
Wajah ibu terlihat cemberut dengan mata melotot.
Masih di luar warung aku mengemis demi anak-anak bisa makan. Dia ibuku seperti orang lain.
"Bu ... Laras utang sekaleng beras saja. Kalau memang ibu berat. Dan dua bungkus mie instan," ucapku. Dengan bergetar meredam kecewa juga sakit hatiku.
Dengan terpaksa ibuku membungkus apa yang kupinta.
"Nih!" Dilempar bungkusan plastik bewarna hitam dengan kasar ke arahku.
Untungnya tidak jebol dan sobek.
Air mataku hampir saja merosot. Segera kuambil plastik hitam itu.
"Kau hamil ya, Laras?" tanyanya.
"I---iya."
"Anak siapa? Ferdi atau Beni?" Ia menyunggingkan senyum kecut ke arahku.
Tak mampu aku jawab. Menjawabnya akan merobek hatiku lebih hancur lagi.
"Laras pergi dulu, Bu. Terima kasih, berasnya,"
Aku memilih pergi. Menggenggam erat ujung plastik di tangan kananku.
"Ditanya kok, ngeloyor aja. Punya anak nggak berguna kaya kamu mending mati saja!"
Deg!
Air mataku tak mampu kutahan lagi.
"Bu ...," Kuusap air mataku kasar. "Aku salah apa padamu?" tanyaku lirih pada diriku sendiri. Kupercepat langkah kaki ini. Tak peduli orang menatapku di sisi jalan ataupun berpapasan.
Duh, Gusti. Sesakit ini kah hatiku? Tolong beri kekuatan agar bisa bertahan demi anak-anakku.
****
Memasuki halaman rumah Mas Beni sudah berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang.
Rupanya ia sudah pulang.
"Dari mana saja kamu?!" tanyanya. Mata merah itu melotot.
"Cari utangan beras ---,"
Mas Beni memotong kalimatku.
"Anak-anak kau tinggal begitu saja!"
Aku melewatinya sedikit bergetar tubuhku.
Dua langkah melewatinya.
"Heh!" Ia menjambak rambut yang kubaluti dengan kerudung.
Aw!
"Dari mana saja aku bilang?!
"Cari utangan beras untuk makan hari ini."
Nyeri tak tertahankan. Kemudian Mas Beni melepaskan cengkramannya.
"Ngutang di mana? Di wanita sihir itu,"
"Iya."
"Sudah kubilang jangan ke sana terus!"
__ADS_1
"Lalu, siapa yang mau menolongku disaat tak punya uang, Mas? Jangan lupa, Mas. Mas tak pernah memberiku nafkah?!" jawabku geram.
"Beraninya, kau!" Mas Beni mengejar langkahku.
Dug!
Kakinya terantuk kaki meja dan ia terhuyung jatuh.
"LARAS!" Ia masih saja mengumpat. Padahal bangun saja ia tak sanggup.
Dasar pemabuk yang payah!
Segera ku masak beras dan mie ini agar anak-anak bisa makan.
Uang dari mana jika aku berdiam diri? Bagaimana kalau minjam di Bank saja ya.
Hoek!
Astaga! Membuyarkan lamunanku saja.
Mas Beni memuntahkan isi perutnya di lantai. Setelah bangkit ia menghampiriku.
"Eh, *******!" panggilnya. Seraya membuka bajunya dan membuang asal.
"Kau urus itu," perintahnya menunjuk ke arah di mana ia muntah.
Dgum!
Mas Beni masuk ke kamar mandi.
Fiuuh ....
Ada dirinya terasa neraka bagiku tapi, jika tak ada aku merindukannya. Rindu?
Ferdi, maksudku!
"Di mana kamu sekarang, Mas? Sampai kapanpun akan aku ingat. Mudahan kau tak bahagia. Mati jika perlu," gumamku.
Benarkah, ia anakmu yang kukandung ini? Tanganku membelai perutku. Ada rasa geli menjalar ketika tendangan kecil itu mengagetkanku.
Maaf kan mama ya, Nak. Mama janji akan menyayangimu.
****
Aku menemani kedua anakku yang sedang bermain di teras. Mas Beni keluar ia berpakaian rapi.
"Aku pergi dulu. Jaga anak-anakku sampai kau macam-macam jangan harap bisa tinggal di sini," katanya mengancam.
Aku mengangguk dan tersenyum getir pada lelaki sangar itu.
Jauh di awang-awang aku memimpikan rumah tangga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Orangtua benar-benar menyayangiku. Tapi hanya mimpi dariku yang tak pernah berpihak.
Dari pada bengong nanti masak apa, besok makan apa. Lebih baik aku ke rumah Hesti.
Aku berniat ingin diajarkan cara meminjam uang di Bank. Hitung-hitung persiapan melahirkan dan modal jualan.
Sesampainya di rumah Hesti.
"Kamu yakin, Laras? Mau minjam di Bank keliling,"
"Yakin. Aku mau jualan lagi," sahutku.
"Tak perlu minjam di Bank. Aku pinjamkan sedikit uang untuk modal. Agar kamu bisa jualan lagi seperti dulu, gimana?" usulnya.
"Kamu baik sekali. Aku sudah sering merepotkan mu. Aku pinjam saja di Bank." Aku kekeh dengan keinginanku.
"Nanti bayarnya dari mana? Apa susahnya menerima uangku?" Hesti mulai jengah.
Iya juga, ya. Aku terdiam.
__ADS_1
"Nih. Pakai dulu." Hesti menyerahkan amplop berisi uang ke tanganku.
Aku peluk tubuh gempalnya.
"Terima kasih, Hesti. Mudahan aku bisa mengembalikan uang ini."
"Jangan sungkan untuk minta tolong," ucapnya. Ia membalas pelukan ku.
Aku berpamitan kepada Hesti untuk pulang. Dan membawa anak-anakku.
Aku penasaran dengan isi amplop yang diberikan Hesti. Ada pengkolan ojek aku berhenti di sana.
Aku buka amplop putih itu. Dan ....
Ada 20 lembar uang ratusan ribu. Alhamdulillah, terima kasih, Hesti. Aku sisihkan lima lembar di saku celanaku.
Sisanya ku masukkan kembali ke amplop. Sebelum sampai rumah aku mampir ke rumah ibu untuk membayar hutang beras kemarin.
"Assalamualaikum, Bu."
Aku lihat ibu sedang membereskan barang-barang dalam warungnya.
"Waalaikum salam. Mau apa?" tanya ibu dingin.
"Mau bayar utang nih, Bu." Aku tersenyum. "Sekalian belanja," kataku lagi.
"Masuk sini jangan di luar. Kasian cucu-cucu ibu, kepanasan!" perintahnya.
Ada angin apa ibu menyuruhku masuk?
"Berapa beras kemarin, Bu?"
Aku mengambil uang dalam amplop selembar.
Ibuku melotot tak berkedip.
"18 ribu semuanya. Uang dari mana kamu? Jangan nyolong lho, malu-maluin Ibu,"
"Astaghfirullah, Bu. Ngomong apa sih? Laras minjam tempat Hesti."
Ibu merebut amplop dari tanganku.
"Sini, uangnya!"
"Jangan Bu! Tolong kembalikan uangnya. Itu modal buat jualan lagi,"
"Alah! Ingat, ya. Ini uang buat gantiin kamu numpang di sini berbulan-bulan. Nggak, ingat kamu?"
Aku berusaha merebut amplop itu kembali. Tapi ibu lebih gesit.
"Bu ..., Laras mohon berikan uangnya."
Aku memeluk kakinya.
Ibu memasukkan makanan ringan ke dalam plastik. Dan memberikan kepada Faisal.
"Ini bawa pulang ya," rayunya.
Faisal menerima dan meraih pemberian ibuku.
"Bu ...." Aku terus merengek. "Berikan uangnya."
"Tidak. Dan kamu cepat pergi dari warung ini!" Ibu mengusirku.
Tangisku mengalir deras tak terbendung.
"Sana!"
Aku bangun dan membawa anak-anak pergi.
__ADS_1
Ya Allah, aku nggak ikhlas.