
Seseorang yang mendengarkan pembicaraan ku dan Mas Ferdi adalah mas Beni.
Aku terkejut begitu juga dengan Mas Ferdi.
"Jadi kau adalah ayahnya Samudera?"
Mas Ferdi terkejut. Lalu mendekati Beni.
"Kamu salah dengar, Ben. Aku sedang membicarakan anak dan istriku," ucap Ferdi mengelak.
Mas Beni menatapku. "Kamu ngapain di sini?"
"Aku pulang dari pasar dan melihat Mas Ferdi di sini." Aku berbohong. Seraya melirik Mas Ferdi.
"Kamu sudah lama tak mampir ke rumahku Fer," Kata mas Beni lagi.
"Aku sibuk Ben."
"Ah, biasanya kamu sibuk juga bisa mampir."
Aku pun pamit terlebih dahulu agar mas Beni tak mencurigai ku.
"Aku pulang dulu ya, Mas."
Keduanya mengangguk.
Huuuft!
Hampir saja ketahuan kalau sampai ketahuan Mas Beni akan marah besar. Dia kecewa jika mengetahui telah menikung istri sahabatnya.
Aku berjanji tidak akan memberitahu Mas Beni siapa sebenarnya Ayah Samudera.
*
*
*
"Assalamualaikum ...." Mas Beni mengucap salam.
"Waalaikumsalam," sahutku dari dalam.
Mudahan mas Beni lupa tentang bahasan tadi pagi. Kalau perlu jangan dibahas sekalian.
"Laras aku mau berbicara," ucap mas Beni sambil mendaratkan bokongnya ke atas sofa.
"Iya tunggu sebentar!" Aku pun menghampiri lalu duduk di sampingnya.
"Ada apa, Mas?"
"Kok, bisa kamu ngobrol di tengah jalan berduaan dengan Ferdi,"
"Kan sudah aku bilang cuma lewat dan kebetulan melihat Ferdi di sana."
"Benar? Kamu nggak bohong," Kata mas Beni meyakinkan.
Aku mengangguk dan bilang, "Iya. Aku nggak, bohong."
"Lalu, kenapa nama Samudera dibawa-bawa?"
"Oh, Mas Ferdi nanya anak kita perempuan apa laki-laki," ucapku dusta.
"Kita?" Mas Beni mengernyitkan dahinya dan menatapku tajam.
"I---iya. Kita." Aku sedikit gugup.
"Aku saja masih meragukan Samudera anakku atau bukan, kamu bilang anakku," ucap mas Beni.
Hatiku merasa perih mendengarkan perkataan mas Beni.
Lalu mas Beni berdiri di sebelah jendela ia menatap keluar.
"Firasat ku mengatakan Samudera adalah anakmu dan Ferdi!" Mas Beni melirikku.
__ADS_1
Aku terperanjat wajahku sedikit memanas.
"Jangan asal nuduh Mas! Dari mana Mas tahu Samudera anaknya Ferdi jangan asal bicara." Aku memalingkan wajah seraya memegang keningku.
"Karena Samudera mirip dengan Ferdi. Apa kau buta tak bisa melihat persamaannya?"
Mas Beni semakin sengit nada bicaranya.
"Ya, dia memang anakku!" Suara lantang memecahkan obrolan kami.
Aku dan mas Beni menoleh ke sumber suara rupanya itu adalah ....
Ferdi!
"Kurang ajar!"
Bugh!
Mas Beni menonjok Ferdi membabi buta.
"Hentikan, Mas cukup!" Aku melerai.
Mas Beni sangat emosi terlihat dari dadanya naik turun mengatur nafasnya yang menderu. Kedua matanya memerah tangannya mengepal.
"Tega kamu berselingkuh dengan istriku, Ferdi." Air matanya seakan-akan hendak terjatuh.
Aku tahu mas Beni pasti hatinya hancur mengetahui istrinya telah berselingkuh dengan sahabatnya.
"Aku mencintai Larasati." Mas Ferdi bersuara.
Bugh!
Satu tonjokan mendarat lagi ke pipi Ferdi.
"Cinta kamu bilang?!"
"Aku mencintai Larasati. Puas?!" Ferdi memegangi pipinya
Mas Beni menarik kerah baju Ferdi mencengkram dengan dua tangannya.
"Sudah Mas hentikan. Jangan berantem lagi." Aku berada ditengah-tengah mas Beni dan Ferdi. Memegang kedua tangan Mas Beni agar tak menghajar Ferdi lagi.
"Seleramu rendah, Ferdi! Istri orang kau tikung." Senyum sinis dari wajah mas Beni.
