Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Gugurkan?


__ADS_3

Kabar ini disambut bahagia atau sedih? Aku bingung. T--tuhan, apakah ini nyata?


Ku seret kaki ini dengan paksa menjauh segera pulang. Rasanya persendianku lemas. Siapa yang lebih dulu kuberi tahu. Ferdi atau Beni?


****


Hari ini warung tampak sepi. Kutunggu kedatangan Mas Ferdi. Pukul 13:00 harusnya sudah singgah untuk makan siang ataupun sekedar memesan kopi.


Brum ....


Mobil truk bewarna kuning sudah terparkir di seberang jalan. Ya, itu Mas Ferdi!


Seulas senyum tersungging di wajah coklatnya.


"Hai, Dik. Kok, sudah cantik saja!" sapa laki-laki simpananku.


"Iya, nih. Kebetulan saja, Mas." Kuremas ujung dasterku. Aku gugup kasih tahu nggak, ya?


"Makan seperti biasa ya, Dik."


"Siap."


Selesai makan Mas Ferdi menyulut rokok. Ku dekati ia ....


"Mas ... Aku hamil," ucapku bergetar.


Tanpa kuduga reaksi Mas Ferdi, "Kok, bisa? Kenapa sampai hamil!"


"Aku juga nggak tahu, Mas."


Air mataku mengalir membasahi hati yang perih.


"Perempuan tol**!" pekiknya.


Ia berdiri menghisap rokok dengan kasar. Lalu mematikannya.


Aku terkejut dengan kata-katanya. Selama ini ia tak pernah berkata kasar. Kenapa sekarang?


"Seharusnya, Mas senang. Bukan membentakku. Huhuhu!"


"Gugur kan, saja bayinya ...," ucap Mas Ferdi lirih. Lalu melempar uang untukku.


Mataku mendelik tak percaya jadi selama ini dia berbohong ingin bersamaku?

__ADS_1


"Tapi kan ini bayi kita, Mas. Mas janji kita akan ---,"


"Alah! Bukan ini yang aku mau, Laras! Gugurkan bayi itu, kalau besok aku ke sini belum digugurkan. Jangan harap bisa bertemu lagi."


Setelah mengancam Mas Ferdi pergi dan menyalakan truk-nya.


Tubuhku merosot ke bawah tak mampu menahan kepedihan. Ya, Tuhan. Kau hukum aku dengan cara seperti ini.


Astaghfirullah ...!


Mas Beni maafkan aku telah menghianatimu. Ini salahmu juga tak pernah menemaniku.


Arghhh ....


Mama menyayangimu, Nak. Tapi bukan cara seperti ini kehadiranmu dalam rahim mama.


Menyesal sudah terlambat, tapi ....


Buru-buru kututup warung. Aku harus segera ke pasar membeli jamu dan nanas muda.


Sepanjang perjalanan dibenakku hanyalah jabang bayi ini harus gugur! Dia merusak kebahagiaanku dengan Ferdi.


Apakah mahluk kecil di dalam rahimku akan menyerah?


Kutenggak jamu kemasan botol cap "Nona Menir" dan memakan sepotong demi sepotong nanas muda agar kontraksi.


Detik jam dinding berputar tapi, bayi sialan ini tak menunjukkan bahwa ia akan lepas dari rahimku.


Oh, rupanya janin kecil ini menantangku ya, awas kamu!


Kuulang lagi menenggak jamu itu dari botolnya.


Glek!


Glek!


Tandas secepat kilat sudah berpindah di kerongkonganku.


Ah, sial!


Prank!


Botol bekas jamu hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Astaghfirullah ....


Kenapa bisa begini? Aku harus menggugurkannya. Apapun caranya! Aku mondar-mandir di depan cermin. Memegang perutku dan ...


Aborsi?


Ya, itu dia!


****


Pagi menyapa jiwaku yang kotor ini. Aku memiliki ide.


Cepat-cepat kubawa kedua anakku ke tempat ibu. Aku menitipkan mereka di sana.


Aku harus menemui bidan Kamila.


Di tempat prakteknya ....


"Jangan gila, Bu!" ucap Bu Kamila. Ia menolak permintaanku. Seraya memegang alat deteksi tekanan.


"Ayolah, Bu. Saya terpaksa dan tak menginginkan bayi ini," kataku putus asa.


"Maaf, Bu. Saya tidak bisa. Ini melanggar kode etik sebagai tenaga pelayanan kesehatan."


"Berapa pun saya bayar. Asal bayi ini hilang," ucapku memelas.


"Tidak bisa. Maaf, Ibu keluar dari ruangan saya!"


Aku berdiri dengan langkah gontai. Mataku tak berhenti menangis.


Aku tinggalkan rumah praktek Bu Kamila.


Ponselku bergetar di saku celanaku.


"Cepat ke mari. Aku di depan warungmu."


Isi pesan SMS dari Mas Ferdi.


Aku tak ingin menemuinya saat ini. Tuhan, bisakah aku menghilang?


Lebih baik tak menemuinya dulu. Bajingan itu membuatku pusing.


Apakah kau sayang mama, Nak? Jika ia pergilah dari rahim ini. Aku berbicara sendiri dengan rahimku.

__ADS_1


Arghhh!


__ADS_2