
Dua hari pasca pertengkaran itu.
Pukul 08:00
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum, Laras ...," ucap seseorang di luar.
Aku yang tengah asik mencuci baju sontak saja menghentikan kegiatan ku. Melihat siapa yang ada di luar.
"Waalaikum salam ...," sahutku. Seraya mengelap kedua telapak tanganku.
"Mbah Uti!" teriak anak-anak.
Ibu? Tumben ke sini.
Aku lihat ibu duduk di sofa.
"Tumben, Bu. Ke sini?" tanyaku heran.
Ibu menoleh ke arahku, "Ya, main lah."
Ibu akan berkunjung jika Mas Beni tidak ada di rumah. Entahlah, kenapa Mas Beni dan ibu tak pernah baikan. Ini berawal dari ....
Flashback
Ibuku berkumpul dengan ibu-ibu seusianya. Tengah asik menggibah sana-sini. Aku ada di sana ketika perselisihan itu akan terjadi. Oh, ya. Waktu itu Faisal masih usia 8 bulan.
"Laras kok, kaya banyak beban saja hidupmu. Penampilanmu tak glowing kulihat," cebik salah satu dari mereka.
"Sibuk ngurus anak, Bulik. Jadi---,"
Ibu menyambar kalimatku. "Alah, punya suami macam Beni boro-boro glowing. Orangnya, pemabuk gitu!"
"Masih mabuk-mabukan?" tanya ibu-ibu berambut kriting.
"Selain mabuk penjudi juga," sahut ibu membara.
"Apa enaknya punya suami kaya dia!"
"Uang belanja saja tak pernah dikasih," ucap ibu. Keadaan makin memanas.
"Ih, amit-amit!"
Aku yang tak enak mendengar ocehan mereka memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum kaki ini melangkah ....
"Ibu ngomongin saya?!" ucap Mas Beni. Orang yang sedang dibicarakan muncul di belakang.
Ibu-ibu salah tingkah dan terlihat gugup.
"Mau saya pemabuk, kek. Judi kek, urusan saya! Dan ibu? Apa pernah peduli sama Laras?" Mas Beni menunjuk ibuku. "Ibu Orangtuanya tak pernah sedikitpun merengkuh anaknya!" cerocos Mas Beni emosi.
Aku menggandeng tangannya Mas Beni dan menarik agar menjauh. Namun, Mas Beni menahan.
"Seharusnya, kamu sebagai suami berubah! Mau dikasih makan apa anak saya, hah?!" Ibu tersulut emosinya.
"Santai. Laras tak pernah menuntut. Toh, dia bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk makan. Seharusnya, ibu yang bercermin. Anak susah payah mendekati Orangtua, eh orang tuanya macam i---,"
Aku menarik lebih kuat. Dan Mas Beni mengalah.
Masih samar-samar terdengar suara ibu mengoceh.
"Huuu! Dasar pria kupret,"
"Buang saja ke laut!"
Semenjak kejadian itu Mas Beni dan ibu tak lagi saling sapa hingga kini. Ibu dan Mas Beni sama-sama keras kepala.
Flashback off.
__ADS_1
*
*
*
"Kok, bengong!" Ibu menepuk pundak ku.
"Bingung mau masak apa." Aku menerawang ke luar.
Pikiran kusut hari ini tagihan. Tak ada habisnya deritaku.
"Beni kapan pulang?"
"Lusa."
"Beni sudah pernah memberi uang nafkah belum?"
Ibu memangku Samudera.
"Sudah."
"Berapa?"
"Seratus ribu, Bu," kataku.
"Seratus ribu dalam sehari?" tanya Ibu penuh selidik.
"Sebulan." Aku menelan saliva ku dalam-dalam.
"Apa?!" Mata ibuku melotot dan ia berdiri.
"Dasar laki-laki tak berguna!"
Aku berdiri mengantar ibu keluar.
"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting sudah memberiku uang," sahutku.
"Bukan perkara yang penting sudah dikasih uang. Tapi tanggung jawab terhadap anak dan istri. Itu saja dia lalai!"
"Ibu pulang dulu." Ibu pamit. "Faisal, Cahya! Sini. Nih buat jajan." Ibu membuka dompet lusuhnya dan mengambil uang sepuluh ribuan 3 lembar.
"Ini buat Samudera, ya." Ibu mengelus-elus rambutnya.
"Terima kasih, Mbah Putri!"
"Terima kasih, Bu,"
Ibu mengangguk.
"Assalamualaikum ...,"
"Waalaikum salam."
Meskipun ibuku suka membanding-bandingkan aku dengan saudara yang lain, menghina dan tak pernah menganggap ku. Aku tetap berusaha dekat dengannya. Dia lah yang melahirkan ku. Hanya ibu satu-satunya yang kupunya. Adikku? Dia tak sudi memiliki kakak sepertiku. Dan Kakakku? Istrinya enggan melihatku.
Entah kenapa semuanya tak mau denganku. Apa karena aku jelek? Hitam? Gemuk? Aku berbeda gitu?
Berharap setelah menikah kehidupan ku berubah. Ada yang benar-benar menyayangiku layaknya seorang istri. Tapi, nyatanya bagai babu.
Awal perkenalan begitu manis sungguh, aku tak ingin melupakan momen itu bila perlu diulang kembali seribu waktu atau seribu tahun pun aku mau.
*
*
*
"Permisi!" ucap seseorang di luar.
Tok!
Tok!
__ADS_1
Tok!
"Permisi ...,"
"Sebentar ....,"
Kalian tahu? Ketika ditagih rasanya seperti bertemu seseorang yang menakutkan. Setiap Minggu sekali jantungku meloncat-loncat ke luar.
Hilir mudik mencari pinjaman untuk membayar cicilan. Uang yang diberi mas Beni kadang aku simpan. Dan makan seadanya.
"Ini." Aku berikan dua lembar uang merah itu dengan perasaan sayang-sayang.
"Terima kasih, Bu. Kami permisi dulu." Dua pria berjaket kulit itu pergi.
Aku? Seketika bingung mau makan apa. Begitu seterusnya kerumitan yang aku hadapi.
Tapi aku tak pernah menyerah dengan modal niat dan masuk ke hutan-hutan atau semak-semak mencari sayur mayur yang bisa dimasak. Akan aku jual sedapatnya. Syukur.
Samudera aku bawa dan ikut berkeliling menjajakan hasil pencaharian ku. Sayur pakis, sulur, umbi keladi dan lain-lain yang aku hasilkan dari hutan.
Tak jarang juga orang akan berkata dan mencibir.
"Itu kan anak haram,"
"Selingkuh pas suami nggak di rumah."
"Nggak malu ya, balik lagi sama Beni,"
"Wanita macam apa dia?"
"Hus, jangan ngomongin orang!"
Tak sedikit juga ada yang membelaku.
Perih hati ini demi anak-anakku aku rela apapun. Meskipun terlintas rasa malu itu ada.
Tak pernah berhenti tangisku mengalir ada saja yang meluluhlantakkan.
Aku akui Mas Beni sedikit demi sedikit berubah. Ia mulai memberiku nasihat dan mulai memberiku nafkah walaupun sedikit.
Mabuk dan judi mulai sedikit-sedikit ia lupakan.
Hari ini ia pulang aku menyiapkan masakan kesukaannya semur jengkol dan menggoreng kerupuk udang.
Uang hasil penjualan sayur ku.
Deru suara mobil masuk ke halaman rumahku. Kan, dia pulang.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!" Sorak gembira disambut anak-anaknya.
Aku tersenyum di ambang pintu. Aku bawakan barang-barangnya.
"Bersihkan diri dulu, Mas. Setelah itu makan. Aku membuatkan semur jengkol untukmu."
"Oh, ya? Baiklah, aku mandi." Ia mencari handuk dan berlalu ke kamar mandi.
Mas Beni dengan lahap menyantap masakan ku. Aku suka melihatnya.
Aku tuangkan segelas air untuknya melayani sebaik mungkin. Ya, aku tahu walaupun sia-sia.
Malam pukul 23:00 hujan turun dengan derasnya. Dilanjutkan sampai pagi tak juga berhenti. Aku khawatir air sungai akan naik. Rumahku 500 meter dengan sungai. Kadang jika hujan lama mengakibatkan banjir.
Jika sudah banjir aku lelah dan menguras tenaga. Dan yang membuat aku takut jika rumah kebanjiran. Di sana air paling banyak debitnya. Semoga tidak banjir.
Pukul 07:00 pagi.
Hujan tak juga reda hatiku gelisah bagaimana jika banjir?
Pukul 12:00 siang.
Hujan reda namun malam hari hujan mulai turun lagi. Jika hujan begini ingat Mas Ferdi. Kami bercumbu mesra penuh kehangatan. Dan ....
__ADS_1
"Astaghfirullah!" ucapku mengelus dada.
Ya Allah, maafkan, aku. Aku masih merindukannya.