terima aku kembali ke rumah ini."


Matanya nyalang bagai elang mendapatkan mangsa.


Aku tahu Mas Beni marah besar. Pergi tanpa pamit kutinggalkan dia bersama anak sulungku, Faisal. Ibu macam apa aku?


Kini aku datang dengan kondisi berbadan dua. Hasil selingkuhanku.


Aku tarik lengannya dan berucap, "Mas maafkan, aku!"


Ditepisnya dengan kasar hingga aku terjerembab. Cahya menangis.


"Wanita ja**ng!" tunjuknya tepat di mukaku.


"Mas ...." Aku peluk kakinya bersimpuh dan mendongak menatap lekat wajahnya.


"Kenapa kembali lagi ke sini? Sudah benar kau pergi dari rumah ini. Malah berani kau injakan kaki di rumah ini!"


"Aku mohon, Mas. Demi anak-anak," kataku memelas.


Mas Beni berjongkok dan memegang daguku sedikit mencengkeram dengan erat. Sakit!

__ADS_1


"Anak siapa yang kau kandung itu hah?!"


Deg!


"A--anak kita Mas. Percayalah,"


"Kita tes DNA! Jika dia terbukti bukan anakku. Maka, kau pergi dari sini tanpa membawa anak-anak!"


Jduar!


Seperti kilat menyambar di siang hari.


Benarkah ucapannya?


Ya Allah! Mohon pertolonganmu.


"Mamak!" teriak Faisal --sulungku, dan menghampiriku. Ia memelukku erat.


Sontak aku dan Mas Beni menengok ke sumber suara.


Huuft ....


Selamat ....


Mas Beni merasa pilu melihat pemandangan di hadapannya.


Dengan rayuanku akhirnya Mas Beni luluh ia mau menerimaku kembali, karena belas kasihan.


Faisal berusia tiga tahun dan Cahya satu tahun. Membutuhkan kasih sayang kedua Orangtua yang lengkap, bukan?


*****


Berbagai sindiran dan kasak-kusuk dari tetangga.


"Pergi dari rumah, pulang-pulang hamil."


"Bukan anaknya Beni itu."


"Kok, mau ya, rujuk lagi?"


"Buka warung sekaligus bookingan."


Astaghfirullah, sabar. Untungnya hati ini buatan Allah. Coba kalau bukan? Apa aku bisa se-sabar ini.


Malamnya aku pikir ....


Aku lihat Mas Beni tidur di ruang tamu.


"Kok, tidur di luar, Mas?" tanyaku basa-basi.


Ia menoleh dan berkata, "Nggak Sudi tidur denganmu. Setiap inci tubuhmu terbayang laki-laki yang menidurimu,"


Jleb!


Belati itu tertancap di jantungku. Aku tertunduk malu. Perlahan meninggalkannya.


Semua anak-anakku terlelap. Dengan lirih aku menangis agar tak membangunkan mereka.

__ADS_1


Aku dengar langkah kaki mendekat ke kamar.


"Anak siapa yang kau kandung itu! Siapa laki-laki yang menghamili mu?" tanyanya di ambang pintu kamarku.


Ya, Allah bagaimana ini?


"Sampai kutahu siapa dia. Aku bunuh dia!"


Aku terhenyak mendengar ancamannya. Kelu lidahku terasa berat ingin mengatakan bahwa yang menghamili ku adalah Ferdi sahabatnya sendiri.


"Kau menutupinya, Laras!?" ucapnya naik satu oktaf.


Arrrgh!


Mas Beni pergi terdengar langkah kakinya menjauh.


Ia menghidupkan kuda besinya. Pasti berjudi dan mabuk-mabukan!


****


Pukul 02:00 dinihari deru mesin memasuki pekarangan rumah.


Dor!


Dor!


Dor!


"Buka pintunya wanita mura**n!" pekik Mas Beni.


Bersusah payah aku bangkit dari tempat tidurku. Perut buncitku membuatku kewalahan.


Ceklek!


"Lama banget buka pintunya." Ia mendorong kepalaku.


Mulutnya bau alkohol sudah kuduga ia pasti mabuk-mabukan.


Dan kemudian Mas Beni menyenggolku kasar.


Astaga! Bisakah kau tak bersikap semena-mena, Mas! Aku istrimu.


Lalalala .... Lalaala ... Nananana ....


Mas Beni bersenandung tubuhnya sempoyongan.


Bruk!


Ia menghempas bobotnya di atas sofa. Menyandarkan kepalanya kemudian mengangkat kedua kakinya ke atas meja.


Tak sengaja ia menyenggol gelas.


Prank!


Aku terkejut dan takut.


"Eh, kamu! Bersihkan itu. Diam saja kaya batu," jari telunjuknya menunjuk ke arahku.

__ADS_1


"Iya." Tangisku menetes di pipiku.


Perih menjalar di jantungku.


__ADS_2