Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Hari yang buruk


__ADS_3

Tok!


Tok!


Tok!


"Buka pintunya, Laras!" ucap wanita di luar sana.


Ck!


Siapa sih, pagi-pagi buta mengetuk pintu keras-keras?


Ceklek!


Pintu dibuka Mas Beni.


Aku baru saja mau beranjak dari tempat tidurku.


"Mana perempuan itu!" Kak Monik menyerobot masuk.


"Hei, di sini rupanya," ucapnya lagi.


Aku berdiri di sisi ranjang sembari memegang perutku yang buncit. Kak Monik menghampiri ku lalu ....


"Perempuan murahan! Tega ya, kamu berselingkuh di belakang adikku!"


Ia menjambak rambutku yang terurai panjang dan acak-acakan. Aku belum sempat mengikatkan rambutku.


Aw!


Aku memegang separuh rambutku dengan kedua tangan.


"Ampun, Kak." Aku meringis kesakitan.


Faisal dan Cahya hanya bisa melihat dan tak tahu apa-apa.


Mas Beni berlari menghampiriku dan Kak Monik.


Ia melerai sambil berkata, "Sudah, sudah. Hentikan, Kak! Tak perlu bersikap kasar,"


"Kamu juga bodoh, Ben! Wanita murahan ini kok, masih ditampung di sini?"


Kak Monik melepaskan cengkraman tangannya dari rambutku.


Mas Beni menghela napas dengan berat.


"Biarkan saja, Kak." Ia melenggang menuju ruang makan.


"Aku nggak rela ya, adikku satu-satunya kau sakiti!" Kak Monik menatapku tajam.


Dadanya naik-turun menahan amarah. Napasnya memburu dan kedua matanya memerah.


"Biarkan saja, Kak ...,"


"Dari tadi biar-biar, terus!" sanggah Kak Monik tak terima.

__ADS_1


"Kasihan anak-anak masih membutuhkan seorang ibu. Biarkan dia menyesali perbuatannya,"


Cuih!


Kak Monik melangkah ke luar. Ia terus saja merepet.


"Nggak sudi punya adik ipar seperti dia. Dasar penjaja kema***n!"


Dgum!


Ia membanting pintu ke luar.


Mas Beni duduk di kursi. Ia memegangi kepalanya tampak pusing.


Dan aku masih berdiri dengan berderai air mata karena ucapan Kak Monik.


"Katakan, Laras. Siapa yang menidurimu?" tanya Mas Beni sekali lagi.


Dia adalah sahabatmu, Mas. Ferdi lah yang menghamili ku, ia pergi tak mau bertanggung jawab. Ah, sial! Tentu saja aku tak berani memberi tahukannya.


Mas Beni berdiri masih dengan wajah kecewa. Ia geram garis rahangnya nampak tegas. Kemudian meraih rokoknya di atas meja dan menyalakan satu batang.


Aku duduk di sisi ranjang tak berani beranjak.


"Perlu kau ingat, Laras. Aku tak mau bertanggung jawab untuk bayi yang kau kandung. Sebelum aku tahu siapa ayah dari bayimu itu nanti. Aku tak mau ikut pusing," ucap Mas Beni. Sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


Bukankah selama ini kau tak menafkahi ku, Mas? Aku tak terkejut hal itu. Toh, sudah biasa.


"Kau dengar aku?!" tanyanya seraya membentak.


"I---iya, Mas."


Ia melangkah ke ruang depan terdengar dari suara sendalnya.


****


Perih sekali perutku cacing-cacing dalam perut minta diisi. Tapi, aku makan pakai apa. Mas Beni tak memberiku sepeserpun uang.


"Mama lapar perut Faisal ...," Rengek anak sulungku. Ia memegangi lenganku.


Disusul Cahya di belakangnya.


"Aya, lapar." Kedua maniknya berkaca-kaca.


Oh, iya. Di warung ku pasti masih ada sisa-sisa mie instan. Aku harap masih ada.


"Mas dan adek tunggu di sini, ya. Mama ke warung coba lihat di sana masih ada mie atau tidak."


Mereka mengangguk.


Aku cari kunci warung di atas lemari perkakas. Dengan menjijit kakiku dan ...


Ini dia!


Segera ke luar menuju warung sampai di sana.

__ADS_1


Taraaa!


Ke mana isinya? Harusnya, masih banyak. Semenjak kutinggalkan 6 bulan lalu semuanya telah habis.


Ya Allah makan apa anak-anakku? Mas Beni keterlaluan!


Termangu duduk di atas kursi plastik. Menahan lapar juga air mata.


Apa aku meminjam uang di Bank saja, ya? Dengan begini aku memiliki uang untuk persiapan melahirkan dan juga makan sehari-hari.


Ya Allah beginikah hukuman yang Kau berikan untukku?


Bulir-bulir menetes di pipiku. Astaga! Anak-anak?


Kok, jadi lupa ya. Mereka harus makan. Pasti masih ada yang tersisa.


Alhamdulillah! Akhirnya bisa makan juga.


Aku menemukan satu kemasan ikan kalengan bewarna merah.


Terima kasih, Allah.


****


Aku mencoba meminta pertolongan kepada ibuku. Semoga ia bisa membantu dengan bersedia memberiku hutang beras dan kebutuhan lainnya.


Tak ada rasa jera ataupun kapok atas perlakuan ibuku. Bagaimanapun, dia adalah seorang wanita yang melahirkan ku. Apapun kesalahannya aku bisa melupakan dan memaafkan kesalahan ibu.


Di teras rumah ibu ....


"Assalamualaikum, Bu."


"Waalaikum salam ...,"


Wanita paruh baya itu ke luar. Menuju teras warung.


"Kamu? Sudah pulang ya," kata ibu.


"Sudah, Bu." Aku tersenyum kikuk. Jika mengingat perlakuan ibu aku marah besar. Ia dengan tega telah membohongiku.


Aku anakmu Bu, bukan orang lain. Kenapa jarak kita seperti dibatasi?


Aku ingin kau peluk, Bu.


"Terus mau ngapain ke sini?"


Ibu seolah-olah sibuk membersihkan warungnya.


"B--boleh kah, Laras ngambil beras dulu sama kebutuhan lain?"


Mata ibuku melotot dan bilang, "Enak saja! Mana suamimu itu? Harusnya, dia kerja anak istri dinafkahi,"


"Laras mohon, Bu ...," ucapku mengiba.


Ibu tak bergeming.

__ADS_1


__ADS_2