"Larasati hari ini disaksikan oleh kekasihmu kau ku talak!"
Jedar!
Bagai disambar petir di siang bolong tubuhku merosot ke bawah memeluk kaki mas Beni bersimpuh memohon agar ia tak menceraikanku.
"Mas kumohon jangan tinggalkan aku, jangan ceraikan aku demi anak-anak. Aku mohon Mas!"
Mas Beni dengan paksa melepaskan peganganku hingga aku terjengkang.
"Enyah, kau dari hadapanku sekarang!" Mas Beni mengusirku.
Aku berdiri dibantu oleh Ferdi.
Mas Beni melangkah ke dalam kamarku dan kemudian membuang satu tas berisi pakaian ke arahku.
Bruk!
"Mas kumohon jangan usir aku bagaimana dengan anak-anak?"
Aku mengiba dan memohon agar mas Beni mencabut kata-katanya.
Ferdi hanya bisa menyaksikan tanpa berbicara.
"Kau boleh pergi tanpa anak-anak, kecuali anak haram itu,"
Aku semakin histeris menangis rasanya sakit tak terhingga. Bagaimana bisa seorang anak dipisahkan dengan ibunya.
"Mas aku mohon jangan usir aku, mau tinggal di mana nanti tidak ada tempat untukku tuju." Aku memegangi kaki mas Beni.
__ADS_1
"Baik. Ku Beri waktu 2 hari sampai kau benar-benar menemukan tempat dan ingat, anak-anak jangan dibawa kecuali Samudera."
"Dan kau pergi dari tempat ini!" mas Beni menunjuk Ferdi.
Ferdi membalikkan badannya lalu ia berjalan keluar seraya memegangi wajahnya yang bengap.
Mas Beni meraih kunci mobilnya lalu ke luar.
Aku bingung harus ke mana tak mungkin jika ke tempat ibu.
Tuhan cobaan apalagi ini?
*
*
*
Drrtt ....
Notif SMS dari ponselku pesan tanpa nama.
[Kemasi barang-barang mu aku akan mencarikan sebuah tempat untukmu. Bawa juga anak kita Samudera,]
Mas Ferdi Benarkah ia mencintaiku? Jika memang iya. Aku akan pergi dari rumah ini. Tapi benar-benar aku tak sanggup meninggalkan kedua anak-anakku.
"Cahya, Faisal ...," kataku. Keduanya menghampiriku dan memeluk.
"Mama mau ke mana? Kok bajunya dimasukkan tas," ujar Faisal.
Bibirku bergetar rasanya tak sanggup berkata-kata. Aku belai rambut Faisal dan Cahya memeluk mereka dengan erat.
"Mama pergi dulu kalian jangan nakal, ya. Nanti kapan-kapan Mama ajak."
"Kenapa Faisal tidak diajak, Ma?"
"Cahaya juga." Cahya menimpali.
"Kalian kan sudah besar dan masih sekolah. Nanti kalau libur kita bisa bertemu, ya."
Cahya dan faisal mengangguk.
Air mataku tak berhenti nya mengalir Samudera hanya bisa melihat ibunya menangis anak kecil itu tahu apa tentang pelhara orang dewasa.
"Emangnya, kita mau ke mana, Ma?" tanya Samudera.
"Mencari tempat tinggal baru."
"Lalu siapa tadi laki-laki yang ditonjok ayah?"
Aku menatapnya sekilas.
Terasa sulit Ingin kukatakan bahwa ia adalah ayah sesungguhnya.
"Dia ...," Kalimatku menggantung.
Wajah polosnya menatapku.
"Ayahmu."
"Ayahku kok, ada dua?"
Kubelai rambutnya dan mengatakan bahwa, "Nanti kalau Samudera sudah besar Mama akan ceritakan yang sebenarnya."
"Lama dong, Ma." Bibirnya mengerucut.
Aku mengangguk.
"Berarti Samudera punya dua ayah dong, asik!"
Dada ini terasa sesak betapa penuh beban yang menghimpit.
Biarlah begini Aku akan berusaha bertahan demi anakku Samudera. Mas Beni telah menceraikanku lalu Mas Ferdi benarkah dia mencintaiku? Tapi aku tak mau jatuh kedua kalinya ke lubang yang sama itu artinya harus benar-benar menjauh dari masa laluku.
__ADS_1
Aku kemasi barang-barang ku lalu kumasukkan ke tas esok pagi harus sudah pergi meninggalkan rumah ini dan juga anak-anakku tersayang.
Tuhan aku tak rela berpisah dengan anak-anakku. Berikan aku jalan yang terbaik